Sinopsis Return of the Condor Heroes 2006 Episode 26-30

Episode 26

Thio Cie Keng awalnya ragu bekerjasama dengan Hakim Roda Mas untuk mengerjai Ciu Pek Tong, karena Bocah Tua Nakal itu adalah seniornya yaitu adik seperguruan pendiri aliran Coan Cin, Ong Tiong Yang. Namun bukan Roda Mas kalau tak berhasil membujuk. Thio Cie Keng berhasil memancing Ciu Pek Tong ke gua hingga tangannya terkena laba-laba beracun.

Nona Lung yang masih mengikuti Thio Cie Keng makin memandang rendah Thio yang tak hormat pada seniornya. Ia menggunakan sarung tangan dan jarum tawon untuk mengatasi laba-laba beracun itu, tapi Ciu Pek Tong sudah terlanjur kena racun. Pertempuran hebat antara Nona Lung dengan Hakim Roda Mas terjadi lagi. Walau ilmu Nona Lung masih di bawah Roda Mas, tapi saat ini Roda Mas masih trauma akan jarum Li Mo Chou yang hampir membunuhnya, ia tahu Nona Lung dari perguruan yang sama dengan Li Mo Chou maka ia amat berhati-hati hingga pertarungan ini hampir seimbang. Selendang Nona Lung sempat membelit tubuh Roda Mas, tapi berhasil lepas. Serangan jarum pertama Nona Lung berhasil ditangkis dengan jubahnya, serangan jarum kedua, Roda Mas malah menggunakan Ciu Pek Tong sebagai tameng hingga jarum-jarum Nona Lung hinggap di pantat Ciu Pek Tong. Roda Mas dan Thio Cie Keng menunggu Ciu Pek Tong benar-benar mati. Ternyata di dalam gua, Ciu Pek Tong justru minta Nona Lung menusukkan lagi jarum ke seluruh tubuhnya, karena saat tertusuk tubuhnya terasa enak.

Sementara itu, Yo Ko dituntun rajawali ke ‘makam pedang’ yang merupakan koleksi pedang peninggalan Setan Pedang Kesepian Dugu Qiubai. Makam pertama berisi pedang yang digunakan Dugu ketika remaja, bentuknya panjang dan tipis, bagus untuk gerakan cepat. Makam kedua berisi ‘pedang mawar ungu’, bersifat fleksibel, dipakai Dugu sebelum usia 30 tahun. Makam ketiga adalah pedang besi hitam berat bertepi tumpul, awalnya Yo Ko sulit mengangkatnya. “Kesederhanaan membawa keunggulan”, demikian karakteristik pedang yang dipakai Dugu mengarungi dunia persilatan sebelum usia 40 tahun tersebut. Makam keempat dikira Yo Ko pedang yang lebih berat, namun ternyata hanya sebilah pedang kayu sederhana. Keterangannya: Setelah usia 40, saya tak lagi butuh senjata. Ranting semak-semak, batang pohon, batu, semua bisa jadi senjata. Setelah latihan yang mendalam, saya telah mencapai tahap ‘mengalahkan pedang tanpa pedang’.

Rajawali sakti dulunya adalah teman latihan pendekar Dugu, maka ia juga menganggap Yo Ko teman berlatihnya dan menuntun Yo Ko untuk belajar menggunakan pedang berat melawan derasnya arus sungai kala hujan. (Empedu ular yang dimakan Yo Ko saat ia terluka parah kehilangan lengannya, ternyata adalah empedu ular spesies langka yang berkhasiat membuat Yo Ko dapat mengefektifkan tenaga dalamnya yang dulu sebenarnya sudah baik namun tak terkendali)

Gabungan pedang berat serta berlatih di tengah deras arus sungai, membuat ayunan pedang Yo Ko di darat jadi amat bertenaga. Dahulu ia mengandalkan kecepatan dan kelincahan gerakan, seperti ilmu Hati Gadis Suci atau Tongkat Pemukul Anjing, sekarang ia lebih menggunakan tenaga dalamnya dengan gerakan sederhana namun penuh kekuatan. Ia merasa ilmunya justru meningkat jauh.

Ciu Pek Tong berusaha menetralkan racun dengan tenaga dalamnya, namun butuh waktu lama. Roda Mas takut Ciu Pek Tong keburu sembuh, jadi ia melepaskan lagi laba-laba beracun. Di dalam gua, Nona Lung dan Ciu Pek Tong membuat pagar yang terbuat dari jarum, hingga laba-laba tak berani mendekati jarum itu. Ciu Pek Tong ngobrol dengan Nona Lung soal menghadapi kebosanan di dalam gua. Nona Lung pernah tinggal di kuburan, jadi tak masalah. Ciu Pek Tong menceritakan waktu ia ditawan di gua Pulau Persik, ia mengadu tangan kiri dengan tangan kanannya, hingga menciptakan sebuah jurus (PPR Episode 25). Mendengar ini Nona Lung mendapat ide. Jurus Hati Gadis Suci yang ia mainkan berpadu dengan jurus pedang Coan Cin yang dimainkan Yo Ko sudah terbukti dapat mengalahkan Hakim Roda Mas. Bila ia berhasil memainkan dua jurus yang berbeda dengan tangan kiri dan kanannya, maka ia sendiri dapat mengalahkan Roda Mas tanpa harus dibantu Yo Ko. Kata Ciu Pek Tong, tak semua orang bisa melakukannya, ada yang hanya belajar beberapa hari, ada yang seumur hidup tak akan bisa.

Contohnya Kwee Ceng dan Oey Yong. Kwee Ceng terkenal sederhana, Oey Yong kelewat cerdas. Tapi Kwee Ceng bisa belajar jurus ini dalam waktu 3 hari, sementara Oey Yong terlalu banyak berpikir, malah tidak bisa. Ciu Pek Tong menyuruh Nona Lung menggambar lingkaran dan kotak secara bersamaan, ternyata baik tangan kiri menggambar kotak, tangan kanan menggambar lingkaran ataupun sebaliknya, tidak ada masalah buat Nona Lung. Nona Lung bahkan menulis “Bocah Tua Nakal” dan “Gadis Naga Kecil/Xiao Lung Ni” secara bersamaan dengan kedua tangannya. Ia segera mempraktekkan 2 jurus berbeda dengan tangan kanan dan kirinya.

Sebentar berlatih ia sudah cukup ‘pede’ dan Ciu Pek Tong juga yakin ia bisa melawan Roda Mas untuk memaksanya memberi pemunah. Tapi mereka harus cari cara keluar karena mulut gua dipenuhi jaring laba-laba beracun. Nona Lung melihat seekor lebah hinggap di jaring laba-laba, tetapi tidak mati sebagaimana serangga lain sebelumnya. Ia pun mendapat ide untuk memanfaatkan keahliannya mengendalikan lebah, dengan madu lebah giok andalannya. Taktik ini berhasil mengumpulkan lebah untuk menyerang sarang laba-laba dan menyengat Hakim Roda Mas dan Thio Cie Keng yang menunggu di luar gua. Thio Cie Keng sudah pernah merasakan dahsyatnya sengatan lebah Nona Lung, langsung panik kabur, sementara Hakim Roda Mas tadinya tak percaya lebah itu begitu hebat, namun ketika melihat sarang laba-laba beracun dirusak oleh lebah, ia ikut lari. Padahal, kata Nona Lung, itu hanyalah lebah liar yang ada di sekitar hutan. Kalau lebah peliharaannya akan lebih dahsyat karma bisa membentuk formasi hingga lawan tak mungkin kabur sebelum terkena sengatan hebat.

Melihat kehebatan Nona Lung, Ciu Pek Tong langsung berlutut minta diajarkan mengendalikan lebah. Nona Lung menyanggupi. Ciu Pek Tong melompat kegirangan, tapi racun laba-laba membuatnya kesakitan. Ia kembali minta ditusuk jarum, tapi khasiatnya tak begitu kuat lagi, racun laba-laba masih terasa di perut. Nona Lung mendapat ide untuk memanggil lebah hutan menyengat Ciu Pek Tong. Berhasil, Ciu Pek Tong langsung merasa enak. Nona Lung berjanji mengajari Ciu Pek Tong tapi ia hendak ke gunung Zhong Nan dulu (mengejar pendeta). Ciu Pek Tong malah ingin Nona Lung ikut ke Siangyang menemui Kwee Ceng. Mendengar kata Kwee Ceng, Nona Lung langsung ingat Yo Ko dan Kwee Hu, ia tak sadar Ciu Pek Tong mencuri botol madu gioknya.

Thio Cie Keng kembali ke tenda Mongol dan membuat kesepakatan dengan Kubilai bahwa bila ia berhasil membuat perguruan Coan Cin tunduk pada Mongol, maka ia didukung Mongol menjadi pemimpin Coan Cin. Ia kembali berkuda ke gunung Zhong Nan dan mendapat pengawalan dari Mongol. In Cie Peng khawatir dan mengingatkan Thio agar tak menjanjikan apapun pada Mongol. Sementara itu, Nona Lung juga berkuda ke gunung Zhong Nan

Episode 27 

Setelah cukup lama berlatih dengan rajawali, Yo Ko pergi untuk membalas dendam pada Kwee Hu dan mencari Bibi Lung. Ia sampai di rumah Kwee Ceng dan mencuri dengar pembicaraan keluarga Kwee. Untuk pertama kalinya ia melihat paman dan bibi Kwee yang biasanya rukun, kali ini bertengkar hebat. Oey Yong ngotot ingin pergi sendiri mencari Kwee Siang, ia juga takut apakah mungkin Yo Ko memang menukarkan Kwee Siang dengan pemunah. Kwee Ceng tak ingin istrinya pergi karena kondisinya masih lemah, bahkan katanya, Kwee Siang ditukar pemunahpun ia rela, karena Yo Ko telah banyak berjasa. Oey Yong tak rela, tak sepatutnya anak kembar berpisah, katanya kalau Kakak Ceng tak mau mencari Kwee Siang, ia akan pergi sendiri. Kwee Ceng marah; percuma saja kalau kau temukan Kwee Siang tapi kemudian kau memanjakan ia seperti Kwee Hu, lebih baik aku tidak punya putri sekalian! Oey Yong masih membela Kwee Hu, katanya walau Kwee Hu bersalah namun sudah menyesal. Kwee Ceng kemudian mencari Kwee Hu ke kamarnya.

Kwee Ceng tahu Kwee Hu selama ini sembunyi menunggu amarahnya reda. Ia berkata, “Kakek Yo Ko dan kakekmu seperti saudara kandung dan saling mengangkat saudara. Yo Ko memang keras kepala, tapi dia tak hanya telah menyelamatkan nyawa orang tuamu, tapi juga kamu. Dia masih muda tapi punya perhatian pada rakyat dan negara. Ayah Yo Ko salah dan tersesat, ini karenaku juga yang tak membimbing dia dengan baik, hingga ia mati tragis di Kuil Tombak. Walau tak mati di tangan ibumu, dia mati setelah memukul ibumu. Kita berhutang budi pada keluarga Yo. Aku bermaksud menjodohkanmu dengan Yo Ko, tapi kamu malah memotong lengan Yo Ko!”

Yo Ko mendengar semua ini. Dasar Kwee Hu bebal, semua penjelasan Kwee Ceng seperti tidak masuk di otaknya, ia malah menyangkal “Tapi ayah, Yo Ko itu menculik adikku, dia juga sudah menghinaku, ayah tidak menyuruhku diam saja kalau dihina, kan?” Kwee Ceng tambah marah “Menghinamu bagaimana? Sudah jelas kamu yang potong lengannya, bukan itu artinya kamu yang menghina dia?” Ia minta Kwee Hu memberikan pedang yang dipakai menebas lengan Yo Ko. Katanya, “Seseorang harus punya rasa adil. Aku mungkin keras, tapi kau harus tahu, cintaku kepadamu tak sedikitpun kurang dari cinta ibumu kepadamu. Aku tidak akan menutupi kesalahan anakku, kalau sudah jelas salah, harus dihukum”. Iapun meminta Kwee Hu untuk merentangkan lengannya untuk dipotong. Melihat itu ada rasa haru dalam diri Yo Ko, tapi tak tahu harus berbuat apa, sebelum ia sempat bertindak, Oey Yong datang menggagalkan, ia melempar bayi Kwee Poh Louw hingga Kwee Ceng spontan menangkapnya dan melepas Kwee Hu, setelah itu ia menotok Kwee Ceng. Katanya, ia akan mengantarkan Kwee Hu ke Pulau Persik, ia juga akan mencari Kwee Siang, setelah itu baru memohon ampun pada kakak Ceng-nya atas tindakannya itu.

Oey Yong sadar inilah pertama kalinya ia melepas Kwee Hu pergi jauh seorang diri, sementara ia dahulu seumur Kwee Hu sudah kabur dari rumah dan berkelana sendirian. Ia menyiapkan rompi landak untuk putrinya itu. Kwee Hu disuruh pergi ke Pulau Persik untuk menemui Kwa Tin Ok, guru Kwee Ceng yang buta, memintanya agar membujuk Kwee Ceng tak memotong tangannya. Makin ia melihat anak gadisnya yang cantik itu makin takut Oey Yong melepas Kwee Hu sendiri. Iapun terus menemaninya hingga jauh sampai ke rumah makan dan ia membelikan bekal apel untuk Kwee Hu. Saat itulah ia melihat Li Mo Chou menggendong bayi. Ia terkesiap dan tak mau buru-buru melabrak, takut Li Mo Chou melukai buah hati yang belum sempat ia ingat wajahnya itu. Iapun mengikuti Li Mo Chou dan meninggalkan Kwee Hu sendirian. Ia tak sadar sejak tadi Yo Ko masih membuntutinya.

Oey Yong menyapa Li Mo Chou dengan tata krama dunia persilatan, bertanya bayi siapa yang dibawa Li Mo Chou. Li mengaku itu anak Yo Ko dan Nona Lung, ia malu punya saudara seperguruan berbuat hal terlarang hingga punya anak. Oey Yong pura-pura menanggapi “Tak disangka, Nona Lung kelihatannya suci”. Ia ingin melihat muka anaknya, ia mengeluarkan apel yang dibelinya untuk bekal Kwee Hu dan berkata pipinya seperti apel merah. Melihat wajah Oey Yong menatap si bayi dengan penuh rindu, Li Mo Chou takut Oey Yong merebutnya, hingga terjadilah pertukaran jurus. Li takut Kwee Ceng juga ada di situ dan mengira Oey Yong mau merebut bayi buat Yo Ko, maka ia buru-buru pergi dan minta Oey Yong jangan ikut campur masalah Kuburan Kuno. Oey Yong melemparkan Tongkat Pemukul Anjing untuk menghalangi Li, terjadilah pertarungan 10 jurus lagi. Li Mo Chou berfikir Oey Yong tak mungkin menyakiti bayi ini, maka ia menggunakannya sebagai tameng agar mendapatkan keuntungan dalam pertarungan. Namun Oey Yong punya taktik lain, katanya, ia tak peduli bayi itu mati atau hidup, ia hanya ingin bertarung dengan Li Mo Chou. Oey Yong pun mengeluarkan jurus tongkatnya yang terlihat sangat mematikan dan berkali-kali seperti mengancam nyawa bayi dan Li Mo Chou, padahal sebenarnya ia amat lihai dan punya kendali penuh agar tongkatnya tak sampai mencelakai Kwee Siang. Taktik itu berhasil dan tingkah Li Mo Chou kini malah ngeri melihat Oey Yong -yang disebut pendekar besar- malah kejam terhadap bayi. Melihat ini, Oey Yong meneruskan strateginya “Kalau kau terus repot melindungi bayi itu, menangpun aku tidak akan bangga. Saudari Li, bagaimana kalau kita buang dulu bayi itu agar bertarungnya lebih bebas?”

Tak disangka Li Mo Chou marah mendengar Oey Yong begitu kejam. Oey Yong kini tahu Li Mo Chou memang sayang terhadap bayi itu. Katanya, “Baiklah, taruh dulu bayi itu, baru kita melanjutkan duel dengan adil. Supaya pikiranmu tidak terpecah pada bayi, aku akan lindungi bayi itu dengan pagar tanaman agar aman dari binatang buas, sementara kita bertarung”. Li Mo Chou setuju, Oey Yong membuat rangkaian tanaman yang sebenarnya berupa formasi Pulau Persik hingga tak mudah bagi siapapun nantinya mengambil bayi Kwee Siang. Dengan cara ini ia sudah ‘mengamankan’ Kwee Siang. Sambil merangkai, Oey Yong menyindir Li Mo Chou yang pernah menghina ayahnya dengan menyebarkan berita miring (Episode 14-15). Katanya, kau menghina ilmu Pulau Persik, coba saja ambil kembali anak ini kalau bisa. Li Mo Chou panik dan segera mengambil Kwee Siang, tapi jebakan formasi menghalanginya.

Merekapun lanjut bertempur, kali ini Oey Yong menggunakan jurus 8 diagram 9 istana langit, diakhiri dengan serangan tongkat yang mematikan hingga Li Mo Chou mengaku kalah, tapi kemudian meledek “Kalau ilmu Pulau Persik memang hebat, kenapa kamu masih campur menggunakan jurus tongkat dari Pengemis Utara berjari 9?” Oey Yong tak terpancing, malah balas meledek “Karena ilmu tadi itu lebih pas buatmu, judulnya saja ‘Menghajar anjing di jalan’”. Ia terus menyerang dengan tongkatnya, hingga Li Mo Chou terdesak dan melemparkan jarum perak andalannya. Serangan pertama berhasil ditangkis, serangan kedua jarum itu menancap di perut Oey Yong. Melihat ini Li Mo Chou ingin mengakhiri dengan tapak 5 racun. Siapa sangka, Oey Yong memang memancing Li Mo Chou, ia membalikkan jarum perak dari perutnya ke telapak tangan Li. Ternyata jarum tersebut ditangkis Oey Yong dengan apel yang ada diperutnya dan dimentalkan kembali hingga melukai telapak tangan Li Mo Chou. Oey Yong menyerang lagi hingga Li Mo Chou tidak bisa mengambil pemunah racunnya sendiri.

Li Mo Chou akhirnya mengaku kalah dari Oey Yong baik dari ilmu silat maupun kepintaran. Ia rela mati di tangan Oey Yong, tapi ia berpesan “Tolong jangan celakai bayi itu”. Oey Yong senang mendengarnya, tapi ia masih juga mengerjai Li “Sekarang pemunahnya ada di aku. Kamu boleh pilih, mau kamu selamat atau bayi itu selamat? Kalau aku beri kau pemunah, bayi itu tak akan selamat”. Tak diduga, Li Mo Chou ragu dan akhirnya memilih keselamatan bayi. Oey Yong akhirnya berterus terang “Saudara Li, terimakasih atas perhatianmu pada anakku Kwee Siang”. Ia pun memberi Li pemunah dan menghampiri Kwee Siang di semak-semak. Alangkah terkejutnya ia ternyata Kwee Siang sudah tak ada. Kesal dan marah, namun ia mencoba berpikir jernih : Hanya 3 orang yang menguasai formasi Pulau Persik selain aku : Ayah, Thia Eng dan… Yo Ko?

Sementara itu di kedai makan, Kwee Hu tak sabar menunggu ibunya yang tak kunjung datang. Ia pun beranjak mencari. Tahu-tahu Yo Ko muncul duduk di kuda merahnya dengan menggendong bayi. Kwee Hu kaget gemetaran, langsung menghunus pedang. Yo Ko tadinya ingin membalas dendam, tetapi melihat muka ketakutan Kwee Hu, ia hanya mengibaskan lengan bajunya saja, namun kekuatan hembusan tenaga dalam dari lengan baju yang kopong itu dapat mematahkan pedang Kwee Hu! Yo Ko berhasil menggabungkan kelihaian ilmu Kuburan Kuno dalam menggunakan obyek lembut sebagai senjata (selendang, kemoceng, dsb), dengan kekuatan tenaga dalamnya yang sekarang. Ia pergi dan urung membalas dendam.

Li Mo Chou akhirnya bergabung dengan Oey Yong untuk mencari Kwee Siang. Mereka bertemu Kwee Hu yang ketakutan. Kwee Hu yakin Yo Ko pergi ke Lembah Putus Cinta untuk menukar adiknya dengan pemunah. Namun tidak dengan Oey Yong, ia pikir Yo Ko akan ke gunung Zhong Nan mencari Bibi Lung. Katanya pada Kwee Hu “Kamu tumbuh bersama kakak Yo, kenapa kamu tidak juga mengerti karakternya? Harga diri Yo Ko amat tinggi dan pendendam bila diperlakukan kasar. Kamu memotong lengannya, ia ingin balas dendam, tapi tak tega. Hatinya baik tapi ia juga tak mau melupakan dendamnya begitu saja. Kamu menuduhnya menculik adikmu, maka lebih baik ia culik sekalian, ia hanya ingin kita semua khawatir. Tapi aku yakin ia tak bermaksud jahat. Kalau amarahnya sudah mereda, ia akan kembali”. Oey Yong memutuskan Kwee Hu harus ke gunung Zhong Nan dulu meminta maaf pada Yo Ko, setelah itu baru ke Pulau Persik. Kwee Hu masih juga ngeyel dan tak mau minta maaf, katanya tak sudi karena Yo Ko telah menghinanya. Oey Yong marah “Sudah jelas kamu yang menghina dia dengan memotong lengannya. Kalau dia mau balas dendam, kamu sudah mati dari tadi dan tidak berdiri di sini”. Mereka bertiga mampir di kedai makan. Tahu perjalanannya akan panjang, Oey Yong meminta pemilik kedai menyampaikan surat untuk mengabarkan Kwee Ceng, tapi orang itu menolak diberi imbalan, karena Pendekar Kwee telah berjasa menyelamatkan rakyat. Walau Oey Yong memaksa, kata pemilik kedai itu “Bisnis saya akan bangkrut kalau orang tahu saya menerima uang dari Pendekar Kwee hanya untuk tugas ini”. Kwee Hu tersenyum bangga (nggak jelas ni anak, yang hebat ortunya, dia yang sombong). Ia sudah biasa diperlakukan demikian karena orang tuanya amat dihormati. Li Mo Chou hanya menghela napas.

In Cie Peng dan Thio Cie Keng kembali ke gunung Zhong Nan, tempat perguruan Coan Cin, saat senior mereka sedang retreat/meditasi untuk memperdalam ilmu. Pada saat yang sama, rombongan Mongol: Ho Tu, Nimo Singh, dan Siao Siang Si datang mencari pendeta Khu Ci Kee sambil membawa maklumat dari kerajaan Mongol untuk dibacakan di sana. In Cie Peng yang ditunjuk sebagai pemimpin sementara, menolak menerima maklumat tersebut. Ia minta waktu mengumpulkan murid-murid Coan Cin untuk berunding. Dalam perundingan, Thio Cie Keng berargumen: Dulu Khu Ci Kee pernah menerima maklumat Mongol, kenapa sekarang tidak? Tapi yang lain membantah karena situasinya berbeda, dulu Mongol adalah sekutu Song untuk melawan Kim/Jin. Sekarang Mongol hendak menguasai Song. Thio Cie Keng terus membujuk, katanya karena perguruan Coan Cin ada di perbatasan wilayah Song dan Mongol, kalau kita menolak maklumat tersebut akan sangat berbahaya. Yang lain jadi menganggap Thio Cie Keng musuh, dan hendak menyerang Thio Cie Keng. In Cie Peng bertindak melerai.

Episode 28

In Cie Peng bertanya, seandainya Khu Ci Kee hadir, apakah ia akan menerima maklumat Mongol? Tentu saja tidak. Thio Cie Keng malah mengejek “Ketuanya kan kamu, bukan Khu Ci Kee”. In Cie Peng tak berani melawan perintah semior, lebih baik mati daripada membelot. In Cie Peng keluar menolak Ho Tu. Thio Cie Keng tak sabar. Ia sendiri yang mendengar Ho Tu membacakan maklumat,  ialah pemimpin Coan Cin yang diakui pemerintah Mongol. Murid-murid Coan Cin melawan Thio. Ho Tu dan Siao Siang Si membantu Thio. Ho Tu memanggil Hakim Roda Mas untuk turun tangan. Yo Ko yang sedang berkuda di gunung Zhongnan dan tadinya ingin kembali ke Kuburan Kuno mendengar ini. Ia mengamankan bayi Kwee Siang diantara bebatuan dan pergi ke Coan Cin.

Berkat bantuan Hakim Roda Mas dan pasukan Mongol, kini seluruh murid Coan Cin yang tidak memihak Mongol diikat. Sementara rombongan Hakim Roda Mas mencari 5 Senior Coan Cin yang sedang bermeditasi, Thio Cie Keng meminta Lu Qing Du, satu2nya pengikutnya untuk membunuh satu persatu murid Coan Cin. Ketika sampai giliran In Cie Peng, Nona Lung muncul “Tunggu, orang ini biar aku yang bunuh”. In Cie Peng pasrah memejamkan mata. Thio Cie Keng tambah senang “Bagus, hutang dosamu lunas, Nona Lung, habis kau bunuh dia kau bisa lapor murid-kekasihmu” Mendengar ini Nona Lung malah berkata “Boleh, tapi aku akan bunuh kamu duluan”. Thio Cie Keng lari menyusul Hakim Roda Mas. Sementara murid-murid Coan Cin sibuk membebaskan ikatan. Roda Mas sama sekali ia tak menduga kungfu Nona Lung telah meningkat pesat. Permainan pedang Yo Ko dan Nona Lung yang dulu ditakutinya, kini dimainkan sendirian oleh Nona Lung. Walau tenaganya tak sebesar tenaga 2 orang, tapi gerakannya jauh lebih cepat dari gerakan 2 orang, tangan kiri dan tangan kanan memainkan gerakan yang berbeda dan tak mampu diantisipasi Roda Mas, hingga ia kalah telak. Kaki Nona Lung menghajar lehernya, ia terluka muntah darah. Rombongan Mongol kaget. Ho Tu, Dhalpa, Siao Siang Si mengeroyok Nona Lung, namun tetap tak terkalahkan. Sayangnya saat itu Nona Lung ingat Yo Ko, hingga konsentrasinya sedikit buyar, ia tak tahu Hakim Roda Mas membopong dari belakang dengan melemparkan roda bergerigi. In Cie Peng melihat ini langsung menyambut roda untuk melindungi Nona Lung. Saat Nona Lung berbalik hendak menyerang dengan pedang, In Cie Peng malah menyambutnya, “Maafkan aku” katanya. Walau benci atas peristiwa penodaan itu, Nona Lung tak pernah membunuh orang, ia menutup matanya, pikirannya kacau.  5 Pendekar Coan Cin keluar dari meditasinya, Khu Ki Kee melihat murid kesayangannya In Cie Peng ditusuk Nona Lung, spontan menghajar Nona Lung hingga terpental dan luka parah. (Kejadian sebenarnya di novel: Nona Lung dihajar gabungan tenaga dalam 5 Pendekar Coan Cin, pada saat yang sama Hakim Roda Mas dan 4 jagoan Mongol memanfaatkan kesempatan dengan ikut menyerang Nona Lung, gabungan tenaga 9 orang ditambah ia tidak konsentrasi mengingat kejadiaan penodaan serta mengingat Yo Ko dan Kwee Hu, mengakibatkan luka dalam yang amat fatal)

Tubuh Bibi Lung yang terlempar disambut Yo Ko yang baru tiba di tempat itu. Saat Bibi Lung minta dipeluk erat, ia sadar tangan Yo Ko hanya tinggal satu. Sekejap ia melupakan semua sakitnya dan malah mengkhawatirkan Yo Ko “Kasihan.. kapan kejadiannya, apa masih sakit?”. Sebaliknya Yo Ko juga tak peduli dirinya, malah mengkawatirkan Bibi Lung, “Tidak sakit lagi, aku masih punya satu tangan untuk memelukmu”. Merasa hidupnya tak lama, Bibi Lung berkata “Temani aku sampai mati, jangan temani nona Kwee Hu”. Yo Ko bilang ia hanya cinta pada Bibi Lung seorang, tak ada hubungan dengan Kwee Hu, dia yang memotong tanganku! Mereka berangkulan di atas batu dan tak peduli pendekar Coan Cin serta rombongan Mongol dari tadi ikut menonton, tak berani juga untuk menyerang. Khu Ci Kee minta pertanggung jawaban Nona Lung karena sudah membunuh In Cie Peng. Nona Lung malah menjawab “ia memang pantas mati”, membuat mereka tambah panas. Thio Cie Keng dan Lu Qing Du belagak membela perguruan dan  menyerang, namun hanya dengan kaki, Yo Ko mengalahkannya sambil tetap merangkul Bibi Lung. Tapi Yo Ko tak mau membunuhnya karena ia mantan gurunya. Hakim Roda Mas maju melawan Yo Ko. Pedang besar Yo Ko melawan roda , namun lebih merupakan adu tenaga dalam, Bibi Lung yang lemah terganggu tatapan mata Roda Mas yang kejam, ia meniupkan jarum ke arah matanya. Adu tenaga dalam amat fatal bila konsentrasi buyar, Roda Mas mencoba menghindar jarum, akibatnya seluruh serangan tenaga dalam Yo Ko ditangkap tubuhnya, ia terlempar jauh dan luka parah. Melihat ‘pelindung’nya kalah, Thio Cie Keng kabur diam-diam. Ho Tu dan Dhalpa mencoba melindungi gurunya dengan menahan pedang Yo Ko. Ho Tu kemudian kabur dengan alasan ia akan membalas dendam kemudian. Melihat Dhalpa yang tak begitu jahat dan setia pada gurunya, Yo Ko kasihan dan menyuruh mereka semua pergi. Mo Kong Chow memuji kehebatan Yo Ko.

Pendekar Coan Cin masih ingin menyelesaikan urusan dengan Yo Ko. Tapi Yo Ko malah ingin menikah dengan Bibi Lung saat itu juga. Katanya, Lim Tiauw Eng -Pendiri Kuburan Kuno- dan Ong Tiong Yang -Pendiri Coan Cin- tak bisa bersama karena terhalang gengsi dan aturan, maka ia dan Bibi Lung tak mau mengulangi kesalahan, mereka malah menuju altar di hadapan lukisan Ong Tiong Yang untuk menikah di sana. Yo Ko menyandera pendekar wanita Coan Cin, Sun Put Ji, agar yang lain tak menghalangi pernikahan ini.

Thio Cie Keng yang kabur malah bertemu dengan Ciu Pek Tong yang sedang praktek mengendalikan lebah dengan botol madu giok curian. Jadilah Thio Cie Keng obyek percobaan sengatan lebah. Tapi Ciu Pek Tong belum begitu mahir hingga lebah kadang menyengatnya sendiri, ia kabur membawa Thio ke arah perguruan Coan Cin.

Pendekar Coan Cin terhina oleh tingkh Yo Ko yang menikah di biara mereka. Khu Ci Kee melihat lonceng besar di luar dan berpikir untuk menghalangi pernikahan dengan lonceng itu. Bibi Lung merasa tak pantas untuk Yo Ko karena ia sudah tak suci lagi, terluka parah dan mungkin sebentar lagi mati. Yo Ko tak peduli.”Mengapa kamu tidak mengerti juga perasaanku. Memang aku ingin bersamamu 100 tahun, supaya aku puas bersamamu. Tapi kalau kita hanya diberikan Tuhan kesempatan menjadi suami istri walau hanya sehari, atau satu, dua jam, aku tetap akan menikahimu”. Yo Ko dan Bibi Lung harus bersujud (kowtow) 3 kali di depan altar, pada kowtow pertama Bibi Lung muntah darah, kata Yo Ko, masih 2 kowtow lagi, tahan ya. Saat itu lonceng besar jatuh dari atas, namun Yo Ko malah mendorong lonceng itu hingga menutupi tubuh Sun Put Ji, sama sekali tak menghalangi pernikahannya. Saat itu lah Ciu Pek Tong datang dengan Thio Cie Keng, dikejar lebah, ia masuk berlindung ke lonceng, melemparkan botol madu ke Nona Lung sambil mengeluarkan Sun Put Ji “Gantian ya” katanya. Bibi Lung langsung mengendalikan lebahnya agar menghalau murid Coan Cin yang menghalangi pernikahan mereka. Ia dan Yo Ko kabur ke ruangan lain.

Dengan perginya lebah, Ciu Pek Tong memindahkan lonceng hingga mengurung Thio Cie Keng. Ia bercerita tentang bagaimana Thio Cie Keng berkhianat hendak mencelakakannya dengan laba-laba beracun, kalau tidak ada Nona Lung ia sudah mati. Khu Ci Kee masih ragu Thio Cie Keng berkhianat, ia menginterogasinya, tapi murid-murid lain membenarkan Ciu Pek Tong. Thio Cie Keng berdalih  ia terpaksa demi keselamatan para guru yang sedang bertapa, lagipula katanya In Cie Peng tak pantas jadi ketua karena sudah menodai Nona Lung, ia melihat sendiri kejadiannya, makanya hari ini In Cie Peng rela mati di tangan Nona Lung.

Yo Ko dan Bibi Lung sembunyi di perpustakaan, dimana terdapat banyak peti. Tak ada jalan keluar melainkan sebuah jendela menghadap ke jurang. Bibi Lung terluka dan tidak bisa menggunakan ilmu meringankan tubuh. “Bibi, kamu mau pergi kemana?” Bibi Lung ingin kembali ke Kuburan Kuno, tapi ia tak bisa menyelam karena sakit. Kata Yo Ko, ini permintaan pertama istriku, jadi aku harus mengabulkan. Ia sibuk menyiapkan peti dan tali untuk membawa Bibi Lung. Sementara itu Para Senior Coan Cin yang menyadari kekeliruan mereka menawarkan untuk menyembuhkan Nona Lung. Tapi Yo Ko tak peduli. Ia membawa Nona Lung dalam peti dan menaikinya di atas  tali untuk menyeberang keluar. Nona Lung meninggalkan botol madu pemunah, membuat para Pendekar Coan Cin makin menyesal karena tahu Nona Lung tidak pernah bermaksud jahat.

Sampai di muka jalan air Kuburan Kuno, Yo Ko menatap dan mengusap bibir Bibi Lung yang pucat dengan air. Kata Yo Ko, kertas lilin yang ada di dalam peti itu kedap air.  Udara di dalamnya juga cukup untuk menyelam. “Oh ya, aku juga membawa putri Paman Kwee” katanya. Bibi Lung terkejut “Hah, dia ada di sini juga?” Yo Ko tersenyum “Bukan putri Paman Kwee yang besar, tapi yang kecil, yang belum belajar memotong lengan orang”. Ia pun menggendong Bibi Lung dan Kwee Siang masuk ke dalam peti, membawanya menyelam ke Kuburan Kuno.

Episode 29

Para Senior Coan Cin akhirnya menyadari bahwa In Cie Peng memang melakukan dosa besar, tak heran Nona Lung benci pada aliran Coan Cin. Namun terlepas dari kebenciannya, Nona Lung masih meninggalkan botol madu untuk mengobati mereka. Kata Sun Put Ji, berarti memang kitalah yang bersalah terhadap Nona Lung. Ciu Pek Tong diam-diam mengambil botol madu dari pendekar Coan Cin, namun tanpa ia sadari botol itu jatuh pas di depan lubang lonceng tempat Thio Cie Keng dikurung. Thio Cie Keng mengambil botol itu dan mengancam para seniornya harus mengampuni nyawanya, kalau tidak ia akan menelan semua pemunah tersebut. Pendekar Coan Cin panik karena kesalahan Thio Cie Keng amat besar dan tidak mungkin diampuni. Untung Ciu Pek Tong mengakali, katanya: Thio Cie Keng, coba aku cium apakah itu benar-benar madu pemunah? Maksud Ciu Pek Tong ingin mengambilnya dari lubang, namun saat botol dibuka di dekat lubang, malah datang lebah-lebah yang langsung menyerbu Thio Cie Keng dan menyengatnya sampai mati di dalam lonceng itu.

Yo Ko dan Bibi Lung menghabiskan malam pertama mereka di Kuburan Kuno. Ternyata nenek guru Lim Tiauw Eng menyimpan baju pengantin, perhiasan serta lilin merah yang tidak pernah digunakannya karena tak pernah menikah. Bibi Lung meminta Yo Ko memakaikannya baju pengantin. Untuk pertama kalinya Yo Ko tidak lagi memanggil Bibi, tetapi Lung er. Mereka menemukan surat-surat Ong Tiong Yang untuk Lim Tiauw Eng. Mengingat Pendekar Coan Cin yang begitu panik melihat mereka menikah, Yo Ko geli sendiri karena ternyata Ong Tiong Yang pun seorang yang romantis dan menjalin hubungan dengan Lim Tiauw Eng. Ia penasaran ingin membaca namun Lung er melarangnya. Akhirnya mereka membaca satu saja surat. Di surat itu ternyata Lim Tiauw Eng pernah terluka parah akibat terkena pukulan Racun Barat Auwyang Hong. Lim Tiauw Eng berhasil melempar jarum ke Auwyang Hong setelah itu menotok jalan darahnya, namun sepertinya Li Mo Chou membebaskan totokan, hingga Lim Tiauw Eng dipukul dan terluka parah. Ong Tiong Yang menghadiahkan ranjang giok untuk menyembuhkan luka Lim Tiauw Eng, tapi tak pernah dipakai karena ternyata ranjang giok hanya baik untuk orang sehat, aliran tenaga dalam Kuburan Kuno adalah hawa dingin, ranjang giok yang dingin hanya akan memperparah luka.

Lung er amat lelah, namun ia tidak mau tidur karena takut tidak bisa bangun lagi untuk selamanya. Ia minta Yo Ko menjaganya agar jangan tertidur. Mereka menghayal tentang pindah menyepi ke wilayah Selatan, bertani, beternak dan beranak banyak, melupakan dunia persilatan. Tiba-tiba Yo Ko menemukan rahasia untuk menyembuhkan Lung er. Katanya, Auwyang Hong sebenarnya tidak pernah tertotok oleh Lim Tiauw Eng, maka Li Mo Chou juga tak pernah membuka totokan itu, karena ayah angkatnya itu punya ilmu membalikkan aliran energi/darah hingga totokan terlepas sendirinya. Metode mengalirkan energi secara terbalik ini bersifat panas. Dengan dibantu ranjang giok yang bersifat dingin, justru bisa mengobati Lung er. Yo Ko mulai berlatih menyembuhkan Lung er dengan 1 tangannya. Kata Lung er, Nona Kwee Hu ternyata tidak terlalu jahat ya, dia menyisakan 1 tangan untukmu. Dibalas Yo Ko: Iya, kalau dipotong dua-duanya nanti aku menyembuhkanmu pakai kaki, pasti kamu tidak nyaman bau🙂

Rombongan anak buah Kaisar Selatan; si Petani -Bu Sam Tong dan kedua anaknya, Bu bersaudara, Sarjana/sastrawan -Chu Cu Liu serta Biksu India tiba di Lembah Putus Cinta untuk meneliti racun bunga dan menemukan pemunah untuk Yo Ko. Mereka menikmati indahnya lembah, namun sayangnya saat anak buah Lembah Putus Cinta datang, mereka berterus terang bahwa mereka mencari pemunah buat Yo Ko, serta Bu bersaudara adalah murid Kwee Ceng. Kiu Cian Ci dan anak buahnya menyerang dengan formasi jaring ikan yang amat sulit dikalahkan, juga biji buah dari mulut Kiu Cian Ci sampai menembus senjata pena Chu Ciu Liu. Bu Sam Tong melontarkan anaknya agar bisa lolos mencari bantuan untuk mereka, sementara ia dan yang lainnya ditawan di Lembah Putus Cinta Mereka dikurung dalam ruangan yang penuh bara api hingga kepanasan. Kongsun Li E datang dan bertanya apa hubungan mereka dengan Yo Ko. Biksu India menangkap aura baik di wajah Li E, maka ia berterus terang dan minta Li E membawakan beberapa bunga cinta agar ia bisa meneliti untuk merumuskan pemunah untuk Yo Ko. Li E menyanggupi, ia bahkan mengatur suhu pemanas agar mereka tidak terlalu menderita.

Dalam perjalanan mencari pertolongan, Bu bersaudara sempat sedikit tertusuk duri bunga cinta. Ini membuat mereka sakit bila mengingat Kwee Hu, tapi mereka kemudian sepakat bahwa sebetulnya Kwee Hu itu tidak bagus-bagus amat, tak sulit untuk melupakannya. Mereka bertemu dengan Yehlu Yen dan Yehlu Chi yang sedang dikejar-kejar tentara Mongol, mereka pun menolongnya. Saat Bu besar menyelamatkan Yehlu Yen, ketertarikan tumbuh antara mereka. Rupanya seluruh keluarga Yehlu Chi hendak dibunuh karena ayahnya menentang kaisar Mongol. Yehlu Chi juga ingin ke gunung Zhongnan untuk mengabarkan penyerbuan Mongol. Di gunung itu mereka melihat kuda merah Kwee Hu yang berjalan sendirian, sehabis Yo Ko menyuruhnya pulang (Episode lalu). Mereka juga bertemu dengan Wanyen Ping yang sedang disandera oleh Kongsun Tit. Ilmu Kongsun Tit lihai dan mereka tak bisa menyelamatkannya karena Kongsun menggunakannya Wanyen sebagai tameng. Yehlu Chi terpaksa melukai kuda Kongsun Tit. Bu kecil menangkap Wanyen Ping dan jatuh bersama, tapi Wanyen Ping tak bergerak. Bu kecil minta maaf harus menyentuh tubuh si Nona untuk melepaskan totokan. Di antara keduanya pun mulai tumbuh benih cinta. Wanyen Ping disuruh kabur dengan kuda Kwee Hu, tapi malah bertemu dengan rombongan Oey Yong, Li Mo Chou dan Kwee Hu. Mereka kemudian balik ke tempat Yehlu Chi, Yehlu Yen dan Bu bersaudara yang masih melawan Kongsun Tit. Oey Yong melihat Kongsun Tit amat lihai, ia menantang Li Mo Chou, “Ayo kita lihat siapa yang duluan bisa mengalahkannya”. Li Mo Chou pun semangat melawan Kongsun Tit. Sempat-sempatnya Kongsun tit memuji kecantikan Li Mo Chou hingga wanita itu sedikit tersipu. Oey Yong dan Li Mo Chou berhasil membuat Kongsun Tit kabur, tetapi ternyata Kongsun menyandera Kwee Hu dan Wanyen Ping. Ia mengancam akan membunuh keduanya kalau Oey Yong/Li Mo Chou mendekat. Jika sudah mengenai anaknya, untung Yehlu Chi datang dan berhasil merebut Kwee Hu. Melihat seorang pemuda gagah menyelamatkannya, timbul rasa suka pada Yehlu Chi. Sementara Bu kecil menyelamatkan Wanyen Ping. Melihat muda-mudi yang saling tertarik itu, timbul rasa sedih dan iri pada Li Mo Chou, teringat akan kekasihnya. Oey Yong maju lagi untuk menhajar Kongsun Tit.

Episode 30

Oey Yong berterima kasih pada Yehlu Chi karena bantuannya menyelamatkan Kwee Hu, hingga ia bisa mengusir Kongsun Tit  (ilmu Yehlu Chi lebih rendah dari Oey Yong, tapi ia orang Mongol yang jago memanah sehingga kemarin bisa menyelamatkan Kwee Hu dari sandera Kongsun Tit dengan panah). Melihat Yehlu Chi juga menggunakan kungfu Coan Cin, Oey Yong bertanya, diantara 7 Pendekar Coan Cin yang manakah gurumu? Yehlu Chi minta maaf tidak dapat memberitahu namanya karena tak diperbolehkan oleh gurunya. Mendengar itu Oey Yong tertawa terbahak-bahak. Siapa lagi orang Coan Cin yang berlagak aneh seperti itu kalau bukan Bocah Tua Nakal. Merekapun saling tersenyum. Kwee Hu yang bingung tidak mengerti.

Bu bersaudara meminta izin Oey Yong untuk membunuh Li Mo Chou yang telah menyebabkan kematian ibu mereka, namun Oey Yong berkata konflik ini bisa diselesaikan setelah urusan utama selesai. Mereka masih butuh bantuan Li Mo Chou untuk masuk ke Kuburan Kuno menemui Yo Ko dan mengambil Kwee Siang. Yehlu Chi pamit pergi ke biara Coan Cin untuk mengabarkan serangan pasukan Mongol. Karena searah, mereka berjalan bersama, setelah itu baru akan ke Lembah Putus Cinta. Melihat Bu bersaudara mendapatkan pasangannya masing-masing, Oey Yong heran kenapa begitu cepat mereka berpaling dari Kwee Hu.

Hanya Yehlu Chi dan Yehlu Yen masuk ke biara Coan Cin, yang lain menunggu di luar. Saat Yehlu Chi ditanya siapa gurunya oleh pendekar Coan Cin, ia kembali menolak beritahu, tetapi mendadak datang Ciu Pek Tong dengan pasukan lebahnya. Yehlu Chi kaget dan senang melihat gurunya itu, ia dan Yehlu Yen pun langsung kowtow, Ciu Pek Tong risih melihatnya. (12 tahun lalu, Yehlu Chi bertemu Ciu Pek Tong dan mereka sering bermain bersama. Ciu Pek Tong senang dengan sifat Yehlu Chi yang suka bermain dan cepat paham, ia pun mengajari Yehlu Chi kungfu. Ternyata sekarang Yehlu Chi tumbuh menjadi pemuda serius serta pendekar yang sopan dan penuh tata krama, maka Ciu Pek Tong pun malu ketahuan Yehlu Chi adalah muridnya J)

Yo Ko dan Siao Lung Lie menjalani hari terakhir pengobatan. Yo Ko tak mau ada interupsi karena bisa fatal akibatnya, maka Kwee Siang ditaruh di ruangan terpisah.

Li Mo Chou menunjukkan jalan air tempat masuk ke Kuburan Kuno. Ia mengingatkan lagi perjanjian dengan Oey Yong bahwa Bu bersaudara tak boleh menyerangnya. Ia hanya menunjukkan jalan sebagai balas jasa Oey Yong telah mengampuni nyawanya, namun sampai di dalam sana mereka punya urusan masing-masing. Kwee Hu, Bu bersaudara dan Yehlu Chi masuk mengikuti Li Mo Chou. Oey Yong belum bisa menyelam karena baru melahirkan, Wanyen Ping juga masih terluka, bersama Yehlu Yen mereka menunggu di luar.

Selesai menyelam, mereka tiba dan istirahat di satu ruangan. Siapa sangka Li Mo Chou kabur setelah mengurung mereka di ruangan tersebut. Katanya ia hanya janji pada Oey Yong untuk tidak membunuh mereka. Kwee Hu dan Bu bersaudara saling menyalahkan. Hanya Yehlu Chi yang bijak dan berkata kita hanya bisa keluar kalau bekerja sama, bukan bertengkar. Yehlu Chi mendengar suara bayi menangis, maka pasti ada rongga kosong di antara batu yang bisa dipecahkan. Iapun merobohkan batu dengan tenaga dalamnya, hingga mereka sampai di ruangan tempat Kwee Siang dibaringkan. (Kwee Hu mengira adiknya ditelantarkan. Padahal selama di kuburan kuno, Kwee Siang diberi makan madu giok oleh Yo Ko serta labu yang dicuri dari kebun pendeta Coan Cin) Di samping Kwee Siang ada sebotol madu dan mereka pun menyuapinya.

Li Mo Chou sampai ke ruangan tempat Yo Ko dan Siao Lung Lie bermeditasi. Ia melemparkan jarumnya ke arah mereka. Yo Ko bisa menangkis tanpa melepaskan tangannya dari istrinya. Ia berusaha tenang, katanya “Ilmu Hati Gadis Suci terukir di ruangan lain, jangan buru-buru, aku tunjukkan setelah aku selesai”. Li Mo Chou malah menyerang, Yo Ko terpaksa melayani sambil berusaha tubuhnya tak terpisah dari istrinya agar usaha pengobatan tak sia-sia.  Ia sampai menggunakan kakinya. Serangan tapak Li Mo Chou ditahan Yo Ko. Karena sedang menyalurkan energi ke istrinya, aliran energi Li Mo Chou juga mengalir ke istrinya. Siao Lung Lie tiba-tiba segar bugar, Yo Ko pun gembira, ternyata aliran energi Li Mo Chou mempercepat proses meditasi di tahap titik vital terakhir. Ia pun berterima kasih atas serangan Li Mo Chou. Namun tak lama, Siao Lung Lie tiba-tiba pusing. Ternyata serangan yang dilancarkan Li tadi adalah Tapak 5 Racun, hingga keduanya kini menderita keracunan. Yo Ko menyerang Li Mo Chou memaksa memberikan pemunah, kungfunya kini tinggi bukan tandingan Li Mo Chou, tapi racun mengganggunya. Ia membawa istrinya sembunyi ke peti mati, lebih penting untuk mengeluarkan racun sebelum menyebar, baru melawan Li belakangan. (Dahulu ia pernah diajarkan ayah angkatnya Racun Barat untuk menngeluarkan racun dari Li Mo Chou). Li Mo Chou mengikuti ke ruangan peti. Ada 5 peti,  ia tahu salah satunya jalan rahasia keluar Kuburan Kuno. Yo Ko pura-pura melemparkan buku Hati Gadis Suci ke salah satu peti dan pura-pura jatuh karena keracunan, kemudian ia menjebak Li Mo Chou hingga terkurung di peti mati tersebut. Ia pun melanjutkan masuk peti lain dan mengeluarkan racun dari tubuhnya kemudian tubuh istrinya.

Di ruangan lain, Kwee Hu menemukan jarum Li Mo Chou dan memungutnya, mendadak ia merasa pintar karena punya ide membalas Li Mo Chou dengan jarumnya sendiri. Mereka masuk ke ruangan peti, ia mendengar nafas dari peti, dikiranya itu Li Mo Chou, ia spontan membuka peti dan melemparkan jarum beracun, yang ternyata mengenai Yo Ko dan Siao Lung Lie!

Alangkah kesalnya Yo Ko, usahanya berhari-hari mengobati istrinya, kemudian mengobati racun, harus berakhir demikian. (Lemparan jarum dari Kwee Hu yang masuk ke tubuh Siao Lung Lie kali ini sangat fatal karena berlangsung saat Yo Ko sedang mengeluarkan racun tapak Li Mo Chou. Ini menyebabkan  racun tersebut berbalik mengalir ke titik-titik vital aliran darah,  mengancam kerusakan organ penting seperti jantung yang dapat menyebabkan kematian, disebutkan ‘bahkan pil dewa sekalipun tak dapat menolongnya’). Melihat Yo Ko kesal, Siao Lung Lie merasa sedih dan menenangkan Yo Ko dengan berkata “Sudahlah, ini takdir, tak ada guna menyalahkan siapapun”. Ia memberikan pemunah jarum kepada Yo Ko dan dirinya (Lain dari Tapak 5 Racun yang dipelajari Li Mo Chou dari luar, jarum beracun merupakan senjata Kuburan Kuno, Siao Lung Lie punya pemunahnya. Tapi racun tapak Li Mo Chou sudah menyebar ke seluruh tubuhnya dan ia tak punya harapan).

Yehlu Chi meminta maaf atas kecerobohan Kwee Hu, tetapi Kwee Hu malah tidak terima dikatai ceroboh. “Siapa yang ceroboh, kenapa juga kalian berduaan di dalam peti?” Yo Ko makin kesal dan geram, tapi hanya berteriak mengamuk. Yehlu Chi merasa kasihan, ia mengajak Yo Ko keluar dan menemui Oey Yong, mungkin Oey Yong punya penawarnya. Yo Ko malah berkata sinis “Racunnya sudah menyebar ke seluruh tubuh, memangnya Nyonya Kwee siapa, bisa hidupkan orang mati?”Mendengar itu Kwee Hu marah “Berani-beraninya mengatai ibuku, kalau tidak ibuku yang memberimu makan dan pakaian waktu kamu kecil, kamu sudah jadi anak terlantar, bukannya terima kasih malah menculik adikku!” Yeh Lu Chi kaget, ia memarahi Kwee Hu “Kamu sudah mencelakai 3 orang masih belum juga mau minta maaf?” Siao Lung Lie berkata pada suaminya “Aku tak suka mereka, sudahlah, kita pergi saja”. Yo Ko membentak Kwee Hu “Jadi kamu membunuh istriku demi bayi itu, baik, aku ambil dia dan tak akan kukembalikan!” Ia mematikan semua lilin dan menculik lagi Kwee Siang dari gendongan Kwee Hu dan kabur. Li Mo Chou juga keluar dari peti dan kabur.

Yo Ko membawa istrinya dan berkata, aku mau tinggal selamanya di sini dan memandangimu sampai mati. Namun Siao Lung Lie ingin sebelum mati menikmati dunia luar bersama dengannya, bayi Kwee Siang kita kembalikan saja, katanya.

Semua orang akhirnya keluar dari Kuburan Kuno. Mereka kesulitan menemukan Oey Yong, karena pasukan Mongol sudah membakar sebagian wilayah gunung Zhong Nan. Li Mo Chou malah menangkap Kwee Hu dan meletakkannya di tengah-tengah kobaran api. Yo Ko melihatnya dan ogah menolong. Tapi Siao Lung Lie malah berkata “Kita tidak bisa hidup bahagia, mungkin memang itu takdir kita. Tetapi biarlah kita membuat orang lain hidup bahagia”. Yo Ko pun menolong Kwee Hu dari kobaran api, mengembalikan kepada Oey Yong, berikut bayi Kwee Siang.

Yo Ko dan Siao Lung Lie akhirnya berdua saja menikmati dunia luar. Yo Ko menyanggupi permintaan istrinya untuk menikmati salju sebelum mati, iapun membantu istrinya mendaki gunung bersalju, bermain salju menikmati kebersamaan, walau sesudah itu Siao Lung Lie jatuh melemah. Di sana, mereka melihat seorang Biksu yang sedang bercakap2 dengan muridnya. Muridnya ini masih terombang ambing  oleh dosa masa lalunya, dahulu ia gampang sekali membunuh orang, ia tak yakin bisa berubah. Namun sang Biksu meyakinkannya dengan membacakan ajaran Buddha, daripada menyesali masa lalu, lebih baik memperbaiki masa depan. Si murid yang bernama Ci En tampak terganggu jiwanya, ia kumat gangguan jiwanya saat dibacakan ajaran Buddha, ketika melihat Yo Ko ia malah marah ingin menyerang, tetapi sang guru malah menahan serangan itu. Serangan tapak itu sangat hebat, orang biasa mungkin sudah mati, tapi sang guru hanya diam, walau terluka, ia tak melawan. Katanya,  kalah atau menang tak ada bedanya, kemenangan terbesar adalah mengendalikan nafsu pribadi. Ci En pun menyesal dan sujud pada gurunya. Melihat ini, Yo Ko langsung ikut sujud pada sang Biksu, “Yo Ko memberi hormat pada Biksu It teng”. Dia adalah It teng Taysu/Biksu It Teng yang bergelar “Kaisar Selatan”, pendekar besar yang kemampuannya setara dengan Sesat Timur, Racun Barat, Pengemis Utara.  Biksu It teng heran Yo Ko mengenalinya. Kata Yo Ko, di dunia ini hanya 1 orang yang punya ilmu silat dan ilmu agama (Buddha) sama tingginya. Melihat Siao Lung Lie, It teng langsung tahu ia terkena racun. Katanya, sayang ia baru saja terkena tapak Ci En, sang murid, kalau tidak, ia dapat menyembuhkan Siao Lung Lie dengan ilmu Jari Matahari-nya. Tapi ia memberikan obat berbentuk telur yang setidaknya bisa menguatkan kondisi selama 7 hari. Sementara itu ia akan mencari saudara seperguruannya yang ahli pengobatan untuk menolong Siao Lung Lie. Yo Ko langsung ingat, yang dimaksud It teng adalah Biksu India yang sedang menolongnya mencari pemunah ke Lembah Putus Cinta. Ia kemudian melihat Ci En, dan bertanya apakah ia benar dulunya bernama Kiu Cian Jin, Ketua Partai Tapak Besi, saudara dari Nyonya Lembah Putus Cinta? Ci En mengiyakan, ia menanyakan Yo Ko kabar adik perempuannya itu. Iapun ingin mengunjunginya, akhirnya mereka semua berangkat bersama ke Lembah Putus Cinta.

Di tempat lain, Liok Bu Song dan Thia Eng sudah mendengar kabar soal orang-orang yang pergi ke Lembah Putus Cinta mencari obat untuk Yo Ko, merekapun memutuskan untuk pergi ke sana. Tiba-tiba Ang Leng Po, murid Li Mo Chou datang, ia menyuruh keduanya lekas pergi karena gurunya sebentar lagi datang. Li Mo Chou tahu Ang Leng Po melindungi 2 gadis itu, ia menyebut muridnya pengkhianat dan menyiramkan teh padanya. Iapun menyusul mereka ke Lembah Putus Cinta. Di sana, mereka terlibat pertempuran di antara rerumpunan bunga cinta. Li Mo Chou tahu Ang Leng Po tak tega pada Bu Song dan Thia Eng, ia turun tangan menotok mereka dan memaksa Ang Leng Po untuk membunuh mereka. Ang Leng Po menutup mata sambil menhunuskan pedangnya. Datanglah Yo Ko mencegahnya, katanya “Li Mo Chou, kamu sudah mau mati masih mau bunuh orang”. Ia bilang, bunga cinta di sekeliling kamu itu beracun dan tidak ada obatnya. Walau kamu bunuh mereka, kamu tetap akan mati karena harus melewati rumpunan bunga ini.Kalau kau biarkan Liok Bu Song dan Thia Eng lolos, kami bisa bantu kau keluar. Li Mo Chou tertawa gengsi, ia malah melemparkan tubuh Liok Bu Song dan Thia Eng sebagai pijakan kaki agar ia tak perlu menyentuh bunga cinta. Yo Ko sigap menerobos kerumunan bunga cinta dan menyelamatkan keduanya, melemparkan tubuh Bu Song ke Siao Lung Lie dan ia sendiri menyelamatkan Thia Eng. Mereka terharu. Bu Song memarahi Yo Ko, kenapa menerobos bunga cinta? Kata Yo Ko tak masalah karena ia pun juga sudah terkena sebelumnya. Bu Song kaget melihat tangan Yo Ko hilang “Bodoh, mana lenganmu?” Siao Lung Lie berkata “Kenapa kau memanggilnya Bodoh, ia kan tidak bodoh”. Bu Song dan Thia Eng baru kali ini melihat Siao Lung Lie, keduanya merasa sedikit cemburu bercampur minder, menyadari mereka sangat jauh bila dibandingkan dengan wanita yang dicintai Yo Ko itu. Bu Song langsung malu, sudah terbiasa memanggil bodoh, katanya “Bodoh…..eh , Kakak Yo, siapa yang memotong lenganmu, pasti orangnya jahat dan curang sekali”. Tak diduga Kwee Hu dan rombongan tiba di tempat itu “Kamu mengina aku, apa itu tidak jahat?” Liok Bu Song bingung “Siapa yang menghina kamu?Aku sedang ngomongin orang jahat yang memotong lengan Kakak Yo”. Kwee Hu malah menjawab, “Aku yang potong tangannya. Orang tuaku sudah menghukum aku, aku sudah sangat menderita!” tangisnya. “Kamu semua sudah menghinaku dibelakang aku, kenapa? Kenapa? Kenapa semua orang memperlakukan aku tak adil?” Bagi Kwee Hu yang mementingkan diri sendiri, penderitaannya hanya karena dihina dan dimarahi seolah-oleh lebih berat dari penderitaan Yo Ko karena ulahnya. Oey Yong datang menegur Kwee Hu. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara Li Mo Chou yang mengangkat muridnya ke udara, melemparkannya ke rumpunan bunga cinta untuk dijadikan pijakan kaki. Ang Leng Po memegang erat kaki Li Mo Chou meminta belas kasihan, malah disepak oleh Li Mo Chou.

24 responses to this post.

  1. Apa udah dapat undangan pernikahan bibi lung n yoko. H.h.h kalau belum ayo rame2 kita saksikan entar di indosiar h.h.h

    Reply

  2. ayo deh kita datang, tapi saya gak bawa amplop isi duit ya, soalnya Bibi Lung kan gak butuh duit, makan bapao aja gak bayar ^_^

    Reply

  3. Posted by Qwerty on March 7, 2012 at 4:18 am

    apakah hakim roda mas akan mati?

    Reply

  4. heeh… hakim roda mas mati dengan tersenyum… tapi nanti di akhir episode… sabar yaaa… kita tunggu bareng-bareng hasil sinopsisnya..🙂
    lanjut yaaaa di tungguuuuu

    Reply

  5. Posted by Qwerty on March 8, 2012 at 12:56 pm

    kok bu bersaudara n kwee hu bisa kenal teman2 yoko?

    Reply

  6. Posted by firel on March 8, 2012 at 1:53 pm

    kk… Apa keponakan yoko/putra kweceng,kembaran kwesiang,mati?

    Kok nama’a gk ada di dapftar pemain,di indosiar?

    Reply

  7. Posted by mic's on March 8, 2012 at 11:54 pm

    tidak sabar tunggu sinopsis selanjutnya:)

    Reply

  8. Beh jabang bayi, kwee hu iku manusia cap apa gitu? Angkuh dan sombong banget…! Ya untung masih ada bu song yang sedikit mencairkan suasana. Di episode ini, bener-bener menegangkan. Kasihan bibi lung. gan. Moga nyawanya bisa di tolong

    Reply

    • iya betul, bu song itu kalau di novelnya satu-satunya tokoh yang paling berani meledek kwee hu. banyak sekali percakapan mereka berantem mulut yang selalu dimenangkan telak oleh bu song….:)

      Reply

  9. Posted by firel on March 9, 2012 at 4:04 am

    kk kalo boleh tw ini film dibuat kapan ya?

    Kok ibu sama nenek saya tau ya.

    Reply

    • Novelnya ditulis akhir tahun 50an, serial TV pertamanya dibuat tahun 60an. Serial yang diputar pertama kali di TV Indonesia versi 83. Jadi gak heran kalau ibu dan nenek tau, mungkin mereka baca novelnya atau nonton versi lamanya

      Reply

  10. Posted by firel on March 9, 2012 at 12:21 pm

    oh iya kk kalo buat sinopsis’a cepet ya kk walau besok sabtu

    Trims

    Reply

  11. Posted by Yoko on March 9, 2012 at 3:03 pm

    Gan klo ada share donk link novelnya…yg bahasa indo tp ya..he2..penasaran pengen baca juga novelnya..TQ agan yang baik hati

    Reply

  12. ayo lanjutannya gan
    ditunggu bangeeeet

    Reply

  13. Posted by Hari on March 20, 2012 at 1:59 am

    Ost roch sapa yg nyanyiin dan klu mau download ad alamatnya gak bos??

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: