Sinopsis Return of the Condor Heroes 2006 Episode 21-25

Episode 21

Yo Ko menelan setengah butir pil pemunah bunga cinta. Ternyata kata Kiu Cian Ci, hidup Yo Ko justru makin pendek, dari 36 hari jadi hanya 18 hari. Cara kerja pemunah adalah mengumpulkan racun pada suatu titik baru menetralkannya. Pada hari ke 18, saat itu racunnya terkumpul di suatu titik dan Yo Ko bisa mati kalau tak membawa kepala Kwee Ceng dan Oey Yong untuk mendapatkan setengah lagi pemunah. Li E gusar melihat kekejaman ibunya, tapi keputusan sudah dibuat. Yo Ko dan rombongan Mongol pergi meninggalkan Lembah.

Di Siangyang, para pendekar yang dipimpin Kwee Ceng sudah bersiap menghadang kedatangan tentara Mongol, tapi tentara dari pihak kerajaan belum juga siap.

Menyadari hidupnya tinggal 18 hari, Yo Ko ingin menikmati waktu berdua dengan Bibi Lung sampai ajal menjemput, tak ingin 18 hari itu disibukkan urusan balas dendam pada Kwee Ceng dan Oey Yong. Tapi Bibi Lung sedih, 18 hari tak cukup rasanya, ia ingin bersama Yo Ko selama 100 tahun lebih. Kalau Yo Ko meninggal, ia juga tak bisa hidup. Akhirnya demi Bibi Lung dan ayahnya, Yo Ko bertekad membalas dendam dengan membunuh Kwee Ceng dan Oey Yong dan ditukar dengan pemunah. Rombongan Mongol mengingatkan mereka jangan lama-lama berduaan dan segera kembali ke kemah Mongol.  Mo Kong Chow masih kesal dengan Hakim Roda Mas yang tidak menolong Yo Ko selama di Lembah Putus Cinta.

Keluarga Kwee bersiap maju ke medan perang. Sambil  menjahit topi untuk calon anaknya, Oey Yong berbincang dengan suaminya. Seandainya ada Yo Ko, akan sangat berguna untuk membantu Kwee Ceng berperang. Kwee Ceng menyesali tindakannya memarahi Yo Ko di depan orang banyak, Yo Ko telah banyak menderita dan berjasa,  kesalahan Yo Ko hanya karena ingin menikahi gurunya.  Mereka berharap Yo Ko mengerti bahwa tindakan mereka waktu itu demi kebaikan Yo Ko. Oey Yong meminta Kwee Ceng memberi nama calon bayinya. Kalau lelaki akan diberi nama Kwee Poh Louw yang artinya ‘mengalahkan/membuat terobosan’, kalau perempuan akan dinamai Kwee Siang, sesuai dengan nama kota kelahirannya Siangyang.

Di tenda Mongol, Yo Ko mengasah pisaunya. Bibi Lung ragu Yo Ko bisa membunuh Kwee Ceng, mengingat ilmu Yo Ko jauh dibawah Kwee Ceng. Yo Ko bilang ia akan pakai akal dan bertindak sesuai keadaan. Mereka berkuda ke Siangyang. Sampai di gerbang, Bu bersaudara membukakan gerbang kota.

Di sinilah dilema Yo Ko untuk membunuh Kwee Ceng dimulai. Kwee Ceng menyambut Yo Ko dengan suka cita,  malah menolak undangan kehormatan dari Jendral karena ingin bersama Yo Ko. Ia memarahi Kwee Hu agar berterimakasih pada Yo Ko yang telah menolongnya.  Kwee Ceng bahkan yakin Yo Ko akan lebih hebat darinya dalam berkontribusi pada negara, karena kecerdasannya jauh di atas dirinya. Yo Ko bingung, kalau ia membunuh Kwee Ceng, artinya ia membiarkan banyak rakyat menderita menjadi budak Mongol. Pemerintah Song lemah dan korup, kalau tidak ada orang seperti Kwee Ceng, sudah lama Siangyang jatuh ke tangan Mongol. Akhirnya ia memberanikan diri bertanya lagi “Siapa yang membunuh ayahku!?” Kwee Ceng berkata “Tidak ada yang membunuh ayahmu, ia yang menyebabkan kematian dirinya sendiri. Aku dan ayahmu bersaudara, kalau dia sampai dibunuh orang, aku tidak akan tinggal diam. Cerita ini tak bisa dijelaskan dalam satu kalimat. Habis kita mengusir Mongol, aku akan ceritakan semua”. Yo Ko masih tak percaya, bagaimana mungkin ayahnya mau mencelakakan diri sendiri.

 

Oey Yong mendapat laporan Chu Ciu Liu (Sastrawan yang mengalahkan Ho Tu dalam pertandingan pendekar) bahwa gerak gerik Yo Ko agak aneh,  maka ia meminta Kwee Ceng berhati-hati terhadap Yo Ko.Walau Yo Kang tidak mati ditangan mereka, tapi Yo Kang mati setelah memukul Oey Yong. Tidak bisa dibilang tak ada hubungan.

Kwee Ceng tidak khawatir, ia malah balik ke kamar dengan Yo Ko. Kwee Ceng langsung pulas karena seharian berperang.  Saat itulah Yo Ko hendak menusuk Kwee Ceng, tapi kalah cepat, Kwee Ceng menangkis. Melihat lagak Yo Ko, Kwee Ceng mengira Yo Ko mimpi buruk dan tak bisa mengatur tenaga dalamnya. Dengan penuh kasih sayang Kwee Ceng justru menyalurkan tenaga dalamnya agar aliran darah/energi Yo Ko teratur. Yo Ko merasa terharu tapi makin bingung: walau sudah lelah berperang, Kwee Ceng malah merelakan tenaga dalamnya untuk menolong Yo Ko. Esoknya, ia takut Oey Yong curiga dan meminta Kwee Ceng tak menceritakan kejadian semalam, alasannya ia malu tak bisa atur tenaga dalam. Yo Ko dan Kwee Ceng berpatroli dengan kuda sambil mengobrol tentang sastra dan pejuang-pejuang negara seperti Zhuge Liang. Yo Ko makin mengagumi Kwee Ceng yang begitu tulus mencintai negaranya. Kata-kata Kwee Ceng diingatnya: siapapun yang peduli nasib bangsa dan negaranya ialah pahlawan, tak peduli apapun jabatannya.

 

Di gerbang Siangyang, tentara Mongol menggunakan siasat berbaur dengan rakyat Song yang mereka giring dari pinggiran kota menuju gerbang, hingga tentara Song tak punya pilihan selain tetap menyerang dan melepas panah untuk mempertahankan kota, walau panah tersebut mungkin melukai rakyat biasa.  Hanya Kwee Ceng-lah yang ngotot  melindungi rakyat tak berdosa, ia memarahi tentara yang terus memanah tanpa memperhatikan rakyat. Katanya, “Tujuan kita berperang adalah melindungi rakyat, kalau kita malah sampai membunuh rakyat tak berdosa,  apakah itu bisa dikatakan melindungi?” Kwee Ceng turun tangan memimpin pendekar lain untuk menghalau tentara Mongol dari belakang dan menyelamatkan rakyat. Sikap Kwee Ceng yang berusaha untuk tidak membunuh orang yang tak berdosa, membuat Yo Ko sempat berpikir: apakah ayahnya berdosa hingga Kwee Ceng membunuhnya? Pertempuran hebat tak terelakkan, Kwee Hu, Bu bersaudara, Chu Ciu Liu, Tetua Luk bergabung. Saat terdesak, Kwee Ceng menyuruh yang lain mundur masuk gerbang sementara ia sendiri tak mempedulikan nyawanya. Dari jauh Kublai Khan mengagumi betapa heroik dan hebatnya Kwee Ceng. Orang Mongol terkenal mempunyai penghargaan tinggi terhadap pendekar sejati, walaupun itu di pihak lawan. Kwee Ceng terjebak di luar benteng, ia sempat menggunakan Pukulan Penakluk Naganya untuk menghalau ratusan prajurit Mongol. Chu Ciu Liu mengulurkan tali agar Kwee Ceng bisa memanjat dinding benteng, puluhan panah menghujani namun Kwee Ceng tetap bisa menghindar atau menangkap panah sambil memanjat tali. Melihat ini Hakim Roda Mas cerdik, ia bukan memanah Kwee Ceng tapi memanah tali yang dipanjat Kwee Ceng. Tali putus, Kwee Ceng terpaksa menggunakan tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh “Menaiki Tangga Langit” untuk memanjat benteng, Chu Ci Liu amat khawatir sebab taktik itu sekali diinterupsi akan gagal. Benar saja, Hakim Roda Mas menginterupsi hingga Kwee Ceng terjatuh. Merasa itulah ajalnya, Kwee Ceng meneriakkan kata terakhir “Jangan bunuh rakyat tak berdosa!!!”  sementara di bawahnya ratusan  tombak prajurit Mongol siap menghujam. Yo Ko menatapnya dengan penuh dilema, haruskah ia menolong atau membiarkan?

 

Episode 22

Yo Ko turun dengan tali menyelamatkan Kwee Ceng. Hakim Roda Mas melepaskan panah. Begitu selamat, Kwee Ceng langsung melepaskan 3 anak panah: yang pertama menangkis panah Hakim Roda Mas hingga terbelah dua, yang kedua mengenai tangan Hakim Roda Mas, yang ketiga merobohkan panji perang Mongol. Pihak Mongol ngeri dan kaget akan kehebatan Kwee Ceng. Hakim Roda Mas minta maaf pada Kublai Khan karena ia mengenalkan orang salah, yaitu Yo Ko yang diharapkan bisa membunuh Kwee Ceng tapi malah menyelamatkannya. Namun Kublai Khan berpikir itu karena Yo Ko ingin membunuh Kwee Ceng dengan tangannya sendiri. Kublai Khan tak mau berperang dengan moral pasukan yang menurun, maka ia menarik mundur pasukannya.

Pihak Song bergembira dan memuji Kwee Ceng, tapi tak terlihat sedikitpun rasa bangga apalagi sombong pada Kwee Ceng, ia malah berkata pada Yo Ko, “Lihat tentara Mongol, mereka begitu tertib, mundur pun teratur, kedisiplinan tentara kita jauh di bawah mereka”. Dalam undangan perayaan, semua memuji kehebatan Kwee Ceng. Tapi Kwee Ceng berkata “Perang adalah kerja tim, tidak boleh lengah. Kalau tidak ada Yo Ko yang menyelamatkan, Mongol belum tentu mundur”. Semua bersulang memberi selamat pada Yo Ko. Bu bersaudara melihat dengan iri.
Kwee Ceng berkata pada Oey Yong, semua orang bersaksi bagaimana Yo Ko menyelamatkanku tadi, apa kamu masih juga tidak percaya? Bibi Lung bingung kenapa Yo Ko belum juga bertindak, sementara waktu tinggal sedikit. Mereka menguping pembicaraan Kwee Hu dan Bu bersaudara, Kwee Hu pusing memilih di antara Bu besar dan Bu kecil. Yo Ko bertanya pada Bibi Lung ” Kalau kamu jadi Kwee Hu, kamu pilih siapa? Bu besar atau Bu kecil?” Bibi Lung terdiam, “Aku pilih kamu”.

Pagi harinya, Kwee Ceng mendapat surat dari Hakim Roda Mas bahwa Bu bersaudara ada di kemah Mongol, senjata mereka dikirimkan bersama surat tersebut. Rupanya Bu bersaudara iri karena semalam Yo Ko mendapat perhatian, mereka juga ingin berjasa pada negara dan merebut simpati Kwee Hu dengan pergi berdua ke kemah Mongol untuk membunuh Kublai Khan. Sekarang Kwee Ceng harus pergi ke sana untuk menyelamatkan mereka. Yo Ko melihat ini sebagai kesempatan baik untuk membunuh Kwee Ceng, ia menawarkan bantuan agar ia dan Bibi Lung ikut bersama. Tapi Oey Yong lebih pintar “Nona Lung biar di sini menemani aku, ia akan banyak membantu kalau nanti bayiku lahir”. Oey Yong berpikir Yo Ko tak akan bisa berbuat apa-apa pada Kwee Ceng, karena Nona Lung ada bersamanya.

Tiba di tenda Mongol, Kwee Ceng diperkenalkan pada 5 jagoan Mongol. Mo Kong Chow hampir keceplosan menegur Yo Ko, langsung ditendang kakinya oleh rekannya. Mereka pura-pura belum pernah bertemu Yo Ko. Bu bersaudara masuk, Kwee Ceng melepaskan ikatan mereka dan menyuruh mereka kembali ke Siangyang dan memperintahkan menjaga gerbang kota. Ia ingin menegaskan pada Kublai Khan apapun yang terjadi padanya di tenda itu, Siangyang tetap tak boleh jatuh.

Kublai Khan memulai diplomasinya dengan mengenang ayahnya, Tolui, yang juga merupakan saudara angkat Kwee Ceng. Kwee Ceng menegaskan kalau bukan karena perang, ia pasti tetap mengunjungi makam Tolui. Kublai Khan sebetulnya mengagumi Kwee Ceng, katanya sayang orang seperti Kwee Ceng mau bekerja pada kaisar Song yang bodoh, dan perdana menterinya yang korup. Kwee Ceng tak menyangkal soal kebobrokan pemerintahnya, tapi ia berkata ia tak bekerja untuk dimanipulasi pemerintah, ia bekerja untuk membela rakyat, rakyat lebih penting daripada pemerintah. Kublai Khan berdalih, pemerintah Mongol yang lebih adil akan menyelamatkan rakyat Song dari penderitaan; maksud kita sama, hanya dari pihak yang berbeda. Kwee Ceng menyangkal , karena sampai saat ini buktinya banyak rakyat menderita dan terbunuh oleh Mongol, itu faktanya. Diplomasi buntu. Kwee Ceng pamit pergi.

Di luar tenda, jagoan Mongol asal Persia, In Kwee See menyerang Kwee Ceng dengan cambuknya. Walaupun hebat, ia tak ada apa-apanya dibanding Kwee Ceng dan langsung kalah terluka. Dalam keadaan normal, semua jagoan Mongol ini pantang merendahkan diri dengan mengeroyok orang, tapi Kwee Ceng begitu tangguh, Hakim Roda Mas terpaksa tidak ikut aturan satu lawan satu, semua maju mengeroyok Kwee Ceng. Mo Kong Chow bingung melihat Yo Ko diam saja. “Kamu memihak mana?” Yo Ko pura-pura melawan Mo Kong Chow, selain takut ketauan, ia ingin melindungi Mo Kong Chow yang polos dari pertarungan sengit itu.
Hakim Roda Mas, Si Shao Sing dan Ni Mo Chee menyerbu Kwee Ceng dengan senjata masing-masing, sementara Kwee Ceng melayani dengan tangan kosong dan masih tak terkalahkan. Si Shao Sing mengeluarkan senjata asap beracun, namun tenaga dalam Kwee Ceng dapat menekan efek racun, bahkan ia bisa kabur lolos. Melihat Kwee Ceng lolos, Yo Ko pura-pura tenaga dalamnya terganggu agar Kwee Ceng balik lagi, karena lebih mudah membunuh Kwee Ceng saat pendekar itu sudah lelah bertarung. Taktik berhasil, kini Kwee Ceng tak hanya harus bertarung dengan 3 jagoan Mongol tetapi pasukan Mongol yang tadinya hanya melihat saja ikut menyerang. Kwee Ceng terpaksa menggunakan tombak prajurit sebagai senjata. Namun melihat Kwee Ceng yang terus melindunginya di tengah pertarungan, keraguan Yo Ko untuk membunuhnya muncul lagi, “Paman Kwee, apa ayahku orang jahat sampai kau harus membunuhnya?” Sambil terus bertarung Kwee Ceng menjawab “Dia pengkhianat negara, menganggap musuh sebagai ayahnya dan mencelakakan banyak orang, dia patut mati”. Mendengar itu Yo Ko langsung menghunus pedangnya, menunggu kesempatan untuk menyerang Kwee Ceng yang sedang bertarung mati-matian dengan Hakim Roda Mas. Saat senjata Hakim Roda Mas mencelat hampir mengenai Yo Ko, Kwee Ceng malah menangkis dengan tubuhnya hingga ia terluka parah. Yo Ko kaget dan marah pada dirinya sendiri, detik itulah ia tak peduli lagi dengan urusan balas dendam, malu hati jika tak mampu membalas budi Paman Kwee yang mengorbankan nyawa untuknya. Iapun maju melindungi Kwee Ceng. Walau Yo Ko kini ikut membantu, pertarungan tak seimbang karena Kwee Ceng sudah terluka akibat melindungi Yo Ko, bahkan kini terkena roda untuk kedua kalinya dan muntah darah. Yo Ko amat menyesal. Untungnya sesama jagoan Mongol itu saling berebut membunuh Kwee Ceng duluan karena ingin mendapatkan gelar dari Kublai, sehingga terkadang mereka saling bertengkar sendiri. Dalam keadaan genting, dari arah pasukan Mongol muncul seorang yang tiba-tiba membantu Yo Ko dan Kwee Ceng. Ialah Feng Mofeng, sang pandai besi murid Oey Yok Su yang pernah mengalahkan Li Mo Chou dan kini jadi penyusup di tenda Mongol (Episode 15). Feng Mofeng menyuruh Yo Ko dan Kwee Ceng pergi, sementara ia sendiri menghadang Hakim Roda Mas. Walau ilmunya tak setara Hakim Roda Mas, namun ia bisa membuat Roda Mas kewalahan. Feng mencengkram Hakim Roda Mas dari belakang dengan sepenuh tenaga, hingga Hakim Roda Mas tak leluasa bergerak mengejar Kwee Ceng dan Yo Ko. Yo Ko menggendong Kwee Ceng dan menggunakan asap untuk menghalau pasukan Mongol, berat hati meninggalkan Feng Mofeng sendirian tapi tak ada pilihan, ia memanggil kudanya dan kabur membawa Kwee Ceng yang terluka. Sementara itu Hakim Roda Mas akhirnya bisa melepaskan cengkraman Feng Mofeng, namun Feng mati kaku dengan posisi tubuh masih mencengkram Hakim Roda Mas. Seorang pahlawan telah gugur.

Di Siangyang, Yo Ko setengah sadar dan mengigau “Jangan sakiti Paman Kwee! Paman Kwee, lari..” Bibi Lung dan Oey Yong iba melihatnya, untung Yo Ko luka bagian luar saja, sementara Kwee Ceng malah terluka dalam, akibat bertempur sengit. Bibi Lung bingung kenapa Yo Ko malah kembali bersama Kwee Ceng. Yo Ko bilang, Siangyang membutuhkan Paman Kwee, ia tak bisa membunuhnya. Oey Yong memberi Yo Ko pil embun bunga. Tiba-tiba datang Ho Tu yang mengantarkan surat Hakim Roda Mas, Oey Yong dan Bibi Lung langsung bersiaga.

Episode 23

Oey Yong keluar mengatasi Ho Tu dan mengambil surat yang dibawa Ho Tu. (Di novelnya, Oey Yong memanfaatkan keadaan gelap untuk  menipu Ho Tu dengan menyiram air panas dan berkata itu racun, hingga Ho Tu panik dan bertindak sopan memohon pemunah:) ) Ho Tu sempat merobohkan Bu bersaudara ketika mereka hendak menangkapnya. Ia memuji kelihaian Oey Yong dan menghina Bu bersaudara sebagai murid yang tak berguna.

Surat dari Hakim Roda Mas sangat sopan tapi makna tersiratnya menantang Kwee Ceng. Oey Yong ingin semua melindungi Kwee Ceng, tapi Nona Lung berkata ia hanya melindungi Yo Ko saja. Oey Yong  lantas minta bicara berdua  dengan Nona Lung. Yo Ko mengizinkan. Nona Lung kaget mendengar Oey Yong sudah tahu rencana ia dan Yo Ko membunuh Oey Yong dan Kwee Ceng. Tapi ia jujur mengaku tak mengerti kenapa Yo Ko tidak juga membunuh Kwee Ceng. Kata Oey Yong, Yo Ko jelas tak tega membunuh pamannya sendiri. Mendengar ini  Nona Lung terharu karena ia tambah mengerti Yo Ko orang yang amat baik. Oey Yong berjanji akan menceritakan tentang kematian ayah Yo Ko setelah semua kerusuhan berlalu, sekarang Yo Ko cuma butuh istirahat dan akan sembuh, katanya.  Nona Lung menangis dan mengaku kalau hidup Yo Ko tinggal 7 hari saja. Pada Oey Yong ia menceritakan semua kejadian di Lembah Putus Cinta. Oey Yong kagum pada Yo Ko yang menyelamatkan Kwee Ceng walau itu berarti ia tidak mendapat pemunah. Ia mengutarakan rencananya pada Nona Lung “Besok kau dan Yo Ko melindungi Paman Kwee,  setelah bahaya lewat, aku akan menyerahkan kepalaku untuk kalian bawa ke Lembah Putus Cinta, pakai kuda merahku supaya keburu waktunya”. Nona Lung kaget. Walau tadinya ia mantap hati untuk membunuh Kwee Ceng dan Oey Yong demi Yo Ko, sekarang ia sama sekali tak nyaman dengan rencana itu. Kata Oey Yong, ia mencintai suaminya seperti Nona Lung mencintai Yo Ko, “Setelah Yo Ko dapat pemunah, kalian dapat membantu suamiku menjaga Siangyang”.

Tiba-tiba Kwee Hu datang melaporkan Bu bersaudara sedih  karena Oey Yong tidak menyangkal perkataan Ho Tu soal mereka murid tak berguna, mereka berdebat soal siapa yang lebih berguna dan lebih pantas mendapatkan Kwee Hu, dan sekarang mereka pergi berduel hidup mati menentukan siapa yang paling hebat diantara mereka. Oey Yong amat marah dan berkata, kalau mereka berkelahi demi negara boleh dapat simpati, tapi kalau berkelahi satu sama lain biar saja mereka saling bunuh!

Bu bersaudara siap berduel, tak terduga mereka bertemu kembali dengan ayah mereka Bu Sam Tong yang dulu sempat terganggu otaknya karena istrinya tewas menghisap racun jarum Li Mo Chou di kakinya.

Yo Ko dan Bibi Lung berpatroli di sekitar gerbang Siangyang, para prajurit memuji kehebatan Yo Ko yang menyelamatkan Kwee Ceng. Setelah itu Yo Ko melaporkan keadaan pada Kwee Ceng, tapi ia berbohong soal Bu bersaudara agar Kwee Ceng tidak khawatir. Di luar, Hakim Roda Mas berteriak pamer tenaga dalam sambil mencari Kwee Ceng. Sadar bahaya sudah dekat, Oey Yong bertanya pada Kwee Ceng, mana yang lebih penting, negara atau keselamatan kita. Kwee Ceng menjawab, ‘negara lebih penting daripada aku atau kamu’. Mendengar ini Yo Ko merasa malu. (Yo Ko berpikir: Cinta Kwee Ceng dan Oey Yong begitu dalam satu sama lain, tapi mereka menempatkan kepentingan rakyat banyak di atas segalanya, sedangkan aku, hanya dendam ayah dan Bibi Lung yang ada dikepalaku, mana sampai berpikir keselamatan rakyat). Yo Ko maju sendirian naik ke atas atap menyambut Roda Mas. Ia pura-pura mencari Kwee Ceng, agar Roda Mas menjauh dari Kwee Ceng yang terluka, selanjutnya ia bertempur melawan Roda Mas. Bibi Lung menyusul dan digempur  Ni Mo Chee dan  Siao Siang Si. Yo Ko membantu Bibi Lung,  Roda Mas membawa obor mencari Kwee Ceng dan membakar perumahan karena Kwee Ceng tidak juga keluar. Api menjalar sampai ke kamar Kwee Ceng. Kwee Ceng ngotot ingin keluar melindungi Yo Ko, tapi Oey Yong kontraksi akan melahirkan. Di tengah api dan asap mengepul, Yo Ko masuk memastikan mereka aman dan menyambar baju perang Kwee Ceng. Oey Yong meminta Kwee Ceng tak mengkhawatirkan Yo Ko karena ia banyak akal. Di luar, Yo Ko memakaikan baju perang Kwee Ceng pada mayat seorang prajurit, dan menggendongnya seolah-olah itu Kwee Ceng yang terluka agar Roda Mas dkk menjauh dari kamar Kwee Ceng. Oey Yong melahirkan seorang putri yaitu  Kwee Siang. Api sudah membakar atap, Oey Yong meminta Kwee Ceng pergi menyelamatkan anak mereka, tak usah pedulikan dirinya. Runtuhan balok yang terbakar hampir menimpa Oey Yong, untung Bibi Lung datang menyelamatkan. Kwee Ceng meminta Bibi Lung membawa bayi Kwee Siang ke tempat aman, sementara Oey Yong masih berjuang menjalani kelahiran berikutnya, yaitu kembaran Kwee Siang, bayi lelaki bernama Kwee Poh Louw.

Yo Ko membawa ‘Kwee Ceng palsu’ berputar mengitari gang diikuti Roda Mas, Ni Mo Chee, Siao Siang Si yang saling berebut ingin membawa Kwee Ceng. Ketika akhirnya Yo Ko terjebak. ia melempar Kwee Ceng palsu hingga ketiga orang itu berebut, sementara ia kabur. Yo Ko bersembunyi, Hakim Roda Mas pura-pura bicara seolah ada Kwee Ceng, agar Yo Ko keluar. Yo Ko geli mendengar Roda Mas bicara sendiri.  Tak berhasil, Roda Mas mengubah taktik pura-pura bicara seolah ada Yo Ko, agar Kwee Ceng keluar, yang datang malah Bibi Lung.  Walau satu tangannya membawa bayi, ia dan Yo Ko kembali melawan Roda Mas dengan jurus Hati Gadis Suci. Pertempuran seru terjadi lagi. Ketika Roda Mas tahu bayi itu putri Kwee Ceng, serangannya difokuskan untuk mengambil bayi. Bibi Lung ingin Yo Ko mengambil bayi itu untuk ditukar pemunah. Dalam pertempuran sengit itu bayi Kwee Siang terlempar, tiba tiba hadir Li Mo Chou menangkapnya. Li mengira itu anak Yo Ko dan Bibi Lung, maka ia merebut dan membawa lari sang bayi.  Li Mo Chou menggunakan prajurit sebagai pijakan untuk melompat gerbang kota. Yo Ko dan Roda Mas ikut  mengejarnya sampai ke luar kota Siangyang. Bibi Lung mengambil kuda merah dulu agar ia bisa segera berkuda ke Lembah Putus Cinta begitu bayi didapat. Ia meminta Tetua Luk membukakan gerbang karena anak Kwee Ceng diculik orang. Tapi ia malah jadi terpisah jauh dengan Yo Ko dan Hakim Roda Mas.

Terjadi pertempuran hebat antara Roda Mas dengan Li Mo Chou. Ilmu Roda Mas lebih tinggi, tetapi Li lebih banyak pengalaman dan ia menggunakan bayi Kwee Siang sebagai tameng, karena ia tahu Roda Mas menginginkan anak itu hidup-hidup. Yo Ko menyaksikan dengan khawatir, saat bayi berhasil direbut Roda Mas, ia sigap merebutnya kembali.  Kini Yo Ko bertarung dengan Roda Mas. Yo Ko minta bantuan Li Mo Chou tapi Li hanya menonton saja hingga Yo Ko kewalahan.  Yo Ko mendapat akal, tiba-tiba ia melemparkan bayi kepada Li Mo Chou dan berseru ‘tangkap!’ Li Mo Chou reflek menangkap. Yo Ko tahu Li juga menginginkan bayi itu untuk ditukar kitab Hati Gadis Suci. Li mengira Yo Ko percaya kepadanya karena masih satu perguruan. Dengan begini otomatis Yo Ko dan Li dalam satu tim melindungi bayi dan melawan Roda Mas, merekapun berhasil kabur ke sebuah gua. Roda Mas tidak langsung masuk gua karena takut jebakan.

Ni Mo Chee juga muncul di muka gua. Ia dan Roda Mas membakar rumput di depan mulut gua untuk memaksa Yo Ko dan Li Mo Chou keluar karena asap. Bayi Kwee Siang mulai batuk dan menangis. Yo Ko melihat jarum Li Mo Chou dan mendapat akal, ia menancapkan jarum-jarum tersebut di mulut gua.

Episode 24

Yo Ko berteriak seolah-olah ada jalan keluar lain di gua itu. Ni Mo Chee/Nimo Singh langsung berjalan ke belakang gua, tapi Roda Mas tak mau kena tipu. Yo Ko dan Li Mo Chou pura-pura berkelahi (lucu deh mereka akur main sandiwara). Roda Mas mengintip dan tahu mereka berpura-pura, maka ia masuk dan kakinya terkena jebakan jarum beracun. Roda Mas langsung mengerahkan tenaga dalamnya untuk menetralkan racun. Nimo Singh yang tidak curiga justru selamat dari jarum,  ia kembali setelah melihat tak ada jalan dibelakang gua. Tetapi ia dibohongi Roda Mas, dibilang Yo Ko dan Li Mo Chou sudah kehabisan napas di dalam gua, maka ia masuk dan kakinya juga kena jarum. Sadar Roda Mas sudah kena dan tidak memperingatkannya, malah menjebaknya,  ia marah besar. Keduanya berduel sampai tidak melihat tebing, mereka jatuh menjauhi Yo Ko dan Li Mo Chou.

Melihat sikap Yo Ko yang begitu khawatir akan keselamatan bayi, Li Mo Chou makin yakin itu anak Yo Ko. Ketika dibilang itu anak Kwee Ceng, ia mengira Yo Ko menakutinya dengan nama Pendekar Kwee. Ia malah menghina Bibi Lung yang sampai punya anak.  Yo Ko marah, katanya walau ia berencana menikahi gurunya, mereka berdua masih suci karena belum menikah, mana mungkin punya anak! Li Mo Chou tambah menghina dan mengungkit titik merah di lengan Bibi Lung  yang sudah hilang. Yo Ko meredam kemarahan karena ia takut Li Mo Chou menyakiti Kwee Siang. Katanya asal Li Mo Chou janji tidak menghina gurunya, ia akan menurut Li Mo Chou. Yo Ko disuruh melihat keadaan diluar. Nimo Singh dan Hakim Roda Mas sudah tak ada. Saat hendak kembali ke gua, Li Mo Chou malah keluar membawa bayi pulang ke rumah, katanya nanti ditukar dengan kitab Hati Gadis Suci. Kata Yo Ko boleh saja, tapi bayi itu harus disusui dulu. Li Mo Chou malu dan tersinggung; enak saja, aku masih suci mana mungkin menyusui bayi! Yo Ko tertawa; maksudnya cari orang buat menyusui. Li Mo Chou bilang, memang tak bisa dikasi nasi? Punya gigi saja belum, kata Yo Ko🙂

Roda Mas berhasil menetralkan racun di kaki dengan kehebatan tenaga dalamnya, tapi Nimo Singh tak tertolong karena begitu kena ia malah bertarung dengan Roda Mas, hingga racunnya hampir menjalar dan ia harus mengamputasi kakinya. Sementara itu Bibi Lung berkuda nyasar sendirian.

Yo Ko dan Li Mo Chou tiba di pemukiman untuk mencari wanita menyusui, tapi semua sudah porak-poranda oleh pasukan Mongol, bahkan Li Mo Chou pun mengakui kekejaman mereka. Di perjalanan mereka dihadang seekor macan tutul, Li Mo Chou spontan melempar jarum beracun, tapi Yo ko menangkisnya dengan pedang. Li Mo Chou bingung, buat apa Yo Ko susah-susah berkelahi dengan macan tutul. Ternyata itu macan tutul betina yang punya air susu, Yo Ko menaklukkan dan mengikat si macan, menjadikannya induk menyusui buat bayi Kwee Siang.

Malam hari mereka tinggal di gua, Li Mo Chou mengusir nyamuk dari sang bayi. Terdengar suara aneh di luar. Yo Ko keluar, ternyata seekor rajawali yang sedang bertarung dengan ular. Rajawali ini sebetulnya hampir sejenis dengan rajawali Kwee Ceng dan Oey Yong, tapi rupanya amat buruk dan dekil, bulunya rontok tak berbentuk.  Yo Ko membantu rajawali mengalahkan ular. Rajawali itu seolah berterimakasih dan menuntun Yo Ko ikut ke sarangnya. Ternyata tempat yang ditunjukkan adalah sebuah makam di dalam gua dari seorang pendekar jaman dahulu, Tuk Ku Kau Pai/Dugu Qiubai, yang bergelar Setan Pedang Kesepian. Kesepian karena tak kunjung menemukan lawan bertanding, saking hebat kungfunya. Yo Ko menemukan kedamaian di makam orang hebat tersebut. Tahu ajalnya tak lama, ia bertekad akan kembali untuk mati di situ setelah menyerahkan bayi pada Kwee Ceng dan mengucapkan selamat tinggal pada Bibi Lung.

Ketika ia kembali ke gua, Li Mo Chou bilang ada suara seperti hantu atau orang gila di luar. Yo Ko keluar lagi menyelidiki, ternyata ayah Bu bersaudara, Bu Sam Tong, yang menangis meraung-raung menyesali anaknya yang ingin saling berkelahi sampai mati. Yo Ko muncul dan memperkenalkan diri, tapi Bu SamTong mengira Yo Ko yang mengompori Bu bersaudara berkelahi. Mereka bertarung, Yo Ko sempat merasakan hebatnya jurus Jari Matahari Bu Sam Tong. Tiba-tiba Bu bersaudara datang, Yo Ko mengajak Bu Sam Tong sembunyi. Bu bersaudara saling berjanji jika salah satu mati, yang lain harus merahasiakan. Bu Sam Tong menangis sedih dan malu, Yo Ko iba melihatnya. Walau ia tak peduli Bu bersaudara, tapi melihat Bu Sam Tong, Yo Ko merasa kasihan. Ia merindukan sosok ayah dan ingin berbuat baik pada orang lain sebelum ajalnya tiba 5 hari lagi. Ia menawarkan untuk menolong, syaratnya Bu Sam Tong tak berkeberatan anaknya dihina dan tak boleh keluar dari persembunyian. Bu Sam Tong setuju. Yo Ko keluar dan berkata “Ada apa kalian membicarakan adik Hu (Kwee Hu) calon istriku?”. Dari balik batu, ternyata di tempat itu ada Bibi Lung yang ikut mendengar dan bingung. Yo Ko  mengaku telah dijodohkan dengan Kwee Hu. Awalnya Bu bersaudara tak percaya karena Paman Kwee tak pernah bilang. Tapi mereka percaya setelah Yo Ko bilang Bibi Kwee yang memutuskan, tapi masih rahasia, setelah ia berjasa menyelamatkan Siangyang. “Jadi sekarang lebih baik kalian berdua kembali ke Siangyang membantu ayah mertuaku berperang” kata Yo Ko. Bu bersaudara menurut. Bu Sam Tong muncul dan malah berterima kasih pada Yo Ko hingga ketahuan sandiwara mereka. Akibatnya Bu bersaudara hendak melawan Yo Ko, Yo Ko berkata ia akan melawan mereka dengan jurus yang diajarkan ibu mertua, “kalau kalah, kalian tak boleh lagi bertemu adik Hu-ku”.  Bibi Lung jadi bingung dan sedih, dikiranya Yo Ko sungguhan.

Bu bersaudara sudah jelas kalah tapi masih tak percaya karena katanya ilmu Tongkat Pemukul Anjing Yo Ko hanya hasil curian dari mengintip Tetua Luk berlatih (Episode 10). Yo Ko bilang, kalian lama tinggal di Pulau Persik, tapi apa kalian pernah diajar ilmu Pulau Persik? Ia gantian menghajar Bu Bersaudara dengan ilmu dari Oey Yok Su, sehingga mereka yakin bahwa Yo Ko memang calon menantu keluarga Pulau Persik. Mereka kalah dan hendak bunuh diri, tapi dicegah YoKo dengan sentilan.  Bu Sam Tong marah, katanya kalian sungguh memalukan, mau bunuh diri karena wanita. Bu bersaudara mengingatkan ayahnya juga patah hati dan gila karena wanita. (Wanita yang dicintai Bu Sam Tong menikah dengan mantan kekasih Li Mo Chou, walau kemudian menikah dengan istri baru yang menjadi ibu Bu bersaudara, ia masih sering teringat dan patah hati, namun menjadi menyesal saat istrinya meninggal karena menghisap jarum beracun Li Mo Chou di kakinya, makanya emosinya terganggu dan anaknya dititipkan pada Kwee Ceng). Ayah dan anak itu lantas tertawa berpelukan dan akur. Yo Ko sebenarnya mendengar suara wanita menghela napas yang sempat dikiranya Li Mo Chou.  Ketika ia pikir itu mungkin Bibi Lung, ternyata sudah tidak ada.

Sementara itu, Bibi Lung mengira Yo Ko memang akan menikah dengan Kwee Hu. Ia mengembalikan kuda merah ke Chu Ciu Liu,  berpesan agar memberikan ke Yo Ko untuk dipakai ke  Lembah Putus Cinta. Ia memberitahu di mana Yo Ko. Chu Ciu Liu bingung kenapa Nona Lung tak memberikan sendiri ke Yo Ko. Di kejauhan, ada In Cie Peng dan Thio Cie Keng yang melihat Nona Lung.

Bu Sam Tong mengingatkan anaknya bahwa yang penting adalah membalas dendam ibu mereka ke Li Mo Chou. Mendengar ini Li Mo Chou keluar dari gua dan malah menantang mereka, terjadilah perkelahian 3 lawan 1. Yo Ko datang dan melihatnya sebagai kesempatan merebut bayi “Kakak Li, sini aku yang bawa bayinya!” Tapi Li Mo Chou tak terjebak,  ia melawan Bu bertiga sambil tetap menggendong bayi, malah mengancam akan membunuh bayi, kalau Yo Ko coba merebutnya.  Bu Sam Tong sempat mengira Yo Ko sekongkol dengan Li Mo Chou. Li  Mo Chou terluka kena jari matahari Bu Sam Tong, ia lari ke gua  kemudian keluar dari gua menaiki macan tutul, kabur sambil melemparkan jarum beracunnya. Bu Sam Tong sempat mengelak, tapi Bu bersaudara terkena. Bu Sam Tong mau menghisap racun di kaki anaknya, tapi ditotok oleh Yo Ko. Pikir Yo ko, hidupnya tinggal 5 hari, tak ada bedanya mati sekarang atau 5 hari lagi, yang penting bisa mati berguna membahagiakan seorang ayah yang menyayangi anaknya.  Yo Ko pun menghisap racun di kaki Bu besar dan Bu kecil. Ketika Chu Ciu Liu dan kuda merah datang ke tempat itu, pandangan Yo Ko sudah kabur dan ia tak sadarkan diri.

Episode 25

Nona Lung benar-benar mengira Yo Ko akan menikah dengan Kwee Hu. Ia memberi pedangnya pada Kwee Hu, mengatakan pedang itu pasangan pedangnya Yo Ko. Kwee Hu bingung. Saat hendak pergi, Nona Lung tak sengaja mendengar percakapan Thio Cie Keng yang meledek In Cie Peng; katanya In Cie Peng tak pantas jadi Ketua murid, karena sudah berbuat dosa dan memikirkan Nona Lung terus.Thio Cie Keng mengancam akan mengadukan ‘peristiwa di bawah pohon di gunung Zhong Nan’, katanya “Kau kira aku tidak tahu siapa yang menutup mata Nona Lung dan melepaskan pakaiannya?”. Nona Lung terkesiap, demikian juga Kwee Hu yang ikut mendengar di belakang. Thio Cie Keng dan In Cie Peng berkelahi, In Cie Peng mengakui perbuatannya, ia tak pantas jadi ketua, ia sendiri yang akan melapor ke Senior mereka. Saat itulah Nona Lung muncul menatap mereka, kedua pendeta itu ketakutan seperti melihat hantu. Nona Lung bertanya “Apakah itu benar?” In Cie Peng mengiyakan,”Bunuh saja aku” katanya. Nona Lung langsung terguncang emosinya dan muntah darah. Ia terus mengikuti 2 pendeta yang kabur ketakutan itu. In Cie Peng sebenarnya ingin menyerahkan diri, karena itu kesalahan dia sendiri, tapi Thio Cie Keng mengingatkan, menyerahkan diri bisa mencemarkan nama perguruan Coan Cin.

Yo Ko masih tak sadarkan diri. Bu Sam Tong mendatangkan paman gurunya, biksu asal India untuk mengobati Yo Ko. (Biksu itu adalah ahli pengobatan, adik seperguruan Kaisar Selatan, yang di PPR membantu Kwee Ceng menerjemahkan bahasa Sansekerta di bagian terakhir kitab 9 Yin). Kwee Ceng, Oey Yong, Chu Ciu Liu, Bu Sam Tong dan Bu bersaudara mendampingi Yo Ko di kamar sementara sang biksu mendiagnosa Yo Ko. Ternyata racun jarum yang dihisap Yo Ko bertemu dengan racun bunga cinta yang ada di tubuhnya, hingga menjadi terurai dan tidak berefek mematikan. Tiba-tiba Kwee Hu muncul. Tahu adiknya dibawa Li Mo Chou, ia mengira Yo Ko yang memberikan adiknya pada Li Mo Chou. Kwee Ceng marah mendengar tuduhan Kwee Hu, ia menyuruh semua keluar supaya Yo Ko bisa istirahat. Yo Ko akhirnya terbangun. Bu Sam Tong memberi hormat pada Yo Ko dan memanggilnya ‘saudara’, padahal mereka beda generasi. Katanya, hanya gurunya, Biksu/Kaisar Selatan yang mau menyelamatkan nyawa orang tanpa mempedulikan nyawa sendiri. Yo Ko heran kenapa ia tidak mati, padahal sudah lewat 5 hari, ia juga merasa segar. Tapi dadanya langsung sakit lagi begitu ia teringat Bibi Lung. Biksu India berkata, racun bunga cinta tetap harus disembuhkan. Ia ingin pergi ke Lembah Putus Cinta untuk mempelajari sendiri karakter racun tersebut agar dapat merumuskan pemunahnya. Selama ia pergi, Yo Ko dianjurkan untuk menjaga pikiran dan perasaannya dari emosi cinta, kalau tidak, racun akan aktif menyebar ke organ dalam dan Yo Ko tak tertolong.

Bu Sam Tong dan anak-anaknya ikut ke Lembah Putus Cinta, katanya ia akan kembali ke resepsi pernikahan Yo Ko dan Kwee Hu. Rupanya mereka masih mengira cerita Yo Ko itu benar. Saat hendak menyiapkan kuda untuk berangkat, Kwee Hu bingung kenapa semua orang pergi demi Yo Ko, apalagi Bu bersaudara tidak memanggilnya “Adik Hu” lagi melainkan “Adik seperguruan”. Bu Sam Tong malah menyelamatinya soal pernikahan dengan Yo Ko. Kwee Hu juga dimarahi Kwee Ceng karena di tengah urusan penting mempertahankan kota Siangyang, Kwee Hu malah membuat Bu bersaudara berkelahi dan mengakibatkan Yo Ko hampir mati. Seumur hidup Kwee Hu tak pernah mengaku salah, maka ia tetap membantah walau Oey Yong sudah membujuknya. Kwee Ceng kesal dan hendak menamparnya, tapi dicegah Oey Yong. Didikan ibu Kwee Ceng amat keras dan tegas, tapi ia tak bisa memukul putrinya sendiri karena Oey Yong yang tak pernah merasakan kasih sayang ibu lebih memanjakan Kwee Hu. Kwee Ceng kesal dan memukul meja sampai hancur.

Kwee Hu tambah ngambek dan pergi dari ruangan. Ia melihat pedang pemberian Nona Lung, makin tumbuh bencinya pada Yo Ko. Ia melabrak Yo Ko yang sedang tidur. Dulu ia jadi pusat perhatian, sekarang semua orang mengkhawatirkan Yo Ko, bahkan karena Yo Ko, Bu bersaudara tak mengacuhkannya lagi, ayahnya marah padanya. Kwee Hu mencerocos sampai menuduh Yo Ko menculik adiknya untuk ditukar pemunah, tapi Yo Ko menanggapi dengan gayanya yang cuek dan senyum santai. Ia menghormati orang tua Kwee Hu, makanya tidak begitu meladeni ocehan Kwee Hu. Tapi saat Kwee Hu mulai menghina gurunya, Yo Ko tak bisa diam; jangan hina guruku, ia suci dan tak berdosa. Kwee Hu mencibir; suci apanya, sudah berbuat memalukan dengan pendeta. Yo Ko spontan menampar Kwee Hu. Seumur hidup Kwee Hu belum pernah ditampar, apalagi lagak Yo Ko yang habis menampar malah kembali tidur dan tidak menyesal, membuat darah Kwee Hu mendidih. Ia ngomel tak karuan, Yo Ko tetap tak mengacuhkannya hingga Kwee Hu makin menjadi-jadi, “Aku harus bunuh kamu untuk balas dendam adikku”, katanya sambil mengayunkan pedang. Yo Ko kaget dan menangkis dengan tangannya. Darah segar menciprati muka dan baju Kwee Hu, ia sendiri kaget dan histeris. Ia kabur ke ibunya. Oey Yong terkejut melihat Kwee Hu bersimbah darah. Dasar Kwee Hu, yang pertama dilaporkan adalah “Ibu… kakak Yo menamparku..” baru selanjutnya “dan aku menebas lengannya…”. Belum habis kaget Oey Yong, Kwee Ceng datang dan bertanya ada apa. Oey Yong ketakutan tak mampu berkata-kata. Kwee Hu berlindung di balik tubuh ibunya. Oey Yong hanya berkata “Kakak Ceng, Yo Ko terluka, lekas pergi ke kamarnya”. Setelah Kwee Ceng pergi, ia menyuruh Kwee Hu kabur, ia tahu Kwee Ceng amat tegas dan takut Kwee Hu jadi sasaran kemarahan. Ia menyusul Kwee Ceng ke kamar Yo Ko. Mereka tak melihat Yo Ko, melainkan sepotong lengan penuh darah di lantai! Keduanya amat syok, Kwee Ceng bahkan terjatuh.

Yo Ko tak ingin bertemu keluarga Kwee lagi, ia kabur dengan kuda, melewati jalan yang sepi sambil menahan sakit, jatuh pingsan terbawa arus sungai sampai dikerubuti ular.

2 pendeta yang menghindari Nona Lung sampai di rumah makan di mana ada Hakim Roda Mas dan Nimo Singh. Melihat ini Roda Mas mendekati Thio Cie Keng, katanya, kalau kau mau bekerjasama denganku, aku tak hanya melindungimu dari kejaran gadis itu, tetapi juga bisa membuatmu jadi ketua Coan Cin. Thio Cie Keng setuju, akhirnya mereka berempat berkuda bersama. Di perjalanan, mereka bertemu keledai yang dipasangi bendera/panji kerajaan Mongol, ternyata di belakangnya Bocah Tua Nakal Ciu Pek Tong. Katanya, ia ingin menghadiahkan panji Mongol pada Kwee Ceng. Nimo Singh khawatir kembali pada Kubilai, tak hanya mereka tak berhasil membunuh Kwee Ceng, tapi panji kerajaan juga dicuri. Hakim Roda Mas tahu kelemahan Ciu Pek Tong adalah selalu tergiur untuk bermain. Katanya; curang, kau mencuri bendera saat aku tidak ada. Kalau mau, permainan kita ulang, aku sembunyikan panji dan kita lihat apakah kau bisa merebutnya. Taktik itu berhasil, Roda Mas mengambil kembali panji kerajaan sehingga Kubilai menganggapnya pahlawan. Roda Mas memperkenalkan 2 pendeta Coan Cin pada Kubilai. Thio Cie Keng sopan dan menjilat Kubilai, sementara In Cie Peng tak sudi dan pergi. Thio Cie Keng diajak Roda Mas untuk menjebak Ciu Pek Tong.

Di tenda, In Cie Peng mengingatkan bahwa bersekutu dengan Mongol adalah dosa besar, tapi Thio Cie Keng malah berdalih; kalau tidak karena dosa yang kau perbuat pada Nona Lung, kita tak akan dikejar gadis itu dan kita tak akan terjebak di sini!
Yo Ko ditolong rajawali dan dibawa ke sarangnya di gua, Yo Ko merasa lega kalaupun ia mati sengsara, setidaknya ada yang menemani. Rajawali memaksa Yo Ko memakan empedu ular sebanyak-banyaknya, padahal rasanya pahit dan Yo Ko sudah tidak tahan lagi. Tapi Yo Ko mengingat hidupnya yang amat pahit, mungkin tidak ada apa-apanya dibanding empedu ular. Akhirnya ia menurut saja setiap rajawali menjatuhkan empedu ular ke mulutnya dengan paruhnya. Di perkemahan Mongol, Ciu Pek Tong mulai mencari panji perang yang disembunyikan Hakim Roda Mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: