Archive for the ‘To Liong To’ Category

To Liong To versi 2009 (Deng Chao, Ady An, Liu Jing)

Alur Cerita 4/5

Alur yang sangat setia pada novel, bagaimanapun mempunyai kelebihan tersendiri. Itulah yang dimiliki 2009.  Hampir semua dialog dan detail penting mengikuti novelnya. Karena alur novel sudah hasil kerja keras pengarang Jin Yong yang memasukkan detil logika dan dipertimbangkan matang, maka alur versi 2009 inipun relatif minim kelemahan. Kalaupun ada, di beberapa adegan  dialog yang di novel begitu asik, tetapi pas di filmkan agak terkesan terlalu panjang dan bertele-tele. Sedikit improvisasi ritme mungkin akan menjadikannya lebih baik.

Tapi…. ada tapinya nih. Saking setianya pada novel, akhir cerita  juga mengikuti revisi terakhir Mbah Jin Yong yang memang kurang disukai penggemarnya.  Jadi, walaupun relatif bagus dan memukau, siap-siap dengan ending yang garing..  bisa dibilang ini salah satu ending terburuk dari semua versi,  dan…. salahkan pengarangnya yang merevisi :)

Heaven Sword & Dragon Sabre 2009, memanjakan penggemar wuxia dengan penggambaran jurus yang dahsyat

Penokohan dan akting 3.5/5

Ada kelebihan dan kekurangan.  Sekarang bicara kelebihannya. Thio Bu Ki dan Tio Beng sangat memuaskan, akting mereka ‘subtle’ alias samar, tidak terlalu dibuat-buat tapi malah kerasa emosinya.  Kalo ada yang nuduh mereka gak bisa akting, mungkin itu karena mereka biasa nonton tokoh dengan ekspresi yang ekstrim ala sinetron: nangis harus mewek, marah harus manyun. Hehehe.

Hoan Yauw, Elang Alis Putih, Thio Sam Hong, 2 Tetua Tapak Xuan Ming, Song Ceng Su, Tan Yoe Liang, Singa Emas, semua menampilan karakter pendekar/penjahat yang kerasa hebatnya, liciknya atau seremnya. Tokoh-tokoh Sekte Ming yang ada uncur kocak seperti Biksu Kantung dan Kelelawar Hijau juga berperan penting dan bukan sekedar sampingan pendukung drama, tetapi merekalah elemen wuxia itu sendiri. 7 Pendekar Butong,  cukup baik walau persaudaraannya masih kalah dengan Versi 86. Yo Put Hui, kayaknya ini the best Yo Put Hui. Secara tampang sangat cocok menggambarkan ia usianya jauh lebih muda dari Bu Ki, akting dan kemistrinya dengan In Li Heng juga sangat baik.

Siao Ciao,  akting dan kemistrinya dengan Thio Bu Ki cukup baik . Cukup mewakili bila ia dibilang yang tercantik di antara semua, tetapi, wajahnya sangat jauh dari campuran Persia, malah hidungnya rada pesek dan hanya matanya yang diberi contact lens biru sebagai elemen “Persia”. Agak maksa sih. Bajunya juga agak mewah dan ribet untuk seorang pelayan. Tapi kelebihannya,  di sinilah tokoh Siao Ciao terlihat memimpin pasukan Sekte Ming dengan formasi 8 trigrams.  Fakta di novel yang jarang ditampilkan, bahwa Siao Ciao sebetulnya cerdas dan ilmunya tinggi, tenaga dalamnya malah di atas Tio Beng.

Siao Ciao memimpin anggota Sekte Ming melawan prajurit Dinasti Yuan, membentuk formasi dan melindungi petingginya yang terkena racun dari pedang langit palsu Tio Beng.

In Lee, tokoh yang seharusnya menyedihkan, menurut saya di sini justru malah agak  ‘annoying’, menggangu banget,  teriak-teriak berisik. Agak kurang sreg dengan muka rusaknya yang ditutupi bunga, malah membuang rasa iba dan mengurangi kesan tragis.  Seharusnya kalau memang digambarkan mukanya rusak ya rusak aja,  nanggung sekali. Thio Cui San dan In So So-nya tidak buruk tetapi kurang berkesan.  Ciu Cie Jiak sangat keren saat pertempuran terakhir, selebihnya kurang. Biat Coat yang cantik, sesuai gambaran bahwa ia masih keliatan sisa kecantikannya masa muda, tapi judes kayak nenek sihir.

Tata artistik dan Sinematografi 5/5

Pengarang Trilogi Rajawali, Jin Yong, pernah bilang, kalau ada yang menggarap novel  saya seserius 3 Kingdoms dan Water Margin, akan saya kasih royalti murah, cuma 1 Yuan. Rupanya Jin Yong memang sudah mendambakan karyanya digarap serius oleh sang produser 3 Kingdoms & Water Margin, yaitu  Zhang Ji Zhong (ZJZ).

Suasana adegan ulang tahun ke-100 Thio Sam Hong, dihadiri banyak orang dunia persilatan

Jin Yong memang tidak salah pilih. Dalam To Liong To versi 2009 ini, ZJZ membuat adegan pertemuan Partai Pengemis yang berlangsung di alam terbuka di tebing besar, lengkap dengan tambur-tambur raksasa yang kemudian dipakai Bu Ki dan Tio Beng bersembunyi di dalamnya, sangat sesuai novel sekaligus keren, indah, mencekam.

Semua adegan di perguruan Butong juga  dilaksanakan di biara  Gunung Butong betulan, menambah kesan kejayaaan dunia persilatan di masa lalu. Penggunaan kuda-kuda dalam berbagai perjalanan melukiskan bahwa jarak antar tempat memang jauh dan makan waktu, bukan seperti jarak antar studio yang suka tiba-tiba nongol sembarangan. Anggota-anggota Sekte Ming yang memang jumlahnya ratusan dan terdiri dari banyak prajurit semuanya diwujudkan dengan seksama, bukan malah memangkas adegan jadi cuma 2 orang saja yang ikut pertemuan, misalnya, seperti di versi 2003.  Pulau Api dan Es memang betulan diselimuti salju.  Lembah Kupu-kupu tempat Thio Bu Ki belajar pengobatan, berperahu bersama Yo Put Hui,  aduhai indahnya. Singkat kata, penggambaran suasana megah di sini memang sangat baik dan mendukung ceritanya.

Soundtrack 3/5

Suasana wuxia mampu dihadirkan oleh insert song dan musik latar, walau tidak ada lagu yang memorable seperti tahun 80an. Lagu pembuka oleh Deng Chao cukup oke,  lagu penutup oleh Ady An kurang.

Aspek Wuxia 5/5

Kalau mau lihat jurus-jurus hebat yang dideskripsikan di novel, di versi inilah penggambaran terbaiknya. Salut dengan produser/sutradara yang begitu niat menggambarkan setiap detil kata-kata dalam novel itu dan menuangkannya dalam pertempuran unik dan  seru.

Sebagaimana kita tahu, To Liong To ini mempunyai banyak klimaks pertempuran dahsyat yang bikin seru dan geregetan:

  • Pertempuran di puncak Guang Ming, saat Bu Ki muncul pertama kali membela Sekte Ming.
  • Kedatangan rombongan Tio Beng ke Butong, Bu Ki pertama kali mempraktekkan ilmu Tai Chi melawan jagoan-jagoan Tio Beng.
  • Penyelamatan tokoh 6 perguruan yang di sandera di Kuil Wan An yang terbakar .
  • 3 Utusan Sekte Ming Persia melawan Bu Ki di Pulau Ular.
  •  Pertemuan Membunuh Singa, yang terdiri dari banyak pertarungan antara Bu Ki, Sekte Ming melawan 3 Biksu Shaolin, Ciu Cie Jiak unjuk cakar tulang putih, bekerjasama dengan Bu Ki bertempur siang malam lawan 3 Biksu, serta kelihaian Nona Baju Kuning menunjukkan ilmu 9 Yin sejati.

Bu Ki mempraktekkan ilmu pedang Taichi melawan anak buah Tio beng di gunung Butong

Adegan-adegan di atas, penggambaran terbaiknya ada di versi 2009.  Apakah tidak kebanyakan spesial efek? Menurut saya, spesial efek di sini bukan digunakan untuk menutupi kelemahan aktor yang tidak bisa silat, tetapi justru menjabarkan kehebatan pertempuran di dalam novel.

Harap diingat bahwa setting jaman Dinasti Yuan ke belakang, memang masih banyak ilmu-ilmu sakti yang agak berbau fantasi, tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh yang bak tingkat dewa. Makin modern, ilmu itu makin punah, makanya berbeda dengan jaman  Wong Fei Hung dan Fang Se Yu yang tidak butuh banyak spesial efek karena tidak ada unsur ‘ajaib’  seperti adu tenaga dalam dsb. Jadi kalau To Liong To dijabarkan cukup dengan silat murni tangan kosong tanpa spesial efek, ya kurang sesuai juga.

Ciu Cie Jiak menggunakan senjata cambuk seperti di novelnya, disaksikan Nona Baju Kuning dan Ketua Kaypang termuda

Gerakan-gerakan yang di novel agak mustahil dan susah dibayangkan, seperti gerakan aneh 3 Utusan Persia, gerakan Cie Jiak yang luar biasa cepat dengan cambuknya, adu tenaga dalam, kemudian ilmu Memindahkan Langit dan Bumi Thio Bu Ki yang meminjam tenaga plus gerakan lawan untuk menghajar lawan, visualisasinya luar biasa di sini. Memang sudah sepantasnya film yang dibuat tahun 2009 mengalami peningkatan visual dari 80an. Selain koreografi silat yang memukau, aspek wuxia di sini amat baik karena seperti yang saya sebutkan, tokoh pendekar dan penjahat kelihatan aura pendekarnya atau kejahatannnya, yang membuat kita kagum atau ngeri.

To Liong To 2003 (Alec Su, Alyssa Chia, Gao Yuanyuan)

Alur cerita,

Kekuatan cerita To Liong To adalah unsur misteri dan suspensenya. Tetapi alur cerita versi 2003 ini malahan gamblang memperlihatkan siapa sebenarnya para pelaku kejahatan, yang justru di novel dan versi lainnya merupakan unsur misteri. Seng Kun, si biang kerok yang seharusnya misterius, diperlihatkan tertawa jahat menghadap kamera sejak awal melancarkan aksinya.  Ulah Ciu Cie Jiak yang seharusnya merupakan kejutan juga diungkapkan gamblang berikut omongan dalam hati dan muka jahat yang sungguh membikin saya il-feel. Seperti menonton sinetron Indonesia yang tak membiarkan penontonnya mikir, semua diceritakan.

Beberapa urutan adegan yang dibolak-balik dari novel aslinya malah kehilangan logikanya. Seperti Thio Bu Ki yang sudah menemukan kitab 9 Yang dan ilmunya hebat tapi masih kalah kena ditipu keluarga Chu yang ilmunya tak ada apa-apanya. Padahal seharusnya Thio Bu Ki masuk jurang saat dikejar keluarga Chu dan menemukan Kitab. Masih banyak lagi logika wuxia yang tidak masuk akal karena adegan-adegan tambahan.

Cerita tambahan tentang Tio Beng yang dinikah paksa sungguh sangat berbau sinetron dan dibuat-buat. Sebetulnya, alur cerita memang tidak harus sesuai novel, improvisasi oke saja asal itu  menguatkan karakter dan konsisten sesuai logika. Tapi disini penambahan justru membosankan dan melemahkan alur.

Namun, sudut pandang yang serba tahu ini ada sedikit sisi bagusnya karena beberapa hal yang di novel hanya diceritakan lewat mulut,  di versi ini dijabarkan dalam adegan.  2.5/5 untuk alur/plot

Penokohan dan akting.

Alec Su bersama pemeran Ciu Cie Jiak, Tio Beng, Siao Ciao dan In So So. Pemeran-pemeran wanita yang tak sekedar cantik tetapi aktingnya cukup lumayan, adalah penyelamat versi 2003 ini

Selain Tio Beng, tokoh-tokoh yang diperankan cukup baik adalah In So So,  Siao Ciao, In Lee.  Phyllis Quek sebagai In So So lebih memorable daripada versi 2009. Perempuan cerdas tegas sedikit kejam namun keibuan, tergambar dengan baik.  Awalnya saya ragu melihat Florence Tan sebagai Siao Ciao, ia cantik,  tetapi rasanya tidak cukup untuk Siao Ciao yang dilukiskan dalam novel memiliki kecantikannya campuran Persia dan Cina dan paling cantik di antara cewek-cewek Bu Ki lainnya. Namun akting dia sangat baik dan chemistry dengan Thio Bu Ki juga sangat bagus. Chen Zihan sebagai In Lee, cukup menyedihkan sesuai karakternya.

Thio Bu Ki kecil, walau secara umur agak ketuaan, tapi aktingnya sangat jauh lebih baik daripada kebanyakan tokoh-tokoh pria dewasa di sini.  Semua penokohan yang kurang memuaskan justru pada tokoh pendekar kharismatik atau penjahat hebat yang seharusnya membikin kita ngeri. Di sini  sama sekali tidak terasa ‘greget’nya.  Tetua Tapak Es/Xuanming, yang harusnya 2 kakek sakti berilmu tinggi, gak ada serem-serem saktinya dan malah tampak muda dan konyol. Peran tokoh-tokoh Sekte Ming seperti Elang Alis Putih yang kungfunya tinggi, Hoan Yauw yang selagi mudanya dijuluki dewa dan sangat tampan namun mencoreng wajah,  malah terkesan asal. Yang lumayan Kelelawar Hijau . Namun porsi adegannya banyak dikurangi. Kelelawar Hijau dan Yo Siauw malah tak ikut di adegan inti di Shaolin. Seng Kun sangat muda, padahal ia kan guru Singa Emas yang sudah 70 tahun, aktingnya pun sinetron banget. Pendekar-pendekar Butong juga tidak lengkap, Ji Tay Giam sang korban cacat yang harusnya tegar malah dibuat cengeng. Ada pula adegan tambahan In Li Heng mengusir Put Hui.. sangat melemahkan karakter pendekar In Li Heng. Pokoknya akting-akting yang melibatkan kegagahan pendekar yang bikin merinding atau keangkeran penjahat yang bikin ngeri, sama sekali gak masuk di sini.  Nilai 3/5

Tata artistik dan sinematografi

Bisa dibilang ini terburuk, karena sebagai produksi tahun 2003 harusnya bisa memberikan kelebihan signifikan dibanding produksi 70-80-90an. Syuting di Cina sama sekali tidak memanfaatkan pemandangan Cina yang bagus. Pemilihan tempat-tempat sangat seadanya. Kostum lumayan baik, tetapi make up sangat buruk. Lihat Ciu Cie Jiak dan Tetua tapak Es yang hancur banget. Banyak pemeran wanita terlihat lebih cantik saat menyamar jadi pria tanpa make up, ini bukti kelemahan kru make up. Pernikahan Ciu Cie Jiak- Thio Bu Ki yang seharusnya dihadiri banyak sekali orang dunia persilatan, malah seadanya 20 orang.  Terkesan malas-malasan membuat setting yang sedikit lebih ‘wah’ dan terkesan pertemuan pendekar sungguhan. Kalah jauh dengan produk-produk tahun 70-80an yang walaupun masih terbatas segi teknologi dan syuting di studio tapi masih kelihatan ada usaha membuat tata artistik yang mendukung cerita.  Nilai 2/5

Soundtrack 2.5/5

Ada 2 tipe soundtrack yang ditujukan untuk penonton Taiwan dan Cina. Versi yang ditayangkan di Indonesia adalah Taiwan. Apakah soundtracknya enak didengar? Ya, enak. Apakah cocok dengan nuansa wuxia? tidak. Hanya seperti lagu pop biasa yang dinyanyikan Alec Su, tidak ada nuansa pendekar. Untuk versi Cina masih lebih mendingan dan kerasa elemen wuxia-nya, ini pula yang dipakai untuk insert song di beberapa adegan.

Aspek wuxia 1/5

Inilah To Liong To dengan aspek wuxia terburuk! Adegan-adegan silat yang seharusnya seru mencekam, digarap sangat seadanya. Tidak jelas siapa memukul siapa, banyak  ledakan, asap, debu, sinar-sinar, dan…. tahu-tahu selesai!  Beberapa adegan yang harusnya dinanti-nanti seperti pertandingan pendekar-pendekar gagah dari Sekte Ming dengan keahlian uniknya, bertanding dengan 3 Biksu Penjaga, malah sama sekali dihilangkan! Diganti dengan adegan Singa Emas melarang mereka bertempur, dan batal. What? apa-apaan ini? Hehehe…

Adegan perang dan perundingan dengan 3 Utusan Persia juga terkesan main-main.  Karena malas membuat adegan pertempuran antar kapal, malah diganti dengan tenda dan banyak mengabaikan logika.  Dampaknya, perpisahan Thio Bu Ki dan Siao Ciao yang seharusnya mencekam dan sedih karena rombongan Persia memakai kapal dan berlayar menjauh meninggalkan Bu Ki, malah tidak ada. Ilmu Gada Api Suci yang merupakan bagian terakhir ilmu Membalikkan Langit dan Bumi yang diterjemahkan Siao Ciao dari bahasa Persia untuk Bu Ki, sama sekali tidak disinggung.

Yang lebih ngaco belo,  di sini Song Ceng Su menguasai 18 Tapak  Naga! Sebetulnya melenceng dari novel tak apa, tapi kalaupun melenceng jangan mengabaikan logika wuxia.  Bagaimana tidak, di novelnya, 18 Tapak Naga adalah ilmu andalan Kwee Ceng yang sangat butuh tenaga dalam tingkat tinggi, bahkan Thio Sam Hong – kakek guru Song Ceng Su- mengakui tenaga dalam Kwee Ceng masih di atasnya. Nah bagaimana pula Song Ceng Su malah bisa nguasain 18 Tapak Naga, mati pula di tangan Cie Jiak yang cuma punya ilmu cakar tengkorak? Sungguh penghinaan terhadap Kwee Ceng nih, ketauan produsernya emang gak suka wuxia dan hanya senang drama ala sinetron… heheheh… lagian,  masa anggota Partai Pengemis yang notabene leluhurnya menguasai ilmu itu tidak ‘ngeh’? 

Peperangan? Jangan harap ada adegan peperangan. Dalam dunia Versi 2003 ini, semuanya seperti bohong-bohongan. Dahsyatnya Sekte Ming yang punya banyak anggota dan tokoh-tokoh unik dan gagah, tidak berusaha ditampilkan. Mungkin malas mencari pemeran figuran tambahan. Pasukan Mongol yang mengepung Bu Ki cuma beberapa orang dan panah-panahnya keliatan karet. Tio Beng berapa kali mengancam bunuh diri saat Bu Ki dikepung pasukan, adegan berulang yang terkesan murahan. Pasukan cuma sedikit dan seadanya gitu, gak usah pake Tio Beng ngancam juga gampang banget kalau Bu Ki mau mengalahkan.

Sangat memalukan dan mengecewakan untuk produksi tahun 2003. Saya bersyukur HSDS 2003 ini adalah karya wuxia pertama dan terakhir dari produser Luo Li Ping,  selanjutnya ia hanya menggarap drama. Bagus deh, daripada bikin malu, nanti dikiranya wuxia adalah sinetron. Hehehhe

To Liong To Versi 1986 (Tony Leung, Kitty Lai, Sheren Teng)

Versi 1986

Alur cerita, menurut saya ini lah versi dengan alur cerita terbaik! Mengapa? Karena ritmenya pas, tidak terlalu dipanjang-panjangin bagian yang tidak penting, juga tidak terlalu terburu-buru. Aspek kontinuitas, alur yang masuk akal juga tidak terabaikan. Satu lagi kelebihannya, inilah satu-satunya serial To Liong To yang memiliki adegan Kwee Siang bersama Thio Sam Hong muda. Porsi kilas balik Kwee Siang ini juga cukup pas, tidak terlalu panjang namun cukup untuk menguatkan ‘elemen wuxia’ pada cerita ini. Endingnya pun masih yang terbaik. Nilai 5/5

New Heaven Sword & Dragon Sabre 1986, alur yang pas, satu-satunya menampilkan Kwee Siang, serta ending yang bagus.

Penokohan dan akting.

Satu yang memberi nilai plus pada versi ini adalah, pembuatnya sadar bahwa kisah To Liong To tidak hanya soal cinta segi banyak Thio Bu Ki dengan Tio Beng dan 3 wanita lainnya. Tetapi banyak karakter pendukung yang tak kalah penting. Tokoh-tokoh dengan karakter kuat seperti  Thio Sam Hong yang bijak, Yo Siauw yang gagah tampan, Hoan Yauw yang mukanya rusak, pura-pura gagu tapi masih kelihatan kharisma dan sisa ketampanannya. 7 Pendekar Butong bukan hanya pelengkap, tapi masing-masing karakternya cukup mendalam. Thio Cui San dan In So So, menurut saya inilah pasangan ortu Thio Bu Ki terbaik dari semua versi. Chemistry mereka begitu terasa natural.. gagahnya Cui San dan kenes-judesnya In So So, adegan-adegan di Pulau Es dan Api yang sederhana namun tidak vulgar, bikin kita nangis bombay pas tiba adegan bunuh diri mereka. Dan dalam versi ini adegan bunuh diri mereka adalah yang  terbaik dari semua versi. Percintaan Bu Ki dengan 4 orang wanita juga kerasa semua chemistrynya . Pengorbanan Thio Beng yang sebetulnya amat mencintai keluarganya sangat kelihatan di sini, tidak terkesan asal-asalan ninggalin keluarga untuk senang-senang sama Bu Ki seperti di versi 2003. Nilai 4/5

Tata artistik dan sinematografi

Ini memang produksi jadul, tetapi kenapa saya memberikan nilai tinggi, karena dalam keterbatasan produksi murahan dalam studio, pembuatnya masih berusaha memberikan hal terbaik dan tidak terkesan asal-asalan.  Dari mulai pemilihan kostum, suasana perang, suasana pertarungan, adegan Cui San dan So So terombang-ambing dalam rakit kecil dan pakaian compang-camping, semuanya walau terkesan jadul tapi sangat bisa diterima Nilai 3/5 .

Soundtrack 4/5

Juga sangat berkesan sebagaimana produksi HK-TVB 70-80an lainnya, berasa wuxianya dan bergaung di setiap kesempatan, sangat membekas. Tetapi masih kalah sedikit saja dibanding versi 1978

Aspek wuxia 4.5/5

Seperti yang saya bilang, selain pertarungan di versi ini sangat enak dinikmati karena terlihat jelas jurus dan gerakannya, tidak terlalu mengandalkan spesial efek. Aspek wuxia yang lain seperti persaudaraan dan dialog-dialog yang sangat filosofis, kerasa kental disini. Persaudaraan pendekar Butong, terbaik ada di sini. bagaimana Pendekar Song Wan Kiauw menangis mengingat Song Ceng Su yang mengkhianati dan hendak membunuhnya. Chemistry antara Thio Sam Hong si kakek guru yang bijak berpandangan luas dengan Thio Bu Ki sang cucu, juga sangat bagus. Dialog Thio Bu Ki yang mempertanyakan nilai perbuatannya meninggalkan partai dan negara demi seorang Tio Beng, sangat baik untuk penutup.

To Liong To 1978 (Adam Cheng, Liza Wang, Angie Chiu)

Versi 1978

Inilah To Liong To versi paling pendek, hanya 24 seri. Sebetulnya pendek bukan halangan bila alurnya proporsional. Tetapi di TLT 78 ini, bagian awal dari kisah Thio Cui San sampai Thio Bu Ki besar, terlalu panjang, sedangkan bagian lain malah terkesan terburu-buru. Untuk alur cerita saya nilai 3/5

Heaven Sword & Dragon Sabre 1978/79, cukup oke untuk jamannya

Penokohan dan akting, cukup baik untuk Thio Bu Ki, Cie Jiak dan Tio Beng. Yo Put Hui dan Kee Siao Hu diperankan orang yang sama. Singa Emas juga cukup oke diperankan aktor Se Cien yang sering main jadi tokoh antagonis di film Bruce Lee. Kalau anda ingat si buta Kwa Tin Ok guru Kwee Ceng di versi 83, dialah yang memerankan Seng Kun, dan cukup nyebelin. Yo Siauw oleh Wong Wan Choy, Auwyang Hok di LOCH versi 83 dan salah satu murid Butong di versi TLT 86. Idy Chan sebagai Siao Ciao masih kurang matang aktingnya karena ini film pertamanya. Singkatnya untuk casting sangat lumayan pas secara wajah/karakter, akting pun lumayan oke walau kurang digali karena pendekanya serial ini. Penokohan/akting, nilai 3/5

Tata artistik dan sinematografi. Wah, sebetulnya gak adil sih membandingkan produk tahun 70an dengan yang baru.. Maka walau gambarnya burem, adegan di studio, saya tetap memberikan penilaian 2.5/5 karena untuk ukuran jaman itu masih bisa dinikmati.

Soundtrack : 5/5 !! Lagu tema To Liong To versi ini yang dinyanyikan Adam Cheng benar-benar membekas dan cocok kerasa wuxia-nya. Khas produksi TVB tahun 70-80an, dikomposisi dengan baik hingga masuk ke segala suasana, aransemen yang tidak terlalu nge-pop hingga pas dengan suasana kuno, tidak seperti banyak lagu tema produksi sekarang yang sangat nge-pop.

Aspek Wuxia : 3.5/5

Walau hanya 24 seri dan produk jadul, tetapi menurut saya aspek wuxia disini cukup baik dan cukup niat menggarapnya. Tokoh-tokoh Sekte Ming yang unik-unik semua diceritakan, peperangan walau seadanya dibuat adegannya, serta persaudaraan pendekar Butong lumayan keliatan. Adegan silatnya malah cukup bagus karena tidak mengandalkan spesial efek, walau jadi kelihatan kurang sakti, tapi semua gerakan kelihatan dan enak dilihat.

Aspek Wuxia – To Liong To versi manakah yang terbaik?

Dari ke-6 versi serial To Liong To / Heaven Sword & Dragon Sabre yang sudah saya tonton, manakah yang menurut saya terbaik? Penilaian ini tentu bisa sangat subyektif dan relatif pada tiap orang, ada yang senang 2003 semata-mata karena suka Alyssa Chia, atau pokoknya senang 1986 karena itulah yang pertama ditonton dan yang berkesan.

Menurut saya sendiri, dalam menilai baik-tidaknya serial wuxia, selain  berdasarkan alur cerita, penokohan dan akting, tata artistik dan sinematografi, soundtrack dan hal-hal lain yang biasa sebagai penilaian suatu film, ada 1 hal lagi yang sangat saya pertimbangkan, yaitu:

“Aspek wuxia”

Inilah yang membikin wuxia berbeda dengan cerita drama cinta biasa. Kita boleh terpukau oleh cerita cinta, tetapi kalau suatu wuxia hanya fokus di cerita cinta, namanya bukan wuxia. Adegan silat harus digarap serius.  Tetapi jangan salah,  adegan silat yang keren tentu tidak cukup kalau emosi kita tidak melekat pada karakter yang sedang bertarung. Seperti hanya melihat pertarungan yang indah tapi sebenarnya kita tidak peduli pada tokoh yang bertarung. 

Oleh karena itu aspek wuxia selain soal adegan silat atau peperangan, penggambaran ilmu-ilmu silat yang memukau,  ada juga  nilai-nilai seperti persaudaraan, kesetiakawanan, sikap ksatria,  melawan kemunafikan. Penjahat yang beneran serem jahat keliatan jahatnya, gak asal-asalan. Ruh wuxia ini tidak cukup hanya dituangkan dalam adegan pertarungan tetapi juga dalam dialog dan penokohan karakter.  Seringkali dialog-dialog filosofis yang menunjukkan sikap satria ala pendekar,  persaudaraan, menepati janji, melupakan dendam, menghargai kejujuran, mendahulukan kepentingan orang, inilah justru yang bikin saya merinding nonton wuxia, yang tidak saya dapatkan di drama cinta biasa. Apabila tokoh-tokohnya berkarakter kuat,  kita bisa jadi sedih beneran pas dia meninggal. Begitu juga tokoh-tokoh berkarakter  kejam yang melanggar aturan-aturan kebaikan, bisa bikin kita merindeing serem beneran. Bila suatu film berhasil membangkitkan emosi dan ketegangan melalui aspek-aspek wuxia ini, itulah yang menurut saya paling baik. Disinilah penilaian tertinggi saya berikan untuk versi yang bisa menampilkan aspek wuxia secara tepat.

Manakah yang berhasil menampilkan aspek alur cerita, penokohan dan akting, tata artistik dan sinematografi, soundtrack serta aspek wuxia secara tepat? Berdasarkan penilaian semua aspek diatas,  berikut ini urutan dari yang terbaik sampai yang terburuk, menurut saya.

Silakan klik lebih lanjut untuk pembahasan masing-masing versi:


Ciu Cie Jiak (Zhou Zhiruo) – berbagai versi adaptasi

Inilah tokoh paling ‘kompleks’  dalam Trilogi Rajawali. Dalam Trilogi banyak tokoh kejam yang ternyata punya sisi baik, tapi tak banyak tokoh baik-baik dan lembut yang ternyata ada sisi psikopat, seperti Ciu Cie Jiak ini. Dalam novelnya sendiri tidak begitu gamblang dikisahkan titik balik yang membuat Ciu Cie Jiak  tega berbuat keji, apakah cemburu atau ambisi, sebab kejadian di Pulau Ular semua diceritakan dari sudut pandang Thio Bu Ki yang tak tahu apa-apa.

Ciu Cie Jiak / Zhou Zhiruo, tokoh ‘psikopat’ cantik yang mengejutkan

Dari percakapan-percakapan di novel dengan Thio Bu Ki, terlihat Cie Jiak tertarik dengan ide menjadi istri Kaisar bila Bu Ki berhasil menggulingkan Dinasti Yuan, saya menyimpulkan bahwa ambisinya Cie Jiak ini disebabkan ia korban ‘bully’ yang selalu menurut dan mengalah, namun sebenarnya jiwanya tertekan dan bosan menjadi orang tertindas. Ayahnya yang hanya seorang tukang perahu dibunuh prajurit di depan matanya saat kecil. Walau diberi amanat Ketua Gobi karena sifatnya yang penurut dan pintar serta berkemauan keras, tetapi gaya didikan gurunya amat gila dan menekan, belum lagi kakak seperguruannya Teng Bin Kun  hobi mem’bully’ Cie Jiak.  Ibarat korban kekerasan emosi dalam rumah tangga, beginilah hasil didikannya.

Cie Jiak mencintai Bu Ki, namun merasa kalah bersaing dengan tuan puteri Tio Beng yang menurutnya sendiri lebih pintar, lebih cantik, lebih agresif. Plus, sifat Bu Ki begitu mencla mencle memberi harapan pada tiap wanita.  Tekanan demi tekanan  membuatnya seperti memberontak dengan menikam pelan-pelan, ingin mewujudkan ambisinya

Angie Chiu Ngar Chi – Ciu Cie Jiak paling cantik!

mendapatkan cinta Thio Bu Ki sekaligus menjadi wanita pesilat tangguh yang memimpin partai.

Karena kerumitan sifat Cie Jiak ini, menurut saya ini tokoh menarik yang paling susah diperankan. Di awal harus terlihat sangat cantik suci lugu dan pemalu, kemudian pelan-pelan bertransformasi menjadi kejam dan dingin. Belum ada yang paling pas memerankan karakter ini dengan sangat memuaskan, tapi kita liat aja satu-persatu:

1.Versi 1978 – Angie Chiu

Dialah Ciu Cie Jiak tercantik, menurut saya. Secara wajah dialah yang paling cocok  memerankan gadis muda cantik pintar lembut dengan senyum malu-malu. Angie Chiu, memang  salah satu aktris tercantik pada jamannya. Namun sayangnya, saat memerankan Cie Jiak yang bertransformasi jadi dingin dan kejam, dia kurang meyakinkan, malah tetap lembut memelas. Rasanya saya lebih baik Bu Ki dengan dia daripada dengan Tio Beng :)

2. Versi 1984 – saya belum nonton

3. Versi 1986 – Sheren Tang Chui Wen

Jujur aja saya gak suka sama aktris yang satu ini. Baik wajahnya maupun kelakuannya. Menurut saya, Sheren kurang cantik sebagai Cie Jiak. Tapi, lagi-lagi kemampuan akting mengalahkan segalanya. Setelah menonton berbagai versi Cie Jiak yang lebih baru, saya justru nyadar bahwa akting Sheren lah yang lebih baik dan tidak berlebihan. Pandangan mata malu-malu dan lugu di awal, kemistri dengan Tony Leung, pas banget. Dan yang terpenting, saat menjadi wanita kejam, ia tidak berlebihan melotot marah seperti yang dilakukan artis lainnya. Ditunjang dengan make up yang pas dan wajar, tidak perlu keluar kuku tajam dan riasan mata gothic kayak versi 2003 atau 2009. Justru aura getir, anggun, dingin tak berperasaan sangat pas lewat ekspresi samar namun wajar  Sheren Tang.

Versi 1993 – Gigi Lai

Tidak bisa diperbandingkan dan dinilai sebagai karakter Cie Jiak karena di film ini karakter Cie Jiak sangat menyimpang dari novel yang saya jabarkan  di atas.

Versi 1994 – Kathy Chow

Kahty Chow, cantik dan cukup bagus pas lagi jahat

Nah ini juga disebut-sebut sebagai Cie Jiak terbaik, karena kecantikan dan aktingnya. Tapi menurut saya walau ia lebih cantik dari Sheren Tang, tapi kemampuannya menterjemahkan sifat Cie Jiak tidak lebih baik dari Sheren. Di awal-awal, ia sedikit terlalu ekspresif dan bukan terkesan malu-malu seperti dilukiskan di novel. Walau wajahnya amat mendukung, namun gesturenya kurang lembut. Namun saat menjadi jahat,  justru aktingnya lebih menarik dan memukau.
Versi 2000 – Charmaine Shieh

Charmaine Shieh, Ciu Cie Jiak yang paling gak asil dari segi wajah dan akting

Hmm, gimana ya. Ini juga bukan artis favorit saya, secara tampang maupun akting. Menurut saya mukanya terlalu datar tak berekspresi dan kurang bisa berakting… hehe. Saya berapa kali melihat Charmaine Shieh di beberapa film lain dan ekspresinya selalu begitu-begitu saja dan tidak mempu menghidupkan karakter apapun. Begitu juga saat ia menjadi Ciu Cie Jiak ini. Mungkin saya agak subyektif di sini. Abis dengar-dengar dia ngemis sama mbah Jin Yong minta memerankan Bibi Lung…waduh, untung gak dikasih :)

Versi 2003 – Gao Yuanyuan

Gao Yuanyuan begitu cantik, kalau lihat foto-fotonya di film lain, dia memliki kecantikan sederhana dan klasik yang memukau.  Lihat saja di iklan kosmetik yang dibintanginya. Seharusnya ia pantas sebagai Cie Jiak.  Sayang sungguh sayang,entah kenapa aura cantik Gao Yuanyuan malah kurang keluar di film ini. Entah make up yang salah atau apa, tetapi Ciu Cie Jiak yang diperankan Gao Yuanyuan dari awal sudah terlihat cemberut, bingung, membosankan,

Gao Yuanyuan, kadang-kadang tampangnya cemberut gak jelas

bukan lembut pemalu, gak keliatan kharismanya. Ditambah skenario yang dari awal sudah menunjukkan bahwa Cie Jiak lah pelaku kejahatan, jadi tidak ada misterinya. Adegan-adegan ia ngomong dalam hati dengan muka jahat sungguh bikin il-feel, jadi seperti sinetron. Nah yang agak mendingan justru aktingnya dengan Thio Bu Ki setelah peristiwa Pulau Ular, ketika ia menjadi tunangan Bu Ki,  malah kelihatan pesona Cie Jiak dan senyumnya yang manis. Tetapi selanjutnya setelah ia total berubah menjadi jahat, ah lagi2 make up berlebihan yang menyebalkan patut disalahkan… :)

Versi 2009 – Li Jing

Li Jing, agak make up tua dan kurang berkesan

Li Jing ini terlalu datar sebagai Ciu Cie Jiak, salah satu yang kurang berkesan. Saat  masih lugu, ekspresinya lebih terkesan malas-malasan, bukan lugu lembut. Saat udah mulai jadi ketua, dandanannya bikin dia tampak lebih tua dari Bu Ki,  sanggulnya juga aduh mak kayak ibu-ibu mau kondangan.  Untungnya akting jahatnya dengan rambut tergerai malah sedikit lebih baik daripada akting lugunya. Sayang sekali dialah Cie Jiak yang sangat mudah terlupakan, di tengah nilai plus To Liong To versi 2009.

Jadi inilah urutan artis terbaik memerankan Ciu Cie Jiak:1. Belum ada… masih berharap ada yang pas :)

2. Sheren Teng

3. Kathy Chow, Angie Chiu

4. Gao Yuan Yuan, Li Jing

5. Charmaine Shieh

Tio Beng (Zhao Min) – berbagai versi adaptasi

Tio Beng (Minmin Temur)

Wanita satu ini dilukiskan sebagai sangat mempesona sekaligus kejam menakutkan. Ia diberi tugas ayahnya menumpas pemberontak dan membawahi banyak pesilat-pesilat tangguh karena kepiawaiannya berstrategi dan berdiplomasi. Dalam novel, disebutkan  “dibalik kecantikannya, terdapat hawa keangkeran dan kegagahan yang membuat orang hormat kepadanya”. Sifatnya dominan dan autoritatif namun juga penuh pengorbanan terhadap orang yang dicintainya yaitu Thio Bu Ki. Siapa yang paling pas memerankan tokoh wanita perkasa serba bisa ini?

 Versi 1979 – Liza Wang Min Cheun

Liza Wang, angkuh menggoda-nya oke, tapi gak keliatan pengorbanannya buat Bu Ki

Liza Wang sukses membawakan Tio Beng yang ‘angker’ namun menggoda.  Tio Beng selalu muncul di awal sebagai perempuan kejam yang penuh tipu daya, tetapi saat mengenal lebih dekat, ternyata ia  tidak se’jahat’ apa yang ia tunjukkan. Sayangnya, sisi Tio Beng yang penuh cinta dan ternyata rela berkorban demi Thio Bu Ki, tidak terlihat di sini. Akhir versi ini adalah sad ending karena Tio Beng hilang di jurang setelah Thio Bu Ki sadar gadis itu tidak bersalah terhadap apa yang dituduhkan kepadanya. Jadi tentu saja momen-momen ia menunjukkan cintanya pada Thio Bu Ki sangat kurang di versi ini, dan tidak ada kesempatan Liza Wang menunjukkan kemampuan aktingnya.

Versi 1984 – belum nonton :)

Versi 1986 – Kitty Lai Mei Han / Li Mei Shien

Kitty Lai, walau manis kayak gula tapi pas pake baju cowok bagus sekali

Habis nonton Liza Wang terus nonton Kitty Lai, wah kayaknya langsung ada peningkatan besar, karena Kitty Lai memberi dimensi lain pada karakter Tio Beng. Yang kurang dari Liza Wang adalah sisi-sisi ‘manis’ nya Tio Beng serta adegan yang menujukkan pengorbanan pada Thio Bu Ki, dan di versi 86 ini dibawakan dengan sangat baik oleh Kitty Lai.  Walau dalam hal menunjukkan  wanita powerful, mandiri dan independen, Kitty Lai masih kalah sedikit oleh Liza Wang, tetapi sangat lumayan dan bisa dinikmati. Ia tidak terlalu ‘pecicilan’ seperti Alyssa Chia dan cukup terlihat sebagai orang yang berpikir strategis. Apalagi, wajah Kitty -walaupun manis kayak gula, ternyata sangat  pantas saat menyamar jadi pria. Tak heran ia benar-benar berkesan di hati banyak pemirsa dan dalam sejumlah polling, Kitty Lai masih menjadi Tio Beng terfavorit.

Versi 1993 – Sharla Cheung

Sisi angker dan kejam namun menggoda, pas banget dibawakan oleh Sharla Cheung. Tetapi yah namanya juga film lepas, porsi untuk menampilkan sisi lain Tio Beng dan pengorbanannya terhadap Thio Bu Ki tentu tidak tereksplor dalam di sini. Satu lagi, wajahnya tampak berkesan tua dibanding pesaing-pesaingnya yang memainkan Tio Beng, jadi agak berkesan tante-tante dibanding Jet Li, padahal Tio Beng lebih muda dari Thio Bu Ki.

Versi 1994 – Cecilia Yip Tung

Cecilia Yip, Tio Beng yang ‘nggak banget’

Bukan salah Cecilia kalo penampilannya sebagai Han Wen di White Snake Legend membuat saya sangat il-feel nonton dia. Hehe.. Sebetulnya, saat menjadi In So So ia cukup oke. Tetapi Tio Beng? Waduh, ditunjang skenario versi 1994 yang agak didramatisir dan melenceng dari novel, Tio Beng satu ini jadi bener-bener Tio Beng yang melankolis dan kebanyakan nangis. Tidak ada wibawanya dan jauh dari sosok wanita mandiri dan independen. Adegan-adegan dengan Steve Ma  yang juga terlalu emosional sebagai Thio Bu Ki menambah kesan over dramatisasi dan jauh dari karakter percintaan Thio Bu Ki – Tio Beng yang dikisahkan di novel.

Versi 2000 – Gigi Lai

Gigi Lai, berusaha menampilkan sisi wibawa/angker-nya Tio Beng

Sebetulnya Gigi Lai berusaha untuk menghidupkan  karakter ‘angker, kejam’  Tio Beng yang kurang berani ditampilkan Kitty Lai dan Alyssa Chia. Tetapi entah kenapa, karakter angker ini menurut saya masih di bawah level yang ditampilkan Sharla Cheung, Liza Wang dan Ady An.  Sementara di sisi lain pesona  Gigi Lai juga masih kalah dengan Kitty Lai atau Alyssa Chia. Chemistrynya dengan pemeran Tio Bu Ki cukup oke tapi tidak terlalu memorable. Jadinya karakter Tio Beng di sini agak serba nanggung, ia memang membawakan semua dimensi tokoh Tio Beng, hanya aktingnya kurang matang.  Tetap saya sangat menghargai usaha Gigi Lai untuk berani mengambil resiko dengan menampilkan sisi kejam dan mandiri-nya  Tio Beng, ketimbang memilih jalan aman untuk bertindak kelewat imut seperti yang dilakukan Alyssa Chia.

Versi 2002/3 – Alyssa Chia/Jia Jing Wen

Alyssa Chia, aktingnya cukup menghibur

Sepertinya akting Alyssa adalah penyelamat To Liong To versi 2003 ini. Kelebihan Alyssa Chia adalah ia mempu menghidupkan sisi blak-blakan Tio Beng dengan sangat baik, kemistri dengan Alec Su cukup lumayan. Terlihat jelas kemampuan aktingnya di atas rata-rata pemeran-pemeran pendukung. Kekurangannya, seringkali ia keterusan berakting imut manja dan ‘trying so much to be cute’  alias terlalu nakal, playful dan cekikikan bahkan di saat-saat yang harusnya ia tegas berwibawa. Ditambah lagi banyak skenario tambahan konflik keluarga Tio Beng yang membuat ia marah merajuk seperti putri manja yang ngambek tak dituruti keinginannya. Kalau sudah begini karakternya jadi lebih mirip Oey Yong daripada Tio Beng.  Karakter Oey Yong adalah karakter yang enak dilihat dan mudah disukai (likeable), jadi penonton mungkin oke saja dengan improvisasi Alyssa tersebut, walau sebenarnya malah tidak mendekati karakter Tio Beng yang sesungguhnya. Namun demikian, To Liong To versi 2003 yang agak bergaya sinetron dengan adegan silat yang digarap seadanya, cukup terselamatkan dengan akting Alyssa Chia yang menghibur sebagai Tio Beng.

Versi 2009 – Ady An

Ady An, mampu memainkan semua dimensi Tio Beng dan emosi di segala suasana.

Kalau melihat wajah Ady An asli yang lembut imut dan ‘harmless’, rasanya sulit percaya ia justru mampu membawakan tokoh Tio Beng dengan sempurna: sangat pas porsi angker wibawa dan porsi lembutnya. Wajahnya kelihatan begitu muda, jadi sangat pas sebagai perempuan muda namun sudah pandai memimpin. Ini dia Tio Beng favorit saya, karena menurut saya ialah yang mampu membawakan anggun-wibawa-angker nya Tio Beng dengan sangat mempesona, tanpa kehilangan sisi lembut kewanitaannya. Simak saja ekspresi mukanya saat ia bersedih  dituduh Thio Bu Ki, terlihat bersit kekhawatiran dan minder karena ia adalah musuh Thio Bu Ki dan tidak mungkin bersama, tanpa terlihat cengeng.  Gaya bahasa tubuhnya saat ia sedang memerintah anak buah atau tidak sedang bersama Thio Bu Ki, sangat berbeda, jauh dari kesan anak nakal manja yang sedang main-main. Ya, pada dasarnya Tio Beng memang berwibawa dan lugas,  tapi hanya di depan Thio Bu Ki saja ia bisa bermanja-manja bahkan nakal menggoda.  Salut untuk Ady An dan juga sutradara Zhang Ji Zhong yang bisa mengarahkannya sebagai ‘the real Tio Beng’, wanita muda perkasa bak ratu yang rela mengorbankan kedudukannya demi Thio Bu Ki.

Kesimpulan, urutan akting Tio Beng terbaik berdasarkan deksripsi dalam novel, menurut saya:

1. Ady An

2. Kitty Lai

3. Alyssa Chia, Gigi Lai, Liza Wang, Sharla Cheung kurang lebih sama jika ditimbang kekurangan dan kelebihannya

4. Cecilia Yip

Thio Bu Ki (Zhang Wuji) – berbagai versi adaptasi

Saat To Liong To 2003 ditayangkan di Indosiar, saya hanya menulis  Sinopsis untuk beberapa episode saja di fan page PPR  di Facebook, jadi gak bisa bikin sinopsis di page ini.   Maka untuk To Liong To saya mencoba membuat tulisan lain, yaitu perbandingan karakter dalam berbagai versi. Penilaian ini bersifat sangat pribadi jadi boleh aja gak setuju :)

Thio Bu Ki

Versi 1979 – Adam Cheng

Adam Cheng Sao Chiu, menurut saya karena Adam Cheng masih muda waktu itu,  wajah dan postur tubuh sangat cocok dengan karakter Thio Bu Ki di dalam novel. Digambarkan dalam novel Thio Bu Ki lebih mirip ibunya, In So So, jadi mukanya memang bukan tipe gagah nan ganteng cowok buanget gitu, tetapi lebih ke muka sastrawan/kutu buku, cowok berperangai welas asih dan pemikir, gak terlalu menonjol dibanding orang-orang umumnya, makanya menyamar juga gak ketauan.  Jadi bukan kayak Kwee Ceng yang posturnya asli  gagah pendekar atau Yo Ko yang guantengnya tetep gak bisa ditutupi walaupun kucel – ini kata Kongsun Tit saat melihat Yo Ko pertama kali  :))

Eh, baiklah… kembali ke Adam Cheng. Walau ia cukup baik memerankan karakter Bu Ki yang selalu melihat sisi baik dan lama dalam mengambil keputusan, tetapi dalam hal chemistry dengan wanita-wanita yang mencintainya, di sini sangat kurang. Bisa jadi karena adegan yang menggambarkan itu tidak cukup banyak, karena ini serial To Liong To terpendek, cuma 24 episode. Sementara yang lain minimal 40 episode. Di sini chemistry paling keliatan justru dengan Ciu Cie Jiak, sementara Tio Beng tidak terlalu.

Versi 1984 – Liu De Kai

Sayangnya saya tidak bisa menilai karena belum nonton lengkap.

Versi 1986 – Tony Leung

Tony Leung, boleh jadi versi terpopuler dan paling dikenang. Wajah dan postur menurut saya juga cukup pas. Tony Leung muda memang cenderung cakep culun cowok baik-baik. Kelebihannya adalah chemistry dengan para wanita sangat pas , semua dimainkan sangat baik dan membuat kita percaya  Bu Ki memang suka pada semua wanita itu dengan cara yang berbeda, tetapi cintanya memang untuk Tio Beng. Nah kekurangannya, sisi Thio Bu Ki yang sebenarnya pintar dan pemikir, tidak kelihatan di sini. Sepertinya porsi sifat Bu Ki yang ‘ragu-ragu’ amat mendominasi ekspresi Tony Leung, bahkan pada saat ia harusnya jadi pemimpin, muka bengongnya Tony terlalu besar porsinya.

Versi 1993 – Jet Li

Sebenarnya kurang pas membandingkan versi film layar lebar dengan serial TV, sebab sudah jelas durasi film sebentar dan kesempatan mengeksplorasi tokoh kurang. Tetapi Jet Li menurut saya sangat cocok memerankan Thio Bu Ki. Gak perlu jadi cowok yang kelewat ‘lembek’ untuk memerankan Thio Bu Ki yang memang wataknya halus dan welas asih. Sebab Thio Bu Ki itu bagaimanapun seorang pendekar. Nah tau sendiri Jet Li kan kalo beradegan silat manteb, jadi aura pendekar dikombinasi dengan muka lugu yang terkesan tanpa ekspresi dan  tidak berpretensi, itulah menurut saya karakter Thio Bu Ki yang pas. Kalau seandainya Jet Li mau main serial TV, kayaknya seru juga, dimana hubungan persaudaraan dengan Sekte Ming/Beng Kauw dan hubungan cinta dengan 4 wanita dieksplorasi lebih dalam.

Versi 1994 – Steve Ma

Steve Ma, menurut saya jauh lebih bagus pada saat ia memerankan Thio Cui San. Tetapi Thio Bu Ki? Jelas ekspresinya terlalu berapi-api, kok malah karakternya malah  jadi kayak Yo Ko, ya? Yo Ko yang  ekspresif, dominan, tapi di satu sisi  sangat melankolis  dan emosional.  Dan itu sangat jauh alias berlawanan dengan sifat Bu Ki yang lebih ‘sumir’ alias subtle, datar, tidak terlalu ekspresif menggebu-gebu. Steve Ma di sini malah seperti orang yang kelewat galau dan emosional soal cinta, mungkin juga karena banyak adegan-adegan yang over dramatisasi dan gak sesuai novel.

Versi  2000 – Lawrence Ng

Sebenarnya akting Lawrence Ng cukup baik dalam berusaha memerankan karakter Wuji sesuai di novel. Tetapi menurut saya wajahnya sedikit terlalu kuat, tua, dan antagonis,  tidak sesuai dengan karakter Wuji.  Walau diimbangi dengan aktingnya yang lumayan, tetapi pemeran pendukung lainnya aktingnya kurang bagus hingga tak bisa menyalahkan Lawrence Ng sepenuhnya, karena adegan-adegan interaksi dengan tokoh lain malah kurang memberi kesempatan  dia mengembangkan karakter.  Mungkin skenarionya juga kurang bagus.

Versi 2003 – Alec Su

Alec Su, lumayan sebagai Bu Ki. Nah ini kebalikan dari Steve Ma. Alec Su juga berperan ganda sebagai Thio Cui San  dan Thio Bu Ki, tetapi ia lebih sukses sebagai Thio Bu Ki. Yang kurang dari Alec Su disini cuma aura pendekarnya, mungkin karena memang versi 2003 ini sangat-sangat mengabaikan adegan laga silat dan kehebohan konflik dunia persilatan, lebih fokus di drama.  Versi 2003 memang tidak berasa epic wuxia tapi lebih berasa sinetron. Terlepas dari kekurangan itu, Alec Su lumayan bagus aktingnya sebagai Bu Ki yang peragu tapi pemikir serta interaksinya dengan wanita-wanita yang menyukainya.

Versi 2009 – Deng Chao

Deng Chao, ini dia yang katanya paling tidak tampan dari semua versi. Sayapun pertama kali melihat foto Deng Chao jadi il-feel….gimana bisa ya tampang rakyat jelata kucel gitu memerankan Thio Bu Ki? heheheh jahat deh. Tapi setelah saya nonton filmnya, ternyata Deng Chao ini justru pas membawakan karakter Bu Ki yang ragu-ragu dan banyak pikiran, tanpa kehilangan aura seorang pendekar. Malah ‘muka figuran’ Deng Chao ini memberikan keuntungan saat dalam penyamaran, ia memang membaur dengan tokoh-tokoh figuran. Huehehe. Walau secara wajah ia kurang bisa dipercaya kenapa bisa disenangi banyak wanita, tetapi aktingnya menutupi kelemahan itu. Di sini karakter Bu Ki yang ‘kontemplatif dan pemikir’ lebih tereksplorasi dalam. Tumbuh sebagai anak yang kurang gaul karena tinggal di pulau, begitu berinteraksi sama orang-orang langsung kehilangan orang tua, terlunta-lunta sendirian, tiba-tiba dibebani amanat besar sebagai ketua partai. Wajar kalau ia terlihat ‘datar’  soal cinta, walau mudah iba pada wanita cantik. Selalu melihat kebaikannya saja tanpa terlalu memikirkan kelicikan mereka.  Semua karakter ini jadi sangat pas dibawakan oleh Deng Chao yang tadinya tidak saya lirik sebelah mata.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.