Sinopsis Return of The Condor Heroes Versi 2006 Episode 11-15

Episode 11

Ho Tu mengejek orang Song hanya bisa mengandalkan kehebatan Kwee Ceng.  Tetua Luk yang baru dilantik maju melayani Ho Tu, walau diakuinya ia baru menguasai 10% jurus Tongkat Pemukul Anjing. Keunggulan jurus ini adalah lincah dan tak mudah diduga, Ho Tu langsung kewalahan di awal, tapi lambat laun mudah dibaca. Yo Ko mengamati dan  tak sengaja tertawa karena dalam hati sudah memprediksi kekalahan Tetua Luk.  Kwee Hu dan Bu bersaudara menganggap Yo Ko sok tahu. Ho Tu melukai Tetua Luk dengan kejam hingga Tongkat Pemukul Anjing terlepas dari tangannya. Melihat ini, Oey Yong turun tangan merebut tongkat dari Ho Tu dengan jurus “Merebut tongkat dari mulut anjing”  (yang pernah digunakan saat  ia merebut tongkat dari Yo Kang  – di PPR 2008 di Episode 38). Walau sedang mengandung, gerakan Oey Yong amat cepat. Ia tak mau mengaku pihak Song kalah karena Ho Tu baru merasakan  10% ilmu Tongkat Pemukul Anjing.

Ho Tu mengusulkan 3 ronde untuk menentukan pemenang: Ho Tu,  kakak seperguruannya Dhaerba serta Hakim Roda Mas akan menghadapi 3 jagoan Song. Pertandingan dengan Tetua Luk tidak dihitung. Ronde pertama, Ho Tu akan menghadapi pengawal Kaisar Selatan yang bergelar Sastrawan.

Yo Ko mendadak mencium bau yang amat dikenalnya, ia mencari-cari dari mana sumbernya, ternyata Bibi Lung muncul di tempat itu. Yo Ko melompat menyambutnya. Perhatian pendekar teralih sejenak pada mereka. Yo Ko dan Bibi Lung saling melepas rindu dan bertatap mesra di tengah arena pertandingan, tak memperdulikan orang sekitar, sampai diusir oleh Ho Tu. Mereka menyingkir dari arena  dan mengobrol berdua. Saking gembiranya Yo Ko malah lupa banyak hal yang ingin diceritakan ke Bibi Lung.  Ia masih mengira Bibi Lung marah semata-mata karena ia menolak memanggilnya istri. Dengan tergagap ia berkata walau ia memanggil Bibi, tapi dalam hatinya ia selalu menganggap Bibi Lung adalah istrinya. Bibi Lung terharu dan bahagia mendengarnya. Melihat baju Yo Ko robek-robek, ia mengeluarkan peralatan menjahitnya dan menyulam baju Yo Ko seperti yang biasa dilakukannya di Kuburan Kuno.

Sementara itu Sastrawan mempertontonkan kelihaiannya memadukan ilmu jari matahari dan senjata andalannya pena kaligrafi , dengan mengukir kata-kata ejekan di kipas Ho Tu. Hakim Roda Mas sempat memberi petunjuk,  namun pertempuran panjang ini tetap dimenangkan oleh Sastrawan. Tapi di ujung pertandingan, Ho Tu menembakkan senjata rahasia.  Ia berdalih bahwa “Tidak ada perjanjian dilarang menggunakan senjata rahasia”. Senjata rahasia ini meracuni Sastrawan, juga membuat pena kaligrafinya mencelat ke tempat Yo Ko dan Bibi Lung yang sedang asik mengobrol. Tinta hitam mengotori gaun Bibi Lung yang putih bersih. Melihat ini Yo Ko langsung marah dan maju ke arena pertandingan “Siapa yang mengotori baju Bibiku!”. Ho Tu menghina Yo Ko, tapi hinaan itu malah dibalikkan oleh Yo Ko hingga Ho Tu ditertawakan orang (adegan ini harus lihat sendiri, susah dijelaskan :D)

Yo Ko mengeluarkan jurus Tongkat Pemukul Anjing untuk menyerang Ho Tu,  katanya ia tidak terima Ho Tu meremehkan Ang Cit Kong. Semua orang kaget, terutama Kwee Ceng dan Oey Yong, Yo Ko berbohong ia belajar saat mengintip Tetua Luk berlatih. (Oey Yong tak percaya sebab sepintar apapun tak mungkin bisa menerapkan jurus bila hanya mendengar teorinya). Yo Ko  membuat para pendekar gembira  karena selain jurusnya yang lihai, perkataannya mengundang tawa saat ia mempermalukan Ho Tu.

Yo Ko berkata gurunya juga ingin menantang untuk gelar pendekar, Ho Tu berkata kalau begitu ia harus menggunakan jurus ajaran gurunya, bukan Ang Cit Kong.  Yo Ko meminta di antara hadirin untuk meminjamkannya pedang. Semua berebut memberikan pedang pada Yo Ko, termasuk Sun Put Ji, pendekar wanita dari Coan Cin. Tapi Yo Ko menolak pedang mustika Sun Put Ji, malah memilih pedang biasa milik orang tak dikenal. Ia sengaja mempermalukan orang Coan Cin. Ilmu pedang Yo Ko amat memukau untuk orang seusianya, ilmu Ho Tu sebenarnya masih lebih tinggi dari Yo Ko tapi tak mudah baginya mengalahkan Yo Ko. Kwee Ceng antusias campur haru dan bangga melihat kehebatan Yo Ko, ia berteriak-teriak sampai Oey Yong harus menenangkannya.

Ho Tu tadinya menganggap Yo Ko anak kecil, tapi setelah tak juga menang melawan ilmu pedang Kuburan Kuno, ia jadi serius menyerang dan membuat Yo Ko sedikit terdesak. Dalam keadaan terdesak Yo Ko berkata “Senjata rahasia!” Ho Tu kaget, menutupi kepalanya. Yo Ko berteriak berulang kali,  Ho Tu jadi terus menghindar seperti orang bodoh. Setelah sadar Yo Ko cuma mengerjai, ia tak mau tertipu lagi dan tak menghiraukan teriakan Yo Ko, saat itulah Yo Ko menyarangkan jarum tawon ke kakinya. Ho Tu termakan omongannya sendiri yang berkata “tidak ada aturan tak boleh menggunakan senjata rahasia”.

Selanjutnya Dhalpa maju melawan Yo Ko. (Dhalpa ini sebenarnya lebih tinggi ilmunya dari Ho Tu, tapi orangnya lugu). Ia meneriakkan pertanyaan dalam Bahasa Tibet, Yo Ko tak mengerti dan mengulang perkataan Dhalpa. Terus demikian sehingga seperti terjadi percakapan yang membuat Dhalpa mengira Yo Ko adalah reinkarnasi dari kakak seperguruannya yang meninggal, jadi ia tidak sepenuh hati melawan Yo Ko.

Hakim Roda Mas tak sabar, ia menantang ‘guru Yo Ko’. Melihat lawannya hanya (seperti) perempuan usia belasan tahun, Hakim Roda Mas berkata kalau ia tak mampu mengalahkan guru Yo Ko dalam 10 jurus, maka gelar Pemimpin Pendekar jatuh ke tangan Siauw Liong Lie/Bibi Lung.

Pertandingan dimulai, tingginya ilmu Hakim Roda Mas membuat ubin retak dan penonton kagum, tapi ia juga tak menyangka selendang Bibi Lung yang lembut dapat mengimbangi tajamnya roda-roda bergerigi yang ia lancarkan.  Yo Ko menghitung secara asal sampai 20, mengganggu konsentrasi Hakim Roda Mas, padahal belum ada 10 jurus. Setelah 5 jurus  seimbang, Hakim Roda Mas sudah dapat mengungguli Bibi Lung dan hampir mengancam nyawanya. Bibi Lung mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya untuk menghindari serangan roda yang fatal. Melihat ini Yo Ko mencoba menyelamatkan Bibi Lung. Kwee Ceng takut keselamatan Yo Ko terancam, ia ikut maju. (Sebenarnya Kwee Ceng  maju hanya untuk menyelamatkan Yo Ko dan melerai dengan jurus “Naga terbang di langit”, tidak berniat ikut melawan Hakim Roda Mas) Hakim Roda Mas malah menyambut pukulan Kwee Ceng, ingin pamer kehebatan, tetapi malah menyebabkan ia terluka dalam amat parah. Senjatanya terlempar dan diambil Yo Ko, Yo Ko mengejek  “Sudah senjata diambil, tak mau mengaku kalah?” Hakim Roda Mas tak bisa menjawab karena terluka dan sibuk mengatur aliran darah, melihat ini Yo Ko malah makin mencerocos meledeknya. Rombongan Mongol akhirnya pergi.

Hadirin amat gembira gelar Pemimpin Pendekar tidak direbut orang Mongol. Mereka berpesta dan menyanjung Bibi Lung dan Yo Ko dengan melempar-lempar keduanya ke udara. Perhatian semua orang pada Yo Ko membuat Bu bersaudara sebal, orang Coan Cin juga menjauh. Thio Cie Keng terus meledek In Cie Peng soal Bibi Lung. Kwee Ceng  dan Oey Yong meresmikan Bibi Lung sebagai Pemimpin Pendekar. Bibi Lung bingung (imut banget dia kalo bingung), Yo Ko menjulurkan lidah dan menggoda Bibi Lung dengan tatapan mesra. Semua hadirin memberi hormat (kowtow) di depan Bibi Lung. Bibi Lung yang lugu dan tak tahu tata krama dunia persilatan terpaksa dipandu Kwee Ceng dan Oey Yong untuk ‘menerima hormat dan mempersilakan bangkit’.

Mereka duduk dalam satu meja. Kebahagiaan Kwee Ceng tak terkira, maka pada Bibi Lung ia mengutarakan maksudnya untuk melanjutkan ikatan keluarga Yo dan Kwee . Ia meminta restu Bibi Lung untuk menjodohkan Yo Ko dengan putrinya, Kwee Hu.

Episode 12

Kwee Ceng menganggap Bibi Lung wakil orangtua Yo Ko, ia meminta izin untuk mengatur pertunangan Yo Ko dengan putrinya. Yo Ko menolak dengan sopan, ia orang biasa tak pantas bersanding dengan putri keluarga Kwee. Kwee Ceng bingung, sedang Oey Yong yang sejak awal memperhatikan kemesraan Yo Ko dan Bibi Lung, bertanya apakah Bibi Lung dan Yo Ko benar-benar resmi melakukan upacara sebagai guru dan murid, yang dibenarkan Yo Ko.  Oey Yong mencoba mengalihkan perhatian dengan mengatakan urusan perjodohan bisa dipikirkan nanti. Tapi Bibi Lung yang polos berkata Yo Ko tak bisa menikah dengan Kwee Hu, karena ia yang akan menikahinya. Ini membuat kaget semua orang.  Saat Oey Yong menjelaskan hal itu tidak pantas, Bibi Lung malah  terbuka di hadapan semua orang soal perasaannya pada Yo Ko.  Seisi ruangan amat terkejut dan memandang mereka dengan aneh bahkan jijik. Melihat ini Yo Ko segera mengajak Bibi Lung pergi dan berpamitan baik-baik pada Paman dan Bibi Kwee-nya.

Namun Thio Cie Keng memancing di air keruh dengan berkata “Pendekar Kwee, lihat sendiri kan kenapa ia kabur dari Coan Cin”. Ia mengingkari janjinya dengan membeberkan apa yang dilihatnya saat Yo Ko dan Bibi Lung berlatih Hati Gadis Suci (Episode 4). Pihak Yo Ko dan Coan Cin adu mulut hingga terjadi perkelahian pedang antar kedua pihak.  Yo Ko ingin menghajar mereka dengan ilmu Coan Cin sendiri, Bibi Lung membantu dengan Hati Gadis Suci. Tak disangka, gabungan keduanya menjadi sangat efektif. Kwee Ceng melerai dan berkata pada Yo Ko bahwa ialah  yang memberi nama Yo Ko, artinya ‘memperbaiki kesalahan’. Tapi Yo Ko tak menganggap mencintai gurunya adalah suatu kesalahan, apalagi mereka tak pernah berbuat zina atau merugikan orang lain. Semua orang mencacinya, Yo Ko mengamuk, membuat Kwee Ceng amat marah dan sedih. Ia sudah mengerahkan kekuatannya dan hampir membunuh Yo Ko, tapi ditahannya hingga tangannya berdarah, ia membiarkan Yo Ko dan Bibi Lung pergi.

Bibi Lung merasa sedikit bersalah Yo Ko bersikap kasar pada Kwee Ceng demi membelanya. Yo Ko tak peduli, walau semua orang menentang ia akan bersama Bibi Lung mengarungi dunia. Tapi Bibi Lung tak betah dengan dunia luar dan ingin kembali ke Kuburan Kuno.

Kwee Hu ngambek pada ayah ibunya karena malu ditolak Yo Ko di hadapan orang banyak. Ia kabur dari rumah.  Di restoran, pendekar Coan Cin heran kenapa ilmu pedang Yo Ko dan Bibi Lung meningkat pesat. In Cie Peng masih tidak suka dengan Thio Cie Keng yang mengingkari janji. Hakim Roda Mas dkk lewat dan mengajak pendekar Coan Cin bercakap-cakap, namun semua tak sudi, kecuali Thio Cie Keng yang terlihat berbeda. Huo Du melihat Kwee Hu melintas dengan kudanya, mereka memutuskan untuk menculik Kwee Hu.

Yo Ko dan Bibi Lung sedang berlatih saat mereka mendengar perkelahian, ternyata Oey Yong dan Bu bersaudara melawan Hakim Roda Mas yang menculik Kwee Hu. Walau hubungannya ditentang oleh paman dan bibi Kwee, Yo Ko tak mau membiarkan Oey Yong dalam bahaya, apalagi kondisinya sedang hamil, ia menyuruh Oey Yong dkk pergi. Bu bersaudara langsung semangat pergi, tapi dimarahi Oey Yong karena tak tahu malu membiarkan Yo Ko yang mau berkorban nyawa untuk mereka.  Bibi Lung membantu Yo Ko,  awalnya keduanya menggunakan jurus hati Gadis Suci, namun Yo Ko ingat kalau ia memakai ilmu Coan Cin dan Bibi Lung memakai Hati Gadis Suci malah lebih efektif untuk melawan musuh.  Ternyata gabungan ilmu pedang ini membuat Hakim Roda Mas mengaku kalah dan meninggalkan mereka.

Di penginapan, Yo Ko dan Bibi Lung menyadari bahwa nenek guru Bibi Lung  menciptakan jurus Hati Gadis Suci sambil membayangkan ia memainkannya bersama dengan pendiri Coan Cin yaitu Dewa Pusat Ong Tiong Yang. Keduanya saling mencintai namun tak bisa bersatu. Mereka tidak ingin seperti leluhurnya itu.

Oey Yong bicara berdua saja dengan Bibi Lung. Sambil menyisir rambut Bibi Lung, ia mengingatkan resiko dihina orang yang akan mereka terima bila ia menikah dengan Yo Ko. Bibi Lung tak perduli, kalau mereka tak suka reaksi orang, mereka bisa tinggal selamanya di Kuburan Kuno. Oey Yong berkata Yo Ko senang bertualang, mungkin bisa bosan apabila terus di Kuburan Kuno. Tak disangka kata-kata Oey Yong yang bermaksud baik ini malah ditanggapi amat serius oleh Bibi Lung. Ia mengkonfirmasi dengan Yo Ko dan mendapatkan jawaban yang tak diinginkan.

Bibi Lung tak mau Yo Ko tidur sekamar dengan Bu bersaudara, seperti biasa ia  tidur di tali dan Yo Ko di ranjang.  Oey Yong mengintip dan mengerti mereka berdua masih menjaga batas hubungan lelaki dan perempuan yang belum menikah, maka ia marah ketika Bu bersaudara menghina mereka. Ia menganggap Bu bersaudara tak tahu terima kasih dan menyuruh mereka kembali ke Hakim Roda Mas. Yo Ko dan Bibi Lung mendengar hinaan kejam Bu bersaudara. Yo Ko gusar, ini membuat Bibi Lung tambah sedih hatinya, semalaman ia tak tidur memikirkan semua ini.

Episode 13

Bibi Lung merasa kehadirannya hanya menghalangi masa depan Yo Ko. Yo Ko bangun mendapati seutas tambang tanpa Bibi Lung, melainkan tulisan “Jaga dirimu baik-baik, jangan pedulikan aku”. Ia panik,  menabrak Bu bersaudara,  mengambil kudanya mencari Bibi Lung. Lewat di hadapan rombongan Hakim Roda Emas yang sedang memunahkan racun Ho Tu, ia malah bertanya di mana bibinya. Mengetahui mereka berpisah, Hakim Roda Mas memanfaatkan kesempatan ini untuk kembali menyerang Oey Yong.

Oey Yong memanfaatkan formasi batu Pulau Persik untuk melindungi dirinya, Kwee Hu dan Bu bersaudara. Kecerobohan Kwee Hu hampir membuatnya tertangkap,  untung Yo Ko menolong hingga ia sendiri terluka kena lontaran batu dari Hakim Roda Mas. Kwee Hu tak tahu terimakasih malah mendorongnya. Untuk sementara mereka aman dari serangan, tapi Hakim Roda Mas  tak mau pergi malah mempelajari susunan batu itu. Oey Yong mengagumi sifat Yo Ko, tak sadar ia berkata ‘Sungguh berbeda dengan ayahmu’. Yo Ko bertanya, apa ayahku memang orang jahat?

Hakim Roda Mas menyerang lagi, Yo Ko keluar formasi dan membalas dengan Tongkat Pemukul Anjing, ilmunya meningkat hingga cukup membuat Hakim Roda Mas bingung. (Catatan: dalam novelnya, saat terkepung ini Yo Ko memberitahu tentang kematian Ang Cit Kong, dan Oey Yong memberi tambahan petunjuk hingga Yo Ko menguasai 50% jurus tersebut). Yo Ko memancing Hakim Roda Mas hingga ia terjebak dalam susunan batu yang didorong Oey Yong dkk, namun Dhalpa melihat titik lemah pada Kwee Hu dan menyerangnya. Oey Yong tak mau putrinya terluka, hingga terpaksa menghancurkan formasi. Kini Oey Yong dan Yo Ko berhadapan langsung dengan Hakim Roda Mas, beradu tenaga dalam hingga semuanya terpental dan terluka parah.  Hakim Roda Mas berkata seumur hidup ia belum pernah terluka parah karena pertarungan, tapi baru sebentar di dataran Song ia telah luka 2 kali. Ia tak mau menyerah dan tetap menyerang keduanya hingga pingsan, sementara Kwee Hu dan Bu bersaudara bertempur melawan Ho Tu, Dhalpa dan pasukan Mongol.

Pada saat genting, datang perempuan bertopeng dan membawa seruling yaitu Thia Eng, ia menyusun kembali formasi batu untuk melindungi Oey Yong dkk.  Hakim Roda Mas sudah kehabisan tenaga untuk memecah formasi, iapun pergi meninggalkan mereka

Oey Yong harus segera ditolong agar tak membahayakan kandungannya, maka Kwee Hu dan Bu bersaudara bergegas  pergi membawanya, meninggalkan Yo Ko sendiri. Thia Eng heran melihat egoisnya mereka sampai tak mempedulikan Yo Ko yang berkorban nyawa untuk mereka. Ia membawa Yo Ko dan mengobatinya.

3 hari kemudian Yo Ko sadar . Thia Eng berkata ia terus memanggil “Bibi” dalam tidurnya. Thia Eng memasakkan sejenis siomay khas wilayah Jiangnan, makanan kesukaan Yo Ko waktu kecil. Dari situ mereka saling mennyadari bahwa mereka pernah tinggal di Jiangnan, dan sama-sama menyaksikan Oey Yok Su menaklukkan kekejaman Li Mo Chou  serta menyelamatkan Thia Eng (Episode 1), yang kini adalah murid Sesat Timur tersebut. Liok Bu Song kini tinggal dengan Thia Eng di rumah itu, menghindar dari kejaran Li Mo Chou.

Bibi Lung kembali mengunjungi pohon tempat ia dinodai In Cie Peng, meyakini dirinya ia meninggalkan Yo Ko demi kebaikan pemuda yang dicintainya itu.

Karena Thia Eng tak pernah membuka topengnya, Yo Ko juga memakai topeng yang diberikan Thia Eng. Liok Bu Song datang dan membuka topeng mereka berdua.  Yo Ko menatap wajah Thia Eng yang ternyata cukup cantik, membuat Thia Eng salah tingkah. Thia Eng dan Bu Song tahu Li Mo Chou akan segera menemukan mereka, namun mereka tak bisa kabur karena Yo Ko masih terluka dan hanya punya satu kuda.

Liok Bu Song menyuruh Yo Ko menghafalkan Kitab Lima Racun yang dicurinya dari Li Mo Chou, dan memberikan sobekan saputangan yang dulu pernah diberikan ayahnya -yaitu mantan kekasih Li Mo Chou- agar ia tidak dibunuh Li Mo Chou (Episode1) . Di lain kesempatan, Thia Eng juga memberikan sobekan saputangan yang sama pada Yo Ko. Thia Eng memainkan seruling dengan lagu yang sama yang dimainkan Bibi Lung waktu bermain kecapi, mengingatkan Yo Ko pada Bibi. Ia mengiringi permainan seruling Thia Eng dengan kecapi.

Keterampilan Thia Eng menyusun formasi batu untuk menghalau Li Mo Chou ternyata belum sempurna, Li Mo Chou  tiba di tempat itu. Thia Eng menyuruh Liok Bu Song kabur bersama Yo Ko sementara ia menghadapi Li Mo Chou, namun sebaliknya Bu Song malah ingin Thia Eng yang kabur bersama Yo Ko. Keduanya  berebut untuk  melindungi Yo Ko, saling mengkhawatirkan keselamatan saudaranya daripada nyawanya sendiri, dan kini mereka berhadapan dengan Li Mo Chou.

Episode 14

Formasi bumi sempat menunda Li Mo Chou masuk ke rumah, Liok Bu Song dan Thia Eng lantas menolong Yo Ko. Yo Ko memainkan kecapi, tapi bisa diputuskan  oleh Li Mo Chou. Muncul Sa Kouw (Gadis Bodoh) dengan senjata garpu kebun yang  membuat Li Mo Chou kewalahan. (Catatan: Ia hanya menguasai 3 jurus dari Pulau Persik, tapi Li Mo Chou belum tahu). Di belakangnya menyusul Majikan Pulau Persik, Sesat Timur Oey Yok Su. Mudah baginya mengalahkan Li Mo Chou dengan Sentilan Maut-nya, juga menarik tali kemoceng Li Mo Chou dan memetiknya menjadi senar musik  yang membuat Li Mo Chou kacau konsentrasinya. Saat Sa Kouw melihat wajah Yo Ko, ia langsung berteriak “Hantu… kakak Yo datang untuk balas dendam”.  Saat perhatian mereka terpecah ke Sa Kouw, Li Mo Chou kabur.

Oey Yong telah menceritakan perihal Yo Ko yang tak mempedulikan nyawa demi menolongnya. Kwee Ceng menyalahkan Kwee Hu yang cari masalah dengan kabur dan mengorbankan keselamatan orang banyak.  Bu bersaudara yang membela Kwee Hu malah tambah dimarahi Kwee Ceng karena menelantarkan Yo Ko. Bu bersaudara berkata semua dilakukan demi keselamatan istri guru, Oey Yong membantah “Itu satu alasan, tapi seharusnya kalian tahu belajar ilmu silat tak hanya ilmu silatnya, tapi juga sikap satria seorang pendekar! Kalian lebih buruk dari Yo Ko!”. Kwee Hu yang ngeyel berkata “Tapi kami tak pernah berbuat hal memalukan seperti kakak Yo”, Kwee Ceng membentaknya “Jangan sebut-sebut hal itu lagi”, Oey Yong menyuruh mereka pergi. Oey Yong menenangkan kekhawatiran Kwee Ceng akan Yo Ko. Katanya ia sudah meminta pertolongan ayahnya Oey Yok Su untuk mencari Yo Ko.

Sesat Timur Oey Yok Su langsung akrab dengan Yo Ko karena tabiatnya juga tak peduli aturan. Katanya Yo Ko tak seperti menantunya Kwee Ceng yang walaupun pendekar besar tapi sikap kakunya membuatnya sebal. Ia menyarankan Yo Ko membatalkan hubungan guru dan murid dengan Nona Lung, setelah itu baru menikah, dan menawarkan Yo Ko jadi muridnya. Yo Ko tak mau karena menurutnya aturan guru-murid tak boleh menikah itu aneh, ia ingin Bibi Lung tetap guru sekaligus istrinya. Oey Yok Su makin kagum padanya. Tapi saat Yo Ko berkata tak perlu jadi murid Sesat Timur untuk belajar ilmunya, cukup menganggap saudara, Oey Yok Su terhina, sebab ini mengingatkannya pada Kwee Ceng dan Bocah Tua Nakal yang mengangkat saudara padahal beda generasi (PPR Episode 25). Sesat Timur mengaku sudah pernah bertemu ayahYo Ko, tapi ketika Yo Ko bertanya seperti apa sifat ayahnya. Oey Yok Su menjawab itu masa lalu yang tidak usah dibicarakan lagi.

Yo ko makin penasaran, ia mencoba mengorek keterangan dari Sa Kouw. Ia menakut-nakuti Sa Kouw dengan berkata “Aku kakak Yo.. beritahu siapa pembunuhku!!”. Kata Sa Kouw “Bibi menyuruhku bicara, tapi Kakak Yo tak mau aku bicara, ia pukul Bibi dan ia mati”. Yo Ko tak tahu yang dimaksud Sa Kouw dengan “Bibi”.. yang ia tangkap hanya banyak burung gagak saat ayahnya mati.

Bibi Lung sakit berat dan ingin bunuh diri karena memikirkan Yo Ko, ditolong oleh Penguasa Lembah Putus Cinta, Kongsun Tit. Bibi yang polos menceritakan masalahnya, Kongsun Tit menganjurkannya memutuskan semua perasaan cinta dan hidup tenang di Lembah Putus Cinta yang indah.

Li Mo Chou memulihkan kondisi di sebuah gubuk dan menyebar kertas-kertas bertulisan “Sesat Timur tak tahu malu, 5 orang lawan 1”.  Oey Yok Su mendadak teringat muridnya, kalau 4 muridnya masih ada Li Mo Chou tak akan selamat.  Ia urung menyerang Li Mo Chou.

Oey Yok Su mengobati Yo Ko, ternyata tenaga dalam Yo Ko amat hebat, sampai Li Mo Chou yang mendengar teriakannya mengira itu Oey Yok Su. Kata Oey Yok Su, tenaga dalam Yo Ko tinggi karena ranjang es batu giok dan ilmu Hati Gadis Suci, sayang Yo Ko belum dapat memanfaatkannya. Oey Yok Su mengajar Yo Ko jurus menghadapi Li Mo Chou termasuk sentilan mautnya. Sebelum pergi ia berkata “Kalau ada yang menentang pernikahanmu lagi, bilang padaku, jangan pedulikan Kwee Ceng dan Oey Yong” (Catatan : dalam novelnya, Oey Yok Su menganggap Yo Ko adalah muridnya jika memakai jurusnya untuk mengalahkan Li Mo Chou, selain itu mereka hanya sahabat. Ia tak sudi lagi melawan Li Mo Chou yang ilmunya jauh di bawah dia)

Yo Ko ingin pergi meninggalkan Liok Bu Song dan Thia Eng untuk mencari Bibinya, tapi ia bingung mengutarakannya karena tak mau menyakiti keduanya dengan perpisahan.  Thia Eng mengerti, ia membuatkan Yo Ko baju hasil jahitannya. Li Mo Chou meninggalkan 4 tapak darah yang berarti ia akan membunuh mereka bertiga dan Sa Kouw. Sa Kouw kena pukul tapak Li Mo Chou, tapi Yo Ko berhasil menyembuhkannya atas petunjuk Kitab 5 Racun. Saat Sa Kouw memegang gunting Yo Ko mendapat ide menghadapi kemoceng Li Mo Chou dengan gunting. Mereka pun mencari pandai besi yang bisa membuat gunting besar.  Namun Li Mo Chou tiba sebelum senjata dibuat. Pandai besi melihat kertas yang disebarkan Li Mo Chou tentang hinaan terhadap Oey Yok Su, ia membakarnya. Li Mo Chou heran orang biasa bisa seberani itu.  Pandai besi itu berkata, isi kertas itu salah, karena semua murid Oey Yok Su hebat. Namun semua dibantah Li Mo Chou. Katanya, murid ke-1 sudah mati dibunuh anak kecil (Catatan: Ia suami Bwee Tiau Hong yang ditusuk belati Kwee Ceng, lihat PPR). Murid ke-2, Bwee Tiauw Hong matanya dibutakan 7 Manusia Aneh dan organnya dirusak Racun Barat (PPR Eps 35) Murid ke-3 Qu Ling Feng, kabarnya dibunuh prajurit istana karena mencuri perhiasan untuk gurunya (Ia adalah ayah Sa Kouw, yang lorong rahasia di rumahnya dipakai Kwee Ceng dan Oey Yong menyembuhkan diri, PPR Eps 32-33). Murid ke-4, Pendekar Luk tak jelas rimbanya, walaupun mahir dalam formasi, tapi kediamannya habis terbakar, mungkin sudah mati terbakar. (Saat Racun Barat dijebak Oey Yong belajar kitab 9 Yin di Kediaman Keluarga Luk, ia kesal dan membakar seisi rumah, PPR Eps 46).

Episode 15

Si pandai besi tenyata adalah Feng Mo Feng, murid terakhir Oey Yok Su sebelum Thia Eng. Thia Eng berkata Oey Yok Su sangat menyesal mematahkan kaki Feng, juga merindukannya. Feng mengaku jarang memakai ilmu silatnya, tapi mendengar gurunya dihina, ia membakar kruk (alat bantu jalan) dan perkakasnya. Li Mo Chou mentertawakan, mengira ia sudah gila. Feng maju melawan, ternyata kruk dan perkakas itu menjadi logam membara yang merupakan senjata ampuh untuk melawan kemoceng Li. Walau ilmunya tinggi, tapi pembawaan Feng tidak kejam dan jarang bertanding, maka ia tak menang mudah. Melihat ini Yo Ko mengompori “Li Mo Chou, kenapa kau bilang Oey Yok Su hina, tukang rebut istri orang, apa kamu lihat sendiri?”, dan seterusnya, semuanya karangan Yo Ko belaka, tapi kata-kata itu sukses memompa serangan Feng karena marah gurunya dihina. Kemoceng Li Mo Chou terbakar hingga ia berganti jurus  Tapak Lima Racun,  namun saat itu baju-nya sudah sobek terbakar di sana-sini. Feng tak mau meneruskan dan Li Mo Chou pun malu. Yo Ko melemparkan jubah bikinan Thia Eng yang dipakainya untuk menutupi tubuh Li. Di dalam jubah itu ia masih mengenakan baju bikinan Bibi Lung, membuat Thia Eng sedikit sedih. Kata Yo Ko sebenarnya ia bisa mengalahkan Li, tak perlu Sesat Timur turun tangan. Iapun membeberkan teori yang diberikan Oey Yok Su untuk mengalahkan jurus Li Mo Chou. Mendengar pembeberan yang masuk akal itu Li Mo Chou mengira Yo Ko benar-benar dapat mengalahkannya, hanya tak mau melawan karena mereka masih saudara seperguruan. Padahal, Yo Ko hanya menggertak agar Li pergi. Walau ia sudah tahu teorinya, ia belum pernah mempraktekkannya.

Pasukan Mongol siap menuju Siangyang. Feng Mo Feng mengajak Yo Ko maju melawan Mongol, tapi Yo Ko menolak, katanya tentara Mongol banyak dan hebat, satu orang seperti dia tak ada gunanya, lagipula ia ingin mencari Bibi-nya. (Catatan : Berbeda dengan Kwee Ceng yang patriotik, walau Yo Ko juga tak suka kejamnya orang Mongol membantai Song,  saat ini ia menganggap raja Song juga bukan orang baik, maka ia tak mau menghabiskan tenaganya). Mereka berpisah, Feng ingin menyusup ke tentara Mongol untuk membunuh pasukan mereka sebanyak yang ia bisa.

Sa Kouw masih menderita demam pemulihan dari tapak racun Li Mo Chou. Dalam demamnya ia meracau lagi, mengira Yo Ko adalah Yo Kang. Katanya “Gagak memakan bangkaimu.. Bibi punya racun, maka kamu mati”. Yo Ko memanfaatkan ini untuk mengorek nama pembunuh ayahnya. Ia tahu itu orang Pulau Persik, Sa Kouw menyebut Bibi, dikiranya salah satu murid Oey Yok Su. Alangkah terkejutnya ia saat Sa Kouw berkata “Bibi memanggil kakek ‘ayah'”, artinya Bibi yang disebut memanggil Oey Yok Su ‘ayah’. Takut salah, Yo Ko bertanya lagi “suami Bibi adalah Kwee Ceng?” Kata Sa Kouw “Tak tahu, tapi Bibi panggil dia Kakak Ceng”.  Seketika Yo Ko marah dan bingung, ia pergi meninggalkan mereka semua, dalam pikirannya semua tindakan berbeda yang diterimanya selama ini adalah karena Oey Yong dan Kwee Ceng ingin menutupi kesalahan mereka membunuh ayahnya.

Dalam perjalanannya ia melihat Dhalpa dan mengikutinya ke tempat Hakim Roda Mas yang masih memulihkan diri akibat pertempuran lalu. Yo Ko menyesal membantu Oey Yong, ia tahu kungfunya tak cukup tinggi untuk balas dendam, hingga ia mengutarakan apa yang dialaminya pada Hakim Roda Mas. Hakim Roda Mas berkata, kalau Yo Ko membantunya merebut gelar Pemimpin Pendekar, maka ia akan membantu Yo Ko membunuh Kwee Ceng.  Yo Ko menegaskan kesepakatan sampai di situ saja, ia tak berniat membantu Mongol. Tapi Hakim Roda Mas tetap mengajak Yo Ko ke kemah Mongolia dan memperkenalkannya pada pangeran Kublai Khan, cucu Jengish Khan/putra Tolui. Sementara di kediaman Kwee Ceng, para pendekar siap maju ke Siangyang karena pasukan Mongol telah menuju kesana.

Di Lembah Putus Cinta, Kongsun Tit berusaha membuat Bibi Lung tersenyum. Ia tahu Bibi Lung suka keindahan alam dan binatang. Dalam ruangan ia menunjukkan pohon yang dibiarkan tak ditebang, agar burung-burung hinggap di dahannya. Siasat ini berhasil, Bibi Lung tersenyum bahagia saat seekor burung hinggap jinak di tangannya. Namun ia kembali menangis mengingat saat mengajarkan Yo Ko menangkap burung dalam latihan silat. Kongsun Tit berkata satu cara melupakan kesedihan itu ialah menikah dengan orang lain. Bibi Lung memikirkan mungkin ada benarnya; bila aku menikah, Yo Ko tak bisa berbuat apa-apa dan akan pergi meninggalkanku. Ia tak sadar maksud Kongsun Tit, dengan polos ia berkata, ia akan meninggalkan lembah untuk mencari orang yang mau menikah dengannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: