To Liong To 2003 (Alec Su, Alyssa Chia, Gao Yuanyuan)

Alur cerita,

Kekuatan cerita To Liong To adalah unsur misteri dan suspensenya. Tetapi alur cerita versi 2003 ini malahan gamblang memperlihatkan siapa sebenarnya para pelaku kejahatan, yang justru di novel dan versi lainnya merupakan unsur misteri. Seng Kun, si biang kerok yang seharusnya misterius, diperlihatkan tertawa jahat menghadap kamera sejak awal melancarkan aksinya.  Ulah Ciu Cie Jiak yang seharusnya merupakan kejutan juga diungkapkan gamblang berikut omongan dalam hati dan muka jahat yang sungguh membikin saya il-feel. Seperti menonton sinetron Indonesia yang tak membiarkan penontonnya mikir, semua diceritakan.

Beberapa urutan adegan yang dibolak-balik dari novel aslinya malah kehilangan logikanya. Seperti Thio Bu Ki yang sudah menemukan kitab 9 Yang dan ilmunya hebat tapi masih kalah kena ditipu keluarga Chu yang ilmunya tak ada apa-apanya. Padahal seharusnya Thio Bu Ki masuk jurang saat dikejar keluarga Chu dan menemukan Kitab. Masih banyak lagi logika wuxia yang tidak masuk akal karena adegan-adegan tambahan.

Cerita tambahan tentang Tio Beng yang dinikah paksa sungguh sangat berbau sinetron dan dibuat-buat. Sebetulnya, alur cerita memang tidak harus sesuai novel, improvisasi oke saja asal itu  menguatkan karakter dan konsisten sesuai logika. Tapi disini penambahan justru membosankan dan melemahkan alur.

Namun, sudut pandang yang serba tahu ini ada sedikit sisi bagusnya karena beberapa hal yang di novel hanya diceritakan lewat mulut,  di versi ini dijabarkan dalam adegan.  2.5/5 untuk alur/plot

Penokohan dan akting.

Alec Su bersama pemeran Ciu Cie Jiak, Tio Beng, Siao Ciao dan In So So. Pemeran-pemeran wanita yang tak sekedar cantik tetapi aktingnya cukup lumayan, adalah penyelamat versi 2003 ini

Selain Tio Beng, tokoh-tokoh yang diperankan cukup baik adalah In So So,  Siao Ciao, In Lee.  Phyllis Quek sebagai In So So lebih memorable daripada versi 2009. Perempuan cerdas tegas sedikit kejam namun keibuan, tergambar dengan baik.  Awalnya saya ragu melihat Florence Tan sebagai Siao Ciao, ia cantik,  tetapi rasanya tidak cukup untuk Siao Ciao yang dilukiskan dalam novel memiliki kecantikannya campuran Persia dan Cina dan paling cantik di antara cewek-cewek Bu Ki lainnya. Namun akting dia sangat baik dan chemistry dengan Thio Bu Ki juga sangat bagus. Chen Zihan sebagai In Lee, cukup menyedihkan sesuai karakternya.

Thio Bu Ki kecil, walau secara umur agak ketuaan, tapi aktingnya sangat jauh lebih baik daripada kebanyakan tokoh-tokoh pria dewasa di sini.  Semua penokohan yang kurang memuaskan justru pada tokoh pendekar kharismatik atau penjahat hebat yang seharusnya membikin kita ngeri. Di sini  sama sekali tidak terasa ‘greget’nya.  Tetua Tapak Es/Xuanming, yang harusnya 2 kakek sakti berilmu tinggi, gak ada serem-serem saktinya dan malah tampak muda dan konyol. Peran tokoh-tokoh Sekte Ming seperti Elang Alis Putih yang kungfunya tinggi, Hoan Yauw yang selagi mudanya dijuluki dewa dan sangat tampan namun mencoreng wajah,  malah terkesan asal. Yang lumayan Kelelawar Hijau . Namun porsi adegannya banyak dikurangi. Kelelawar Hijau dan Yo Siauw malah tak ikut di adegan inti di Shaolin. Seng Kun sangat muda, padahal ia kan guru Singa Emas yang sudah 70 tahun, aktingnya pun sinetron banget. Pendekar-pendekar Butong juga tidak lengkap, Ji Tay Giam sang korban cacat yang harusnya tegar malah dibuat cengeng. Ada pula adegan tambahan In Li Heng mengusir Put Hui.. sangat melemahkan karakter pendekar In Li Heng. Pokoknya akting-akting yang melibatkan kegagahan pendekar yang bikin merinding atau keangkeran penjahat yang bikin ngeri, sama sekali gak masuk di sini.  Nilai 3/5

Tata artistik dan sinematografi

Bisa dibilang ini terburuk, karena sebagai produksi tahun 2003 harusnya bisa memberikan kelebihan signifikan dibanding produksi 70-80-90an. Syuting di Cina sama sekali tidak memanfaatkan pemandangan Cina yang bagus. Pemilihan tempat-tempat sangat seadanya. Kostum lumayan baik, tetapi make up sangat buruk. Lihat Ciu Cie Jiak dan Tetua tapak Es yang hancur banget. Banyak pemeran wanita terlihat lebih cantik saat menyamar jadi pria tanpa make up, ini bukti kelemahan kru make up. Pernikahan Ciu Cie Jiak- Thio Bu Ki yang seharusnya dihadiri banyak sekali orang dunia persilatan, malah seadanya 20 orang.  Terkesan malas-malasan membuat setting yang sedikit lebih ‘wah’ dan terkesan pertemuan pendekar sungguhan. Kalah jauh dengan produk-produk tahun 70-80an yang walaupun masih terbatas segi teknologi dan syuting di studio tapi masih kelihatan ada usaha membuat tata artistik yang mendukung cerita.  Nilai 2/5

Soundtrack 2.5/5

Ada 2 tipe soundtrack yang ditujukan untuk penonton Taiwan dan Cina. Versi yang ditayangkan di Indonesia adalah Taiwan. Apakah soundtracknya enak didengar? Ya, enak. Apakah cocok dengan nuansa wuxia? tidak. Hanya seperti lagu pop biasa yang dinyanyikan Alec Su, tidak ada nuansa pendekar. Untuk versi Cina masih lebih mendingan dan kerasa elemen wuxia-nya, ini pula yang dipakai untuk insert song di beberapa adegan.

Aspek wuxia 1/5

Inilah To Liong To dengan aspek wuxia terburuk! Adegan-adegan silat yang seharusnya seru mencekam, digarap sangat seadanya. Tidak jelas siapa memukul siapa, banyak  ledakan, asap, debu, sinar-sinar, dan…. tahu-tahu selesai!  Beberapa adegan yang harusnya dinanti-nanti seperti pertandingan pendekar-pendekar gagah dari Sekte Ming dengan keahlian uniknya, bertanding dengan 3 Biksu Penjaga, malah sama sekali dihilangkan! Diganti dengan adegan Singa Emas melarang mereka bertempur, dan batal. What? apa-apaan ini? Hehehe…

Adegan perang dan perundingan dengan 3 Utusan Persia juga terkesan main-main.  Karena malas membuat adegan pertempuran antar kapal, malah diganti dengan tenda dan banyak mengabaikan logika.  Dampaknya, perpisahan Thio Bu Ki dan Siao Ciao yang seharusnya mencekam dan sedih karena rombongan Persia memakai kapal dan berlayar menjauh meninggalkan Bu Ki, malah tidak ada. Ilmu Gada Api Suci yang merupakan bagian terakhir ilmu Membalikkan Langit dan Bumi yang diterjemahkan Siao Ciao dari bahasa Persia untuk Bu Ki, sama sekali tidak disinggung.

Yang lebih ngaco belo,  di sini Song Ceng Su menguasai 18 Tapak  Naga! Sebetulnya melenceng dari novel tak apa, tapi kalaupun melenceng jangan mengabaikan logika wuxia.  Bagaimana tidak, di novelnya, 18 Tapak Naga adalah ilmu andalan Kwee Ceng yang sangat butuh tenaga dalam tingkat tinggi, bahkan Thio Sam Hong – kakek guru Song Ceng Su- mengakui tenaga dalam Kwee Ceng masih di atasnya. Nah bagaimana pula Song Ceng Su malah bisa nguasain 18 Tapak Naga, mati pula di tangan Cie Jiak yang cuma punya ilmu cakar tengkorak? Sungguh penghinaan terhadap Kwee Ceng nih, ketauan produsernya emang gak suka wuxia dan hanya senang drama ala sinetron… heheheh… lagian,  masa anggota Partai Pengemis yang notabene leluhurnya menguasai ilmu itu tidak ‘ngeh’? 

Peperangan? Jangan harap ada adegan peperangan. Dalam dunia Versi 2003 ini, semuanya seperti bohong-bohongan. Dahsyatnya Sekte Ming yang punya banyak anggota dan tokoh-tokoh unik dan gagah, tidak berusaha ditampilkan. Mungkin malas mencari pemeran figuran tambahan. Pasukan Mongol yang mengepung Bu Ki cuma beberapa orang dan panah-panahnya keliatan karet. Tio Beng berapa kali mengancam bunuh diri saat Bu Ki dikepung pasukan, adegan berulang yang terkesan murahan. Pasukan cuma sedikit dan seadanya gitu, gak usah pake Tio Beng ngancam juga gampang banget kalau Bu Ki mau mengalahkan.

Sangat memalukan dan mengecewakan untuk produksi tahun 2003. Saya bersyukur HSDS 2003 ini adalah karya wuxia pertama dan terakhir dari produser Luo Li Ping,  selanjutnya ia hanya menggarap drama. Bagus deh, daripada bikin malu, nanti dikiranya wuxia adalah sinetron. Hehehhe

42 responses to this post.

  1. Posted by penyuka trilogi on May 14, 2012 at 1:43 am

    setuju banget…. cerita bagus dibikin murahan.

    Reply

  2. Setujuu.:D

    Reply

  3. Ini Apop jie yang bikin review, ya?

    Setuju banget! Di TLT 2003, adegan pertarungannya nggak banget deh. Cuma, *bling* *bling* *duar* *woosh* dan akhirnya… pertarungan selesai. -___-”
    Urusan make up, setuju. Paling ga suka make-up nya Zhou Zhiruo. Make-up nya Yin Li juga kadang-kadang kelihatan aneh (eyeshadow-nya warna biru .-.)
    Yin Susu emang lumayan di versi ini. Yang waktu sebelum dia bunuh diri… Melihat sekeliling dengan mata merah berkaca-kaca dan ekspresi yang entah-apa-itu-namanya… ><

    Reply

    • Iya Karin…. makasih udah mampir!! Soal make up ada yg lucu lagi tuh si Nenek Bunga Emas pas ‘topeng’nya dibuka, di dalemnya make up nya tebel banget….hihihi.. Yup, ane juga inget tuh ekspresi mata ‘nanar’ In So So..

      Reply

  4. Posted by indraceli on May 14, 2012 at 12:54 pm

    kalo menurutku to liong to versi 2003 memang agak keluar rel, seperti pertama kali buki belajar ilmu 9 yang itu setelah ditipu cewek , kalo di 2003 belajarnya sebelum di tipu cewek, song seng su mati di bunuh oleh tio sam hong karna berkhianat di 2003 mati karna membela ayahnya, dan masih banyak cerita yang keluar dari rel wuxia, tapi ending ost 2003 bagus juga lagunya galau

    Reply

    • Iya betul, di bukunya, Song Ceng Su hanya cacat. Dan pas dibawa pulang ke Butong, Thio Sam Hong membunuhnya dengan 2 alasan: 1) Tidak tega melihatnya jadi seperti mayat hidup saja, cacat dan tak bisa banyak berbuat baik untuk menebus dosa. 2)Sudah besar dosanya karena berapa kali mencoba membunuh ayah dan paman-paman gurunya…. Indraceli suka yang galau-galau ya… hehehe. Makasih ya udah mampir ke blog ingi

      Reply

      • Posted by aster setyowati on May 16, 2012 at 1:30 pm

        bener…. di versi bioskop song ceng su jg di bunuh thio sam hong

  5. Posted by qwerty on May 15, 2012 at 3:16 am

    ada yang punya srt indo tlt 2009?

    Reply

  6. aq juga heran waktu liat saat dah di shaolin,kok g ada adegan pertempuran antara anggota sekte ming dgn 3 biksu shaolin,malah langsung ke pertemuan pendekar, elang alis putih juga masinh nongol padahal harusnya kan dah mati….

    asli versi 2003 ini alurnya sperti sinetron…untung aja pemain2nya terkenal smua…

    Reply

    • Yup, untung Tio Beng dan Thio Bu Ki nya masih lebih bagus daripada versi 1994🙂

      Reply

    • Posted by aster setyowati on May 16, 2012 at 1:32 pm

      in li jg hrsnya bnr2 mati, trus bu ki taunya dr singa emas melalui indra keenamnya yg di ukir di dlm gua, bhw si ciu ci jiak yg trnyt pembunuh benerannya bukan tio beng

      Reply

      • Kalo In Lee idup lagi emang itu ada di revisi novel oleh pengarangnya, tapi aku pribadi juga suka novel edisi lama yang dituangkan dalam versi 86. Edisi baru malah aneh….. Setuju, emang lebih seru pas Bu Ki tahu itu lewat gambar yang diukir Singa Emas….

  7. Posted by Intan Yong ji on May 16, 2012 at 9:42 am

    tapi dibanding dg hsds versi 2009,,aq lbh suka ending nya hsds 2003,,endingnya jelas dan g ngegantung,,trus nasibnya In Lee tau Cu jie juga g terlalu tragis,,g seperti yg digambarkan di novel,,akhirnya dia kembali ke diterima sama ayahnya,dan mulai kehidupan yg baru,,kalo di novel dan dan hsds 2009 kan,,akhirnya Cu jie itu jadi rada kurang waras,,gara2 dikubur hidup2 trus bingung antara Ca agu dan Thio bukie,,

    Reply

    • Setuju… Ending HSDS 2003 masih lebih enak. Tapi kalo boleh milih aku paling suka ending 1986, walau masih nurut edisi lama yang Cu Jie memang betulan mati, menurutku malah lebih masuk akal gitu… gak ada acara idup lagi

      Reply

  8. Posted by JKR on May 16, 2012 at 2:34 pm

    setuju gan tapi versi 2003 pemain nya paling bagus menurut saya haha

    Reply

  9. sama satu lagi,kemarin endingnya eggk bgt,mosok tiba2 udah di pulau es da api,maksa bgt. Tapi ttp suka ma film jaman gw SD.

    Reply

  10. Posted by Sapna on May 19, 2012 at 2:56 pm

    Bicara ending, versi 2000 jg bgs coz penghianatan cu goan ciang ditampilkan.

    Utk 2003 sepakat akting aktor aktrisnya jd pnyelamatnya.

    Reply

    • Posted by qwerty on May 22, 2012 at 1:38 pm

      setubuh gan

      Reply

      • setuju… walau sebenernya aku lebih sreg kalo chu goan chiang itu tidak dijadikan tokoh yang berkhianat. Dia kan tokoh nyata, kaisar pertama Dinasti ming. Secara kapabilitas dan minat jadi pemimpin kan dia memang melebihi Tio Bu Ki.

        Aku malah lebih sreg improvisasi di versi 86, di mana Chu GOan Cang emang gak sreg ama Bu Ki yang jadian ama Tio Beng, jadi mau menyerang mongol pun kurang manteb karena istrinya orang Mongol. Secara itu saja sudah sepantasnya Bu Ki gak rakus ambil jabatan, gak perlu tunggu dikhianati dia udah harus tahu diri dan menyerahkan kepada yang lebih adil dan obyektif
        seperti Chu Goan Chang tidak terbawa perasaan seperti Bu Ki

  11. Posted by Next l on May 22, 2012 at 7:48 am

    kalo aku jg agak kecewa dgn versi 2003,soal nya pas Bu ki mw nyelamatin ayah angkatnya kan Bu ki nglawan 3 biksu dgn ilmu sesat jg di versi 2000,, jg pemeran lain nya kurang banyak , ter utama saat Bu ki mw menikah dgn ciu ci jiak, tapi yg aku suka endingnya,lagunya,&pemeran nya yg bagus cukup untuk nyelametin versi 2003 ini yg garapan film nya terlalu sederhana,terlalu mengandalkan seadanya, gk mw usaha supaya film nya tu jd bagus, ya harap maklum itu sutradaranya belum standardt internasional kali ya,,,,,, hehehehehehe.

    Reply

    • Posted by qwerty on May 23, 2012 at 12:17 am

      visualnya mungkin harus panggil orang indonesia gan!!!!!!!

      Reply

      • Posted by GPT on May 23, 2012 at 7:10 am

        ya, mungkin gitu,, hahahahahaha

      • hahaha…bener tuh, panggil orang indonesia tapi yang bikin film2 bagus ya. orang indonesia pinter2 kok, banyak animator orang indonesia. tapi jangan manggil yang bikin tutur tinular ya

  12. Posted by riko on May 23, 2012 at 2:29 am

    iya nehh krang gregetnya……….

    Reply

  13. Posted by alexander aja on June 5, 2012 at 4:09 pm

    ada juga TLT versi 2012

    Reply

  14. iya sih emang versi TLT 2003 pemainnya bagus2 tapi banyak adegan yang dahsyat dihilangkan dan banyak disingkat,padahal thn 2003 teknologinya lebih canggih dr pada thn 70-80an

    Reply

  15. Posted by Tince wati on July 13, 2012 at 8:21 am

    coba ya indonesia yang bikin sendiri,jangan suka kritik lu kalo sirikan,daripada sinetron kita yang cenderung tampilin berlebihan

    Reply

  16. Posted by Tince wati on July 13, 2012 at 8:23 am

    orang sirikan jangan suka kritik berlebihan kalo filmnya ga ada yang suka.sirik lu semua…bikin film beep aja tuh,sono.dasar ga masuk hollywood tuh film lokal heheh

    Reply

    • maksudnya apa toh mbak…gak nyambung. namanya juga analisa di blog sendiri, diskusi bareng dan bebas berpendapat.. lah kenapa situ malah ngata2in orang sirik? ga’ jelas dweh…:)

      Reply

  17. Posted by hendri on September 1, 2012 at 1:38 am

    HSDS versi 2003 emang mirip banget sinetron. banyak adegan tambahan yang gak penting.kisah percintaan penasehat Yang, kisah perjodohannya Zhao min, trus pemilihan pemeran penasehat Yang sama sekali kacau (padahal penasehat Yang digambarkan cakep dan berwibawa), tapi disini digambarkan pendendam, karena menyerang aliran Emei untuk balas dendam),..setuju kalo versi 2003 ini diselamatkan oleh aktingnya Alyssa..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: