Hong Kong 5 Beauties – 4: Margie Tsang Wah Sin

Mantan kekasih Tony Leung ini punya wajah paling imut di antara semua 5 beauties. Karena ke ‘imut’annya dia malah jarang dapet peran leading lady, biasanya malah peran gadis yang usianya jauh lebih muda dari leading lady. Penampilannya sebagai Kwee Siang (Guo Xiang) dalan Heaven Sword and Dragon Sabre / To Liong To 1986, walau  singkat tapi sangat memorable. Ia mampu membawakan karakter Kwee Siang yang muda, ceria, cerdas dan jago ngeles mirip sang nyokap, Oey Yong, tapi juga sangat welas asih dan gak tegaan seperti bapaknya, Kwee Ceng.

MARGIE

Margie Tsang Wah Sin (Chen Hua Ching)

Dalam Flying Fox of Snowy Mountain, ia berperan sebagai Miao Rue Lan, yang walau porsinya sedikit dan tidak bisa kungfu, akhirnya bersanding dengan sang jagoan.  Margie Tsang bercerai dari suaminya tahun 2006 dan sekarang membesarkan anaknya sebagai orang tua tunggal.

Next Beauty: Kitty Lai Mei Han

Hong Kong 5 Beauties – 3: Yammie Lam Kit Ying

3. Yammie Lam Kit Ying

Pertama kali saya nonton Yammie adalah The Possessed, lupa judul Indonesianya kalo gak salah Kecapi Iblis.  Pikir saya waktu itu, ni orang cantik banget, aktingnya juga lumayan… kenapa ya dia jarang main wuxia, padahal cocok juga kalau jadi Bibi Lung.  Ternyata Yammie Lam ini ngetopnya kebanyakan film modern dan sempet jadi teen idol saat itu. Serial wuxia yang dia bintangi antara lain adaptasi Jin Yong – Book and Sword, Return of Wong Fei Hung bersama Andy Lau dan Kent Tong, serta Heir to The Throne, juga bersama Andy Lau.

Yammie Lam Kit Ying

Yammie Lam Kit Ying

Sempet berharap kalo suatu ia bisa bermain di adaptasi Jin Yong yang lain, ternyata harapan saya kandas. Belakangan karir Yammie hancur setelah dirundung musibah beruntun berupa kematian ayah ibunya, putus dengan pacar dan kecelakaan mobil. Ia diberitakan  masuk rumah sakit jiwa, puncaknya pada tahun 2008 ditemukan menggelandang di jalan dengan rambut putih,  baju tidur yang kucel sambil ngerokok. Nasibnya sekarang bangkrut dan jadi tanggungan pemerintah Hong Kong karena termasuk fakir miskin, tak mampu menghasilkan uang karena penyakit kejiwaannya dan harus dipelihara negara. Sedih banget yaa…

Next Beauty: Margie Tsang Wah Tsin

Hong Kong 5 Beauties – 2: Jamie Chik Mei Chun

2. Jamie Chik Mei Chun 

Jamie Chik Mei Chun

Dia ini istrinya Michael Miu, menikah tahun 1990 dan masih awet sampai sekarang! Perannya yang paling memorable di adaptasi karya Jin Yong adalah sebagai Yue Lingshan, cinta pertamanya Linghu Chong dalam Pendekar Hina Kelana 1985 (The Smiling Proud Wanderer). Waktu nonton film itu, rasanya saya lebih pingin Linghu Chong jadian sama Yue Lingshan ketimbang sama Ren Ying Ying😀  Sayangnya Jamie Chik ini seringnya dapet peran cameo, tokoh penting tapi cuma muncul sebentar. Salah satu yang memukau walau singkat adalah sebagai pendekar wanita Ngai Ah Suet, ibunya sang jagoan Hu Fei dalam serial Flying Fox of Snowy Mountain, juga merupakan adaptasi Jin Yong.  Dalam serial adaptasi novel Pertarungan Si Kembar karya Gu Long (The Most Honorable Knights)  lagi-lagi ia  juga cuma jadi “ibunya jagoan”🙂

 

Next Beauty: Yammie Lam Kit Ying

Hong Kong 5 Beauties – 1: Idy Chan

1. Idy Chan Yuk Lin (Chen Ie Lien)

Siapa sih yang gak inget perannya sebagai Bibi Lung atau Siauw Liong Lie? Walau mungkin kalah kinclong dengan Crystal Liu di versi 2006, tetapi menurut saya sih akting Idy Chan sebagai Bibi Lung jauh lebih pas dan matang. Tampang sendu dingin tanpa ekspresi, memancarkan kelembutan tapi juga wibawa sebagai pendekar wanita.

Idy Chan yang sekarang menjanda ini, pas masa jayanya sempet pacaran 5 tahun dengan Chow Yun Fat. Ada pula gosip yang menyebutkan semasa suting Return of the Condor Heroes (ROCH) 83, Andy Lau bener-bener naksir sama dia, tapi gak ditanggepin. Hehe.. bener atau enggak, yang jelas akting mereka sebagai Bibi Lung dan Yo Ko di ROCH  83 itu emang bener-bener believable. Tatapan mata dan ekspresi mereka, tanpa terlalu heboh bermesraan malah dapet banget kemistrinya.

Selain sebagai Bibi Lung, Idy Chan juga pernah memerankan Siao Ciao dalam To Liong To 1978, yang merupakan awal karirnya. Peran lain yang juga memorable adalah sebagai Ong Giok Yan dalam Demigods & Semi Devils 1982 serta Putri Lan Ling di Grand Canal. Idy Chan sempat tinggal di Amerika dan Kanada, namun setelah pernikahannya yang kurang dari 10 tahun kandas, Idy Chan balik ke Hong Kong, sekarang sibuk di bisnis iklan dan muncul lagi di beberapa serial televisi.

Next beauty: Jamie Chik Mei Cun

 

Hong Kong 5 Beauties: Mengenang Kejayaan EraVideo Silat HK-TVB 80-an

Jaman video silat masa 80an, semua pasti kenal sama yang namanya “5 Tigers of Hong Kong”. Mereka adalah Andy Lau, Felix Wong, Kent Tong, Tony Leung dan Michael Miu. Aktor-aktor  paling ngetop pada jamannya dan ikonik dengan peran-peran mereka dalam adaptasi karya Jin Yong. Andy Lau sebagai Yo Ko, Felix Wong sebagai Kwee Ceng, Michael Miu sebagai Yo Kang, Kent Tong sebagai Toan Ki (Demigods & Semi Devils) dan Huo Tu,  serta Tony Leung sebagai Thio Bu Ki dan Pangeran Menjangan Wai Siu Bau.

5 tigers1

Dari kiri ke kanan: Andy Lau Tak Wah (Liu Te Hua), Felix Wong Yat Wa (Huang Re Hua), Michael Miu Kiu Wai (Miao Chia Wei), Tony Leung Ka Yan (Liang Chiao Wei) dan Kent Tong Chun Yip (Tan Ce Yen)

Nah, tapi sebenernya yang saya pingin bahas kali ini adalah aktris-aktrisnya yang berjulukan “5 Beauties”. Dibanding 5 Tigers, julukan 5 Beauties ini gak begitu terkenal. Tapi kalo kita liat wajahnya pasti setuju kalo mereka ini memang cantik banget pada jamannya, walau sekarang mungkin sudah nenek-nenek… hehehhe. Siapa aja mereka? Ini dia, silakan di klik satu persatu….

1. Idy Chan Yuk Lin (Chen Ie Lien)

2. Jamie Chik Mei Chun

3. Yammie Lam Kit Ying

4. Margie Tsang Wah Sin (Chen Hua Ching)

5. Kitty Lai Mei Han (Li Mei Xian)

To Liong To versi 2009 (Deng Chao, Ady An, Liu Jing)

Alur Cerita 4/5

Alur yang sangat setia pada novel, bagaimanapun mempunyai kelebihan tersendiri. Itulah yang dimiliki 2009.  Hampir semua dialog dan detail penting mengikuti novelnya. Karena alur novel sudah hasil kerja keras pengarang Jin Yong yang memasukkan detil logika dan dipertimbangkan matang, maka alur versi 2009 inipun relatif minim kelemahan. Kalaupun ada, di beberapa adegan  dialog yang di novel begitu asik, tetapi pas di filmkan agak terkesan terlalu panjang dan bertele-tele. Sedikit improvisasi ritme mungkin akan menjadikannya lebih baik.

Tapi…. ada tapinya nih. Saking setianya pada novel, akhir cerita  juga mengikuti revisi terakhir Mbah Jin Yong yang memang kurang disukai penggemarnya.  Jadi, walaupun relatif bagus dan memukau, siap-siap dengan ending yang garing..  bisa dibilang ini salah satu ending terburuk dari semua versi,  dan…. salahkan pengarangnya yang merevisi🙂

Heaven Sword & Dragon Sabre 2009, memanjakan penggemar wuxia dengan penggambaran jurus yang dahsyat

Penokohan dan akting 3.5/5

Ada kelebihan dan kekurangan.  Sekarang bicara kelebihannya. Thio Bu Ki dan Tio Beng sangat memuaskan, akting mereka ‘subtle’ alias samar, tidak terlalu dibuat-buat tapi malah kerasa emosinya.  Kalo ada yang nuduh mereka gak bisa akting, mungkin itu karena mereka biasa nonton tokoh dengan ekspresi yang ekstrim ala sinetron: nangis harus mewek, marah harus manyun. Hehehe.

Hoan Yauw, Elang Alis Putih, Thio Sam Hong, 2 Tetua Tapak Xuan Ming, Song Ceng Su, Tan Yoe Liang, Singa Emas, semua menampilan karakter pendekar/penjahat yang kerasa hebatnya, liciknya atau seremnya. Tokoh-tokoh Sekte Ming yang ada uncur kocak seperti Biksu Kantung dan Kelelawar Hijau juga berperan penting dan bukan sekedar sampingan pendukung drama, tetapi merekalah elemen wuxia itu sendiri. 7 Pendekar Butong,  cukup baik walau persaudaraannya masih kalah dengan Versi 86. Yo Put Hui, kayaknya ini the best Yo Put Hui. Secara tampang sangat cocok menggambarkan ia usianya jauh lebih muda dari Bu Ki, akting dan kemistrinya dengan In Li Heng juga sangat baik.

Siao Ciao,  akting dan kemistrinya dengan Thio Bu Ki cukup baik . Cukup mewakili bila ia dibilang yang tercantik di antara semua, tetapi, wajahnya sangat jauh dari campuran Persia, malah hidungnya rada pesek dan hanya matanya yang diberi contact lens biru sebagai elemen “Persia”. Agak maksa sih. Bajunya juga agak mewah dan ribet untuk seorang pelayan. Tapi kelebihannya,  di sinilah tokoh Siao Ciao terlihat memimpin pasukan Sekte Ming dengan formasi 8 trigrams.  Fakta di novel yang jarang ditampilkan, bahwa Siao Ciao sebetulnya cerdas dan ilmunya tinggi, tenaga dalamnya malah di atas Tio Beng.

Siao Ciao memimpin anggota Sekte Ming melawan prajurit Dinasti Yuan, membentuk formasi dan melindungi petingginya yang terkena racun dari pedang langit palsu Tio Beng.

In Lee, tokoh yang seharusnya menyedihkan, menurut saya di sini justru malah agak  ‘annoying’, menggangu banget,  teriak-teriak berisik. Agak kurang sreg dengan muka rusaknya yang ditutupi bunga, malah membuang rasa iba dan mengurangi kesan tragis.  Seharusnya kalau memang digambarkan mukanya rusak ya rusak aja,  nanggung sekali. Thio Cui San dan In So So-nya tidak buruk tetapi kurang berkesan.  Ciu Cie Jiak sangat keren saat pertempuran terakhir, selebihnya kurang. Biat Coat yang cantik, sesuai gambaran bahwa ia masih keliatan sisa kecantikannya masa muda, tapi judes kayak nenek sihir.

Tata artistik dan Sinematografi 5/5

Pengarang Trilogi Rajawali, Jin Yong, pernah bilang, kalau ada yang menggarap novel  saya seserius 3 Kingdoms dan Water Margin, akan saya kasih royalti murah, cuma 1 Yuan. Rupanya Jin Yong memang sudah mendambakan karyanya digarap serius oleh sang produser 3 Kingdoms & Water Margin, yaitu  Zhang Ji Zhong (ZJZ).

Suasana adegan ulang tahun ke-100 Thio Sam Hong, dihadiri banyak orang dunia persilatan

Jin Yong memang tidak salah pilih. Dalam To Liong To versi 2009 ini, ZJZ membuat adegan pertemuan Partai Pengemis yang berlangsung di alam terbuka di tebing besar, lengkap dengan tambur-tambur raksasa yang kemudian dipakai Bu Ki dan Tio Beng bersembunyi di dalamnya, sangat sesuai novel sekaligus keren, indah, mencekam.

Semua adegan di perguruan Butong juga  dilaksanakan di biara  Gunung Butong betulan, menambah kesan kejayaaan dunia persilatan di masa lalu. Penggunaan kuda-kuda dalam berbagai perjalanan melukiskan bahwa jarak antar tempat memang jauh dan makan waktu, bukan seperti jarak antar studio yang suka tiba-tiba nongol sembarangan. Anggota-anggota Sekte Ming yang memang jumlahnya ratusan dan terdiri dari banyak prajurit semuanya diwujudkan dengan seksama, bukan malah memangkas adegan jadi cuma 2 orang saja yang ikut pertemuan, misalnya, seperti di versi 2003.  Pulau Api dan Es memang betulan diselimuti salju.  Lembah Kupu-kupu tempat Thio Bu Ki belajar pengobatan, berperahu bersama Yo Put Hui,  aduhai indahnya. Singkat kata, penggambaran suasana megah di sini memang sangat baik dan mendukung ceritanya.

Soundtrack 3/5

Suasana wuxia mampu dihadirkan oleh insert song dan musik latar, walau tidak ada lagu yang memorable seperti tahun 80an. Lagu pembuka oleh Deng Chao cukup oke,  lagu penutup oleh Ady An kurang.

Aspek Wuxia 5/5

Kalau mau lihat jurus-jurus hebat yang dideskripsikan di novel, di versi inilah penggambaran terbaiknya. Salut dengan produser/sutradara yang begitu niat menggambarkan setiap detil kata-kata dalam novel itu dan menuangkannya dalam pertempuran unik dan  seru.

Sebagaimana kita tahu, To Liong To ini mempunyai banyak klimaks pertempuran dahsyat yang bikin seru dan geregetan:

  • Pertempuran di puncak Guang Ming, saat Bu Ki muncul pertama kali membela Sekte Ming.
  • Kedatangan rombongan Tio Beng ke Butong, Bu Ki pertama kali mempraktekkan ilmu Tai Chi melawan jagoan-jagoan Tio Beng.
  • Penyelamatan tokoh 6 perguruan yang di sandera di Kuil Wan An yang terbakar .
  • 3 Utusan Sekte Ming Persia melawan Bu Ki di Pulau Ular.
  •  Pertemuan Membunuh Singa, yang terdiri dari banyak pertarungan antara Bu Ki, Sekte Ming melawan 3 Biksu Shaolin, Ciu Cie Jiak unjuk cakar tulang putih, bekerjasama dengan Bu Ki bertempur siang malam lawan 3 Biksu, serta kelihaian Nona Baju Kuning menunjukkan ilmu 9 Yin sejati.

Bu Ki mempraktekkan ilmu pedang Taichi melawan anak buah Tio beng di gunung Butong

Adegan-adegan di atas, penggambaran terbaiknya ada di versi 2009.  Apakah tidak kebanyakan spesial efek? Menurut saya, spesial efek di sini bukan digunakan untuk menutupi kelemahan aktor yang tidak bisa silat, tetapi justru menjabarkan kehebatan pertempuran di dalam novel.

Harap diingat bahwa setting jaman Dinasti Yuan ke belakang, memang masih banyak ilmu-ilmu sakti yang agak berbau fantasi, tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh yang bak tingkat dewa. Makin modern, ilmu itu makin punah, makanya berbeda dengan jaman  Wong Fei Hung dan Fang Se Yu yang tidak butuh banyak spesial efek karena tidak ada unsur ‘ajaib’  seperti adu tenaga dalam dsb. Jadi kalau To Liong To dijabarkan cukup dengan silat murni tangan kosong tanpa spesial efek, ya kurang sesuai juga.

Ciu Cie Jiak menggunakan senjata cambuk seperti di novelnya, disaksikan Nona Baju Kuning dan Ketua Kaypang termuda

Gerakan-gerakan yang di novel agak mustahil dan susah dibayangkan, seperti gerakan aneh 3 Utusan Persia, gerakan Cie Jiak yang luar biasa cepat dengan cambuknya, adu tenaga dalam, kemudian ilmu Memindahkan Langit dan Bumi Thio Bu Ki yang meminjam tenaga plus gerakan lawan untuk menghajar lawan, visualisasinya luar biasa di sini. Memang sudah sepantasnya film yang dibuat tahun 2009 mengalami peningkatan visual dari 80an. Selain koreografi silat yang memukau, aspek wuxia di sini amat baik karena seperti yang saya sebutkan, tokoh pendekar dan penjahat kelihatan aura pendekarnya atau kejahatannnya, yang membuat kita kagum atau ngeri.

To Liong To 2003 (Alec Su, Alyssa Chia, Gao Yuanyuan)

Alur cerita,

Kekuatan cerita To Liong To adalah unsur misteri dan suspensenya. Tetapi alur cerita versi 2003 ini malahan gamblang memperlihatkan siapa sebenarnya para pelaku kejahatan, yang justru di novel dan versi lainnya merupakan unsur misteri. Seng Kun, si biang kerok yang seharusnya misterius, diperlihatkan tertawa jahat menghadap kamera sejak awal melancarkan aksinya.  Ulah Ciu Cie Jiak yang seharusnya merupakan kejutan juga diungkapkan gamblang berikut omongan dalam hati dan muka jahat yang sungguh membikin saya il-feel. Seperti menonton sinetron Indonesia yang tak membiarkan penontonnya mikir, semua diceritakan.

Beberapa urutan adegan yang dibolak-balik dari novel aslinya malah kehilangan logikanya. Seperti Thio Bu Ki yang sudah menemukan kitab 9 Yang dan ilmunya hebat tapi masih kalah kena ditipu keluarga Chu yang ilmunya tak ada apa-apanya. Padahal seharusnya Thio Bu Ki masuk jurang saat dikejar keluarga Chu dan menemukan Kitab. Masih banyak lagi logika wuxia yang tidak masuk akal karena adegan-adegan tambahan.

Cerita tambahan tentang Tio Beng yang dinikah paksa sungguh sangat berbau sinetron dan dibuat-buat. Sebetulnya, alur cerita memang tidak harus sesuai novel, improvisasi oke saja asal itu  menguatkan karakter dan konsisten sesuai logika. Tapi disini penambahan justru membosankan dan melemahkan alur.

Namun, sudut pandang yang serba tahu ini ada sedikit sisi bagusnya karena beberapa hal yang di novel hanya diceritakan lewat mulut,  di versi ini dijabarkan dalam adegan.  2.5/5 untuk alur/plot

Penokohan dan akting.

Alec Su bersama pemeran Ciu Cie Jiak, Tio Beng, Siao Ciao dan In So So. Pemeran-pemeran wanita yang tak sekedar cantik tetapi aktingnya cukup lumayan, adalah penyelamat versi 2003 ini

Selain Tio Beng, tokoh-tokoh yang diperankan cukup baik adalah In So So,  Siao Ciao, In Lee.  Phyllis Quek sebagai In So So lebih memorable daripada versi 2009. Perempuan cerdas tegas sedikit kejam namun keibuan, tergambar dengan baik.  Awalnya saya ragu melihat Florence Tan sebagai Siao Ciao, ia cantik,  tetapi rasanya tidak cukup untuk Siao Ciao yang dilukiskan dalam novel memiliki kecantikannya campuran Persia dan Cina dan paling cantik di antara cewek-cewek Bu Ki lainnya. Namun akting dia sangat baik dan chemistry dengan Thio Bu Ki juga sangat bagus. Chen Zihan sebagai In Lee, cukup menyedihkan sesuai karakternya.

Thio Bu Ki kecil, walau secara umur agak ketuaan, tapi aktingnya sangat jauh lebih baik daripada kebanyakan tokoh-tokoh pria dewasa di sini.  Semua penokohan yang kurang memuaskan justru pada tokoh pendekar kharismatik atau penjahat hebat yang seharusnya membikin kita ngeri. Di sini  sama sekali tidak terasa ‘greget’nya.  Tetua Tapak Es/Xuanming, yang harusnya 2 kakek sakti berilmu tinggi, gak ada serem-serem saktinya dan malah tampak muda dan konyol. Peran tokoh-tokoh Sekte Ming seperti Elang Alis Putih yang kungfunya tinggi, Hoan Yauw yang selagi mudanya dijuluki dewa dan sangat tampan namun mencoreng wajah,  malah terkesan asal. Yang lumayan Kelelawar Hijau . Namun porsi adegannya banyak dikurangi. Kelelawar Hijau dan Yo Siauw malah tak ikut di adegan inti di Shaolin. Seng Kun sangat muda, padahal ia kan guru Singa Emas yang sudah 70 tahun, aktingnya pun sinetron banget. Pendekar-pendekar Butong juga tidak lengkap, Ji Tay Giam sang korban cacat yang harusnya tegar malah dibuat cengeng. Ada pula adegan tambahan In Li Heng mengusir Put Hui.. sangat melemahkan karakter pendekar In Li Heng. Pokoknya akting-akting yang melibatkan kegagahan pendekar yang bikin merinding atau keangkeran penjahat yang bikin ngeri, sama sekali gak masuk di sini.  Nilai 3/5

Tata artistik dan sinematografi

Bisa dibilang ini terburuk, karena sebagai produksi tahun 2003 harusnya bisa memberikan kelebihan signifikan dibanding produksi 70-80-90an. Syuting di Cina sama sekali tidak memanfaatkan pemandangan Cina yang bagus. Pemilihan tempat-tempat sangat seadanya. Kostum lumayan baik, tetapi make up sangat buruk. Lihat Ciu Cie Jiak dan Tetua tapak Es yang hancur banget. Banyak pemeran wanita terlihat lebih cantik saat menyamar jadi pria tanpa make up, ini bukti kelemahan kru make up. Pernikahan Ciu Cie Jiak- Thio Bu Ki yang seharusnya dihadiri banyak sekali orang dunia persilatan, malah seadanya 20 orang.  Terkesan malas-malasan membuat setting yang sedikit lebih ‘wah’ dan terkesan pertemuan pendekar sungguhan. Kalah jauh dengan produk-produk tahun 70-80an yang walaupun masih terbatas segi teknologi dan syuting di studio tapi masih kelihatan ada usaha membuat tata artistik yang mendukung cerita.  Nilai 2/5

Soundtrack 2.5/5

Ada 2 tipe soundtrack yang ditujukan untuk penonton Taiwan dan Cina. Versi yang ditayangkan di Indonesia adalah Taiwan. Apakah soundtracknya enak didengar? Ya, enak. Apakah cocok dengan nuansa wuxia? tidak. Hanya seperti lagu pop biasa yang dinyanyikan Alec Su, tidak ada nuansa pendekar. Untuk versi Cina masih lebih mendingan dan kerasa elemen wuxia-nya, ini pula yang dipakai untuk insert song di beberapa adegan.

Aspek wuxia 1/5

Inilah To Liong To dengan aspek wuxia terburuk! Adegan-adegan silat yang seharusnya seru mencekam, digarap sangat seadanya. Tidak jelas siapa memukul siapa, banyak  ledakan, asap, debu, sinar-sinar, dan…. tahu-tahu selesai!  Beberapa adegan yang harusnya dinanti-nanti seperti pertandingan pendekar-pendekar gagah dari Sekte Ming dengan keahlian uniknya, bertanding dengan 3 Biksu Penjaga, malah sama sekali dihilangkan! Diganti dengan adegan Singa Emas melarang mereka bertempur, dan batal. What? apa-apaan ini? Hehehe…

Adegan perang dan perundingan dengan 3 Utusan Persia juga terkesan main-main.  Karena malas membuat adegan pertempuran antar kapal, malah diganti dengan tenda dan banyak mengabaikan logika.  Dampaknya, perpisahan Thio Bu Ki dan Siao Ciao yang seharusnya mencekam dan sedih karena rombongan Persia memakai kapal dan berlayar menjauh meninggalkan Bu Ki, malah tidak ada. Ilmu Gada Api Suci yang merupakan bagian terakhir ilmu Membalikkan Langit dan Bumi yang diterjemahkan Siao Ciao dari bahasa Persia untuk Bu Ki, sama sekali tidak disinggung.

Yang lebih ngaco belo,  di sini Song Ceng Su menguasai 18 Tapak  Naga! Sebetulnya melenceng dari novel tak apa, tapi kalaupun melenceng jangan mengabaikan logika wuxia.  Bagaimana tidak, di novelnya, 18 Tapak Naga adalah ilmu andalan Kwee Ceng yang sangat butuh tenaga dalam tingkat tinggi, bahkan Thio Sam Hong – kakek guru Song Ceng Su- mengakui tenaga dalam Kwee Ceng masih di atasnya. Nah bagaimana pula Song Ceng Su malah bisa nguasain 18 Tapak Naga, mati pula di tangan Cie Jiak yang cuma punya ilmu cakar tengkorak? Sungguh penghinaan terhadap Kwee Ceng nih, ketauan produsernya emang gak suka wuxia dan hanya senang drama ala sinetron… heheheh… lagian,  masa anggota Partai Pengemis yang notabene leluhurnya menguasai ilmu itu tidak ‘ngeh’? 

Peperangan? Jangan harap ada adegan peperangan. Dalam dunia Versi 2003 ini, semuanya seperti bohong-bohongan. Dahsyatnya Sekte Ming yang punya banyak anggota dan tokoh-tokoh unik dan gagah, tidak berusaha ditampilkan. Mungkin malas mencari pemeran figuran tambahan. Pasukan Mongol yang mengepung Bu Ki cuma beberapa orang dan panah-panahnya keliatan karet. Tio Beng berapa kali mengancam bunuh diri saat Bu Ki dikepung pasukan, adegan berulang yang terkesan murahan. Pasukan cuma sedikit dan seadanya gitu, gak usah pake Tio Beng ngancam juga gampang banget kalau Bu Ki mau mengalahkan.

Sangat memalukan dan mengecewakan untuk produksi tahun 2003. Saya bersyukur HSDS 2003 ini adalah karya wuxia pertama dan terakhir dari produser Luo Li Ping,  selanjutnya ia hanya menggarap drama. Bagus deh, daripada bikin malu, nanti dikiranya wuxia adalah sinetron. Hehehhe